
...༻☆༺...
Elsa baru saja selesai makan. Ia kembali ke kamar sebentar. Tidak disangka rasa mual itu belum juga reda. Menandakan kalau apa yang dirasakan Elsa bukanlah penyakit mag.
Dengan langkah cepat, Elsa pergi keluar rumah. Dari pada mati penasaran, dia akhirnya membeli alat tespek ke apotek.
Setelah selesai membeli tespek, Elsa langsung pulang ke rumah. Dia melakukan tes di kamar mandi pribadinya.
Mata Elsa terpejam saat menunggu hasil dari tespek. Berharap apa yang dirinya duga tidak terjadi.
Elsa membuang nafas dari mulut. Lalu perlahan membuka mata. Jantungnya langsung berdegub kencang ketika menyaksikan ada dua garis yang terpampang di tespek.
"Nggak!" Elsa masih menolak percaya. Dia memutuskan melakukan tes lagi. Kebetulan Elsa sengaja membeli tespek sekitar tiga buah.
Ternyata tes kedua juga menghasilkan dua garis. Bahkan untuk tes ketiga. Sekarang Elsa tidak bisa membantah. Dia terduduk di lantai kamar mandi sambil menangis tersedu-sedu. Sesal, hanya ada penyesalan yang dirasakannya.
Di sela-sela tangisnya, Elsa sesekali muntah. Ia benar-benar berusaha meredam suara mualnya agar tidak terdengar keluar. Demi hal tersebut, Elsa tidak pernah absen menyalakan keran air. Sehingga suara percikan air menyamarkan suara yang ada di dalam kamar mandi.
Elsa menatap nanar pantulan dirinya di cermin. Dia membekap mulut dan kembali terisak. Keinginan untuk menggugurkan janin dalam perutnya langsung terlintas.
Selepas puas meratap, Elsa keluar dari kamar mandi. Dia duduk di ujung kasur dengan perasaan kalut.
Brak!
Pintu mendadak terbuka. Sosok Vina yang sudah agak kurusan masuk. Mimik wajahnya terlihat marah.
"Sekarang aku tahu kenapa Kak Raffi cinta mati sama Kakak!" tukas Vina.
Elsa hanya terdiam. Mendongak ke arah Vina yang berdiri di hadapan.
"Kakak jual diri kan? Pantesan." Vina memutar bola mata remeh.
"Apaan sih, Vin? Lo kenapa gitu ngomongnya?" Elsa mengernyitkan kening. Ia tak mengerti.
"Aku udah lihat semuanya. Gimana aku nggak ngomong gini coba?" Kemarahan Vina justru bertambah. "Kakak tega! Aku yakin Kak Elsa yang hancurin kepribadian Kak Raffi! Aku tahu Kak Elsa itu bodohnya kayak apa! Kak Elsa murahan!" geramnya. Kemudian melingus pergi sebelum Elsa sempat menjawab.
__ADS_1
Tangisan Elsa akhirnya kembali. Dia menutup wajahnya dengan perasaan hancur. Jujur saja, Elsa tidak bisa menepis semua perkataan Vina. Entah kenapa dia merasa Vina ada benarnya. Elsa menyalahkan dirinya sendiri.
Elsa meringkuk di kasur. Memeluk selimut sambil berderai air mata. Dia mengambil ponsel dan mencari berbagai cara untuk menggugurkan kandungan. Tidak ada keraguan dalam diri Elsa. Ia hanya memikirkan tentang masa depannya dan juga Raffi.
Satu malam berlalu. Elsa memutuskan tidak bersekolah karena alasan sakit. Dia mengurung diri di dalam kamar. Sibuk menulis daftar cara menggugurkan kandungan ke dalam buku.
Tok...
Tok...
Tok...
Pintu terdengar diketuk. Risna mengajak Elsa untuk makan. Namun Elsa menolak.
"Ayolah, El. Tante nggak akan pergi dari depan kamarmu kalau kamu nggak makan." Risna memaksa. Membuat Elsa akhirnya menurut saja.
Dengan langkah berat Elsa beranjak ke dapur. Lalu ikut bergabung ke meja makan. Kebetulan semua orang ada di sana untuk sarapan. Dari mulai Fajar, Vina bahkan Virza.
Risna menyuguhkan nasi goreng dan telur mata sapi sebagai hidangan sarapan. Khusus untuk Elsa, dia membuatkan bubur ayam.
"Anak zaman sekarang memang menakutkan, Pah." Risna baru duduk ke kursi. Dia menanggapi ucapan suaminya. "Papah tahu anak Pak Ali yang tinggal di komplek sebelah? Nah itu anaknya hamil di luar nikah. Terus parahnya ya Pah, laki-laki yang hamilin dia nggak mau tanggung jawab. Kasihan banget nggak sih? Sekarang anaknya Pak Ali itu dinikahkan sama anak pembantunya sendiri. Bayangin, Pah. Mana mau laki-laki mapan sudi nikahin wanita yang hamil duluan?" Risna bercerita panjang lebar.
Elsa tertohok habis-habisan. Tiba-tiba dia tidak memiliki keinginan untuk menyuap makanan. Elsa hanya ingin kembali ke kamar.
"Paman, Tante... aku ke kamar dulu. Kepalaku pusing banget." Elsa bangkit dari tempat duduk.
"Eh jangan dulu, El. Kamu harus minum obat. Kalau semakin nggak enak bilang ya. Nanti biar kita bawa ke rumah sakit atau klinik," ujar Risna sembari mengambil kotak berisi obat dari laci lemari.
Elsa menerima obat pemberian Risna. Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih. "Aku minumnya di kamar aja," ucapnya. Lalu segera pergi ke kamar.
Pintu kamar ditutup oleh Elsa. Dia bergegas mengambil buku yang tadi sudah berisi catatannya.
"Elsa!" suara Raffi terdengar memanggil dari luar. Elsa lantas berlari ke depan jendela. Dia menyaksikan Raffi berdiri menghadap kamarnya.
"Lo beneran sakit?" tanya Raffi yang cemas.
__ADS_1
"Iya, cuman nggak enak badan aja. Kenapa? Takut latihan basket lo nggak lancar ya?" tukas Elsa. "Kalau gue nggak ada, lo pasti bakalan hampa sih," tambahnya bermaksud bercanda.
"Parah, hampa banget." Raffi tersenyum simpul. Dia lanjut berkata, "Lo udah minum obat?"
"Udah, Tante sama Paman gue perhatian banget kalau gue sakit. Berangkat gih! Nanti lo telat." Elsa memaksa Raffi pergi.
"Idih! Awas aja kalau kangen." Raffi tersenyum dan melenggang menuju mobil.
Elsa hanya terkekeh ketika mendengar kalimat terakhir Raffi. Kini dia terpaku menatap punggung Raffi yang sudah menghilang ditelan pintu mobil.
'Raffi nggak boleh tahu. Gue nggak mau dia khawatir...' Elsa bertekad merahasiakan kehamilannya dari semua orang. Termasuk ayah dari cabang bayinya sendiri.
...***...
Jika Elsa disibukkan dengan masalah kehamilan, maka Gamal sedang dirundung perasaan sakit hati. Setelah mendengar keputusan Zara, dia mendadak cemas.
Gamal sekarang berhenti di depan panti asuhan tempat Zara tinggal. Kebetulan dia tidak sendiri. Ada Pak Drajat yang menyetir mobil sebagai sopir pribadi. Afrijal benar-benar memberikan hukuman keras kepada Gamal. Bahkan hari itu Gamal hanya diberi uang jajan sebesar seratus ribu rupiah. Padahal biasanya setiap hari dia membawa uang ke sekolah lebih dari lima ratus ribu rupiah.
"Nggak langsung ke sekolah, Den?" tanya Pak Drajat yang terheran.
"Diam lo! Kalau mau sekolah, lo aja yang duluan ke sekolah!" geram Gamal seraya turun dari mobil. Dia melampiaskan kekesalan kepada Pak Drajat. Dirinya bahkan membuang sopan santunnya terhadap lelaki paruh baya itu. Selanjutnya, Gamal melangkah memasuki lingkungan panti asuhan.
Gamal bertemu dengan Wida. Wanita penjaga panti itu mempersilahkannya duduk menunggu. Sementara dia akan memanggilkan Zara.
Sama seperti Elsa. Zara juga tidak berminat pergi ke sekolah. Dia merasa tidak bersemangat melakukan apapun. Zara masih rebahan di kasur dalam keadaan mata terbuka.
"Zara? Ada teman kamu itu loh. Dia nyari kamu..." ucap Wida sambil melangkah masuk ke kamar.
"Zara..." panggil Wida lirih. Dia sedih melihat Zara tampak sangat muram. Apalagi sejak kemarin Zara belum juga makan.
"Dia dari tadi diam terus, Bi. Biarin aja! Mati aja sekalian. Nggak tahu kalau orang-orang pada khawatir." Teman satu kamar Zara menggerutu. Namanya adalah Yeni. Hampir sama nakalnya dengan Zara. Kebetulan dia juga masih bersekolah.
"Zara!" Gamal tiba-tiba datang. Dia ternyata diam-diam mengikuti Wida. Cowok itu kini berdiri di depan pintu.
Zara yang tadinya telentang dengan lesu, langsung merubah posisi menjadi duduk. Dia tidak percaya Gamal mau datang ke panti untuk menemuinya.
__ADS_1