
...༻☆༺...
"Lo mau ngomong apa sih?" tanya Raffi sembari mengerutkan dahi.
Grab!
Zara mendadak memeluk erat tubuh Raffi. Cewek itu memejamkan mata seolah sudah menemukan tempat ternyaman. Sedangkan Raffi tidak tahu harus berbuat apa. Jika ada yang memergokinya berduaan dengan Zara, gawat sudah. Kemungkinan mereka akan dianggap berbuat mesum di lingkungan sekolah.
"Ra, lo kenapa sih?" Raffi mencoba melepas pelukan Zara. Akan tetapi pelukan dari gadis itu justru semakin erat.
"Gue hari ini lagi banyak masalah. Bisa nggak lo diam aja pas dipeluk..." ujar Zara.
"Lo mau minta tolong apa sih, sama gue? Sampai kirim gue kado tanpa nama dua kali." Raffi menyimpulkan kalau kado misterius yang diterimanya merupakan kado pemberian Zara.
"Kado?" Zara mengernyitkan kening. Sebab dia tidak pernah sama sekali mengirimkan kado untuk Raffi. Mengambil hati lewat sebuah hadiah bukanlah gaya Zara.
"Emang kado itu bukan dari lo?" tanya Raffi. Sekali lagi dia berusaha melepas dekapan Zara. Usahanya kali ini membuahkan hasil.
Zara berpikir sejenak. Lalu segera berucap, "Kadonya emang dari gue kok." Dia tentu berbohong.
"Terus, lo ingat nggak isinya apa?" Raffi memastikan. Sebab dia dapat mencium bau kebohongan dari Zara.
Zara sontak tertawa hambar. Kini Raffi dapat memergokinya berbohong. Cowok itu segera beranjak dari gudang. Namun Zara dengan cepat menghentikan.
"Gue belum sempat ngomong!" seru Zara sembari menampakkan ekspresi sendu. Belum sempat bicara, bel pertanda masuk terdengar berbunyi. Alhasil Raffi bergegas untuk kembali ke kelas.
"Nanti aja ya, Ra!" ungkap Raffi. Dia berlari sambil menoleh ke belakang.
Zara yang kembali gagal menjalankan rencana, hanya bisa menghentakkan kaki kesal. Dia heran, kenapa usahanya untuk mendekati Raffi selalu saja gagal.
Satu mata pelajaran terlewati. Kebetulan jadwal ulangan hanya di isi dua mata pelajaran perhari. Jadi seluruh siswa akan pulang lebih cepat dari biasanya.
Raffi sekarang menunggu Elsa di parkiran. Dia nongkrong bersama Gamal, Tirta dan Danu. Mereka mengobrol santai seperti cowok-cowok pada umumnya.
"Mal, lo itu pacaran nggak sih sama Zara? Soalnya gue lihat lo tadi deketin Erin cewek kelas sepuluh." Danu menatap Gamal penuh tanya. Salah satu kakinya menggedik-gedik beberapa kali.
"Enggaklah! Ngapain gue macarin cewek kayak Zara." Gamal membantah tegas. Ucapannya sukses membuat mata Raffi mendelik.
__ADS_1
"Bisa nggak sih lo jangan permainin cewek?! Nggak baik tahu!" timpal Raffi. Namun Gamal hanya terkekeh.
"Santai dong, Raf. Lagian lo kenapa sih peduli sama Zara?" Gamal balas menimpali.
"Gue cuman berusaha jadi teman yang baik buat lo! Harusnya lo dengerin gue dong!" Raffi dengan kesal mendorong Gamal. Hingga temannya yang berambut cepak itu terhuyung ke samping. Gamal hampir terjerembab ke selokan.
"Gila lo, Raf! Kalau punya dendam terpendam, jujur aja kali." Gamal mengelus-elus dadanya. Raffi otomatis tergelak bersamaan dengan Danu dan Tirta.
Dari kejauhan, orang yang ditunggu Raffi akhirnya muncul. Dia lantas merekahkan senyuman. Tetapi senyuman itu pudar tatkala dirinya menyaksikan Elsa mengobrol bersama seorang cowok.
Raffi merasa tidak asing dengan cowok yang berbicara dengan Elsa. Dia mencoba menelusuri ingatannya, tetapi tidak berhasil. Raffi lupa siapa nama cowok yang tengah bersama Elsa sekarang.
Gamal memergoki Raffi yang terpaku menatap Elsa. Dia segera merangkul temannya itu. Gamal berbisik, "Lo nyesel nggak? Udah nyelametin dia?"
"Hah?" Raffi tidak mengerti.
"Lo ingat nggak cowok yang gue marahi di parkiran. Ya dia orangnya! Lo tahu juga kan kalau dia udah terang-terangan bilang suka sama Elsa," terang Gamal.
"Lo yakin? Perasaan kemarin-kemarin dia pakai kacamata deh. Gaya dia kayak cupu gitu," komentar Raffi yang belum sepenuhnya menerima pemberitahuan Gamal.
"Dia ngerubah penampilan, Raf. Dia sekarang salah satu cowok populer di kelas sepuluh. Ya ampun, lo sekarang kudet parah. Akibat terlalu banyak belajar pasti." Tirta masuk ke dalam pembicaraan.
"Tenang aja kali, Raf. Elsa kan udah jadi pacar lo, dia nggak bakal kemana-mana." Gamal menepuk pundak Raffi dua kali.
Raffi menatap ketiga temannya satu per satu. Disertai raut wajah yang tak dapat diartikan. Dia lantas berkata, "Sekarang udah nggak lagi..."
"Hah? Apa lo bilang?"
"Jangan bilang lo udah putus sama Elsa?"
Tirta dan Gamal menimpali. Sementara Danu hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia tidak mengerti jalan pikiran Raffi.
"Kenapa? Kalian berantem?" Gamal bertanya karena merasa penasaran.
Raffi menceritakan segalanya. Bahwa alasan dia putus dari Elsa karena ingin fokus belajar. Ceritanya sukses membuat Gamal, Tirta dan Danu berseru kesal. Ketiganya langsung mengoroyok Raffi. Keroyokan mereka tentu hanya dengan tujuan bercanda.
"Ya udah, kita tinggalin aja Raffi! Gue kesel sumpah!" ajak Gamal kepada Danu dan Tirta.
__ADS_1
"Elaah... kenapa kalian gitu coba. Emang keputusan gue salah ya?" Raffi menghela nafas berat. Saat ituah Elsa datang menghampirinya.
"Udah ngobrolnya? Gue lumutan nunggunya tahu!" geram Raffi. Dia terlihat sudah membuka pintu mobil.
"Raf, gue cuman mau bilang. Gue nggak pulang bareng lo hari ini. Lo duluan aja ya, bye!" Elsa melambaikan tangan. Kemudian pergi begitu saja. Dia tampak naik ke motor cowok yang tadi mengobrol dengannya. Cowok yang Raffi tidak ketahui namanya.
Bruk!
Raffi menghempaskan pintu mobil. Entah kenapa dia merasa sangat kesal. Tanpa sadar Raffi menarik tangan seorang siswa yang kebetulan lewat di depannya.
"Eh, gue mau tanya. Cowok yang jalan bareng sama Elsa namanya siapa?" tanya Raffi kepada murid kelas sepuluh.
"Na-namanya Fahri, Kak." Si murid kelas sepuluh menjawab dengan enggan. Dia langsung pergi setelah Raffi melepaskan tangannya.
Raffi menoleh ke arah mobil Gamal. Di sana ada Zara yang terlihat berdebat dengan Gamal. Dari pendengaran Raffi, Gamal menyuruh Zara untuk pulang sendiri. Sementara Gamal tampak mengajak Erin ikut bersamanya.
Wush!
Gamal melajukan mobilnya keluar dari halaman sekolah. Meninggalkan Zara yang nampak kesal. Alhasil Raffi segera menjalankan mobil, dan tidak lupa menawarkan Zara tumpangan.
"Thanks." Zara berucap sambil melirik ke arah Raffi. Ternyata nasib buntungnya membuahkan untung.
Raffi hanya diam dan mengangguk. Suasana hatinya terasa buruk setelah menyaksikan kedekatan Elsa dengan Fahri. Raffi bahkan menjalankan mobil dalam kecepatan laju.
Zara yang sudah terbiasa menghadapi mobil ngebut, malah senang terhadap kelakuan Raffi.
"Lebih laju, Raf!" saran Zara.
"Lah, lo nyindir atau apa?" balas Raffi.
"Enggak! Gue serius. Gue suka naik mobil yang ngebut. Serasa tertantang nggak sih?" ujar Zara.
Raffi otomatis tersenyum. Dia menatap Zara selintas. Lalu benar-benar melajukan mobil dalam kecepatan tinggi.
Suara-suara klakson mobil lain sontak terdengar bersahutan. Karena Raffi menjalankan mobilnya ugal-ugalan dan cukup mengganggu pengendara lain.
Bukannya memperingatkan, Zara justru bertepuk tangan dan memuji Raffi sangat keren. Mereka bahkan mulai tertawa senang bersama.
__ADS_1
Tanpa diduga, Zara memberikan kecupan ke pipi Raffi. Bibir cewek itu bertengger cukup lama. Sampai membuat Raffi harus memelankan mobilnya.
"Lo tahu nggak? Gue itu mau lakuin apapun buat Gamal karena uang. Tapi kalau sama elo, gue bakal lakuin karena cinta!" ungkap Zara. Dia akhirnya mengambil langkah berani.