
Sebelum baca episode ini, Author mau bilang. Jauhi narkoba sejauh-jauhnya!
Novel ini masih berada di tahap tindakan, alias tahap awal. Belum masuk ke tahap dampak dan solusi.
...༻☆༺...
Bi Nur segera berbalik arah saat tak sengaja melihat tuan mudanya asyik berciuman. Dia terpaksa membawa mie instan pesanan Zara kembali ke dapur. Namun langkahnya terhenti saat Zara memanggil.
Zara dengan cepat mendorong Gamal menjauh. Lalu bangkit dari tempat duduk. "Bi Nur, cepat bawa sini. Aku laper!" ujarnya.
Gamal mengusap kasar bibirnya yang agak membengkak. Dia tidak berhenti memperhatikan Zara yang baru saja menerima mie instan buatan Bi Nur.
"Bi Nur udah matiin CCTV kan?" tanya Gamal sambil duduk menyandar santai.
Zara yang mendengar sontak menoleh. "Emang dari tadi belum dimatiin ya?" timpalnya dengan pupil mata yang membesar.
"Iya makanya gue nanya," jawab Gamal. Perlahan dia menyandarkan kepala ke pundak Zara.
Bi Nur langsung menunduk. Dia merasa tidak nyaman menyaksikan kedekatan Gamal dan Zara. Entah kenapa dirinya merasa sangat berdosa. Bi Nur lantas beranjak ke dapur. Ia menyuruh Pak Drajat untuk mematikan CCTV.
"Mau ngapain? Kalau ada maling gimana?" tanya Pak Drajat yang terheran.
"Udah, lakuin aja. Ini perintah Den Gamal. Cepat sana!" Bi Nur mendesak. Dia bergegas pergi ke kamar yang ada di belakang.
Bel terdengar berbunyi. Gamal yakin orang yang datang pasti atas niat mengantarkan pesanannya. Tanpa basa-basi, Gamal membukakan pintu.
Benar saja, seorang lelaki kurus dan bertato membawakan barang pesanan Gamal. Dia tersenyum lebar saat melihat lembaran kertas berwarna merah yang dipegang Gamal. Jujur saja, Gamal menghabiskan uang sekitar jutaan rupiah untuk membeli serbuk-serbuk memabukkan berkualitas.
"Nanti kalau butuh lagi, calling aja ya, Bro. Selamat menikmati!" ujar lelaki kurus itu. Dia segera pergi bersama temannya dengan motor.
__ADS_1
Gamal kembali menghampiri Zara. Dia menemukan cewek itu belum menghabiskan mie instan. Akibat tidak sabar lagi, Gamal menarik paksa Zara meninggalkan ruang tengah. Lalu masuk ke dalam ruangan yang biasanya dikhususkan untuk menonton film. Ruangan tersebut agak gelap. Gamal melakukan apa yang di inginkannya di sana.
Setengah jam berselang, Zara baru saja mengenakan dressnya kembali. Sedangkan Gamal yang malas hanya mengenakan celana pendek. Cowok itu menjadikan pangkuan Zara sebagai bantal.
Gamal dan Zara terlihat sama-sama lemas. Keduanya masih dalam pengaruh dari serbuk-serbuk putih memabukkan. Alias obat-obatan psikotropika jenis crystal meth.
Zara kembali mengambil serbuk putih yang masih tersisa. Lalu membiarkan Gamal untuk menghirupnya terlebih dahulu. Setelahnya, barulah Zara yang melakukannya. Sensasi nge-fly langsung dirasakan oleh mereka.
Zara menyandarkan kepala ke sandaran sofa. Kebetulan dia duduk di sofa panjang berwarna merah. Keheningan menyelimuti dalam sesaat. Zara dan Gamal merasa pikiran mereka melayang. Ada sensasi nikmat yang keduanya rasakan, hingga pada akhirnya tergoda untuk terus menghirup serbuk putih.
"Mal... gue mau kasih tahu lo sesuatu..." celetuk Zara dengan nada bicara sumbang. Sebab kesadarannya sedang tidak terkendali.
"Apa? Lo mau ronde kedua?" balas Gamal yang tidak kalah mabuknya. Dia tertawa kecil tanpa alasan yang jelas. Gamal merasa apa yang dikatakannya tadi lucu.
"Emang lo belum puas sama yang tadi?" tanggap Zara. Dia memejamkan rapat matanya.
"Sama, gue juga gitu. Tapi rasanya tubuh gue mau remuk, Mal..." ungkap Zara yang disambut Gamal dengan tawa geli.
Gamal merubah posisi menjadi duduk. Kemudian membawa Zara masuk ke dalam pelukan. Dia mengajak gadis itu untuk rebahan di atas tubuhnya. Mereka kembali bersenggama.
...***...
Di sisi lain, tepat di negeri tetangga. Elsa duduk diam di samping pamannya. Kebetulan Vina masih bersikap dingin terhadapnya. Selain itu, Elsa sangat merindukan Raffi.
'Bagaimana kabar Raffi di rumah neneknya? Dia kangen juga nggak sama gue? Kenapa dia nggak pernah lagi chat atau kirim pesan ke gue? Kayaknya Raffi beneran nggak suka sama gue deh...' batin Elsa menduga-duga. Kepalanya menunduk sendu. Sudah puluhan kali dia memeriksa ponsel hanya untuk melihat pesan terbaru. Elsa juga tidak lupa memastikan perkembangan Raffi melalui media sosial. Namun sayang, cowok yang disukainya itu sangat jarang update status.
"El, kamu nggak mau ikut foto-foto? Tuh Vina lagi foto sama patung singa tuh!" tegur Fajar.
"Vina! Ini Kak Elsa kok nggak di ajak?" seru Risna yang juga tengah duduk bersama Fajar dan Elsa.
__ADS_1
Vina langsung menoleh. Dia tidak punya pilihan selain menuruti perintah kedua orang tuanya. Alhasil Vina mengajak Elsa untuk berfoto di depan patung singa. Elsa sesekali mengajak adiknya Vina ikut berfoto.
"Gimana? Udah?" tanya Elsa. Setelah selesai melakukan beberapa pose untuk berfoto.
Vina tampak mengangguk lemah. Dia segera memperlihatkan hasil jepretannya kepada Elsa. Tanpa diduga, sebuah pesan baru tiba-tiba masuk. Pesan itu ternyata dari temannya Vina. Kebetulan Vina mengambil foto Elsa lewat ponselnya.
'Vin, lihat Kak Elsa sama Kak Raffi kemarin berantem!' begitulah bunyi pesan yang didapat Vina.
Sungguh sangat kebetulan, pesan tersebut muncul saat Elsa melihat layar ponsel Vina. Jadi Elsa tahu bahwa pertengkarannya dengan Raffi kemarin diam-diam didokumentasikan oleh seseorang lewat video.
"Kak? Beneran Kakak berantem sama Kak Raffi?" tanya Vina memastikan.
"Iya, kami emang berantem," jawab Elsa sambil mendengus kasar. Lalu duduk ke bangku panjang terdekat.
"Kenapa?" Vina ikut duduk bersama Elsa.
"Gue bakalan bilang yang sebenarnya. Plis jangan bilang sama bokap nyokap lo ya," respon Elsa. Dia segera memberitahu bahwa dia sempat berpacaran dengan Raffi. Padahal tanpa diberitahu pun Vina sudah tahu kebenaran tersebut. Meskipun begitu, cewek berperawakan berisi itu bersikap seolah tidak tahu.
"Sekarang kami balik sahabatan lagi. Dan itu nggak nyaman banget buat gue. Sumpah! Apalagi gue..." Elsa tidak sanggup melanjutkan. Dia sejujurnya ingin mengatakan kalau dirinya pernah hampir berhubungan intim dengan Raffi. Elsa tidak mungkin memberitahu Vina perihal itu.
"Apalagi apa, Kak?" Vina penasaran.
"Nggak apa-apa. Lupain aja." Elsa menjeda sejenak. Dia mendadak ingat dengan sikap Vina yang dingin akhir-akhir ini. Elsa berpikir sekarang waktu yang tepat untuk membicarakannya secara serius.
"Ngomong-ngomong, lo kenapa akhir-akhir ini kayak menjauh gitu sih sama gue? Beritahu gue yang sebenarnya dong, Vin. Gue nggak enak tinggal di rumah lo, kalau lo kayak gitu terus." Elsa menampakkan raut wajah khawatir. Akan tetapi Vina justru membalas dengan senyuman.
"Kak Elsa nggak ada salah kok. Aku cuman capek sama tugas sekolah. Terus kemarin aku ada berantem sama temanku, jadi kebawa-bawa sama Kak Elsa. Maaf ya, Kak." Vina sepenuhnya berkilah. Elsa yang tidak tahu apa-apa, langsung percaya begitu saja. Bagi Elsa, Vina hanya adik perempuannya yang masih polos.
Vina tersenyum ceria. Dia memilih berbaikan dengan Elsa. Vina merasa sangat senang. Bukan karena hubungan persaudaraannya, melainkan karena berakhirnya hubungan Elsa dan Raffi.
__ADS_1