Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 79 - Bertemu Danu


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi mengetuk kaca jendela mobil. Gamal dan Zara sontak kaget. Keduanya berhenti berciuman. Gamal segera membuka kunci pintu mobil. Kini dia bisa menyaksikakan Raffi berdiri dengan mimik wajah cemberut.


"Kalian gila ya?! Katanya mau diskusiin masalah Danu baik-baik? Tapi kalian malah sempat-sempatnya begini?! Gue nggak habis pikir!" timpal Raffi. Mempelototi Gamal dan Zara secara bergantian.


"Kali ini kalian emang keterlaluan!" Elsa ikut menimpali. Dia dan Raffi segera kembali ke mobil mereka.


Gamal dan Zara memilih bungkam. Mereka sama-sama mengatur nafas karena aktifitas sebelumnya.


"Cepat! Kita ke kantor polisi sekarang!" seru Raffi. Lalu melajukan mobil lebih dulu.


Dengan helaan nafas panjang, Gamal mengikuti dari belakang. Tadi dia dan Zara memang tidak bisa membantah. Keduanya sadar kalau apa yang sudah mereka lakukan cukup keterlaluan.


Sesampainya di kantor polisi. Raffi dan yang lain berkumpul terlebih dahulu. Elsa sedari tadi berusaha menghubungi Tirta. Akan tetapi dirinya belum juga mendapatkan jawaban.


"Rapiin baju kalian!" titah Raffi dengan dahi berkerut. Ia mengkritik seragam Gamal dan Zara yang tampak berantakan.


"Kenapa emang?" Gamal justru bertanya.


"Kenapa kata lo? Ini kantor polisi, kampret! Tempat hukum itu disiplin. Yang namanya disiplin ya mengutamakan sopan santun!" jelas Raffi setelah berdecak kesal. Dia tidak heran kenapa Gamal butuh penjelasan lebih lanjut.


Gamal tidak punya pilihan selain mengikuti perintah Raffi. Raut wajahnya tampak merengut.


Berbeda dengan Zara. Dia dengan senang hati mengikuti arahan Raffi. Cewek itu merasa bersalah.


"Tirta nggak ada kabar nih? Terus gimana?" imbuh Elsa. Meminta pendapat teman-temannya.


"Kita langsung aja." Raffi melenggang lebih dulu. Barulah Gamal dan yang lain mengiringi.


Langkah Raffi terhenti ketika melihat ada kedua orang tua Danu. Mereka sedang duduk di ruang tunggu.


Tanpa sengaja, pandangan Sinta bersibobrok dengan Raffi. Wanita paruh baya itu lantas bangkit dari tempat duduk. Dia juga memberitahu suaminya mengenai kehadiran teman-teman Danu.

__ADS_1


"Halo, Bu..." sapa Raffi lembut. Dia dan yang lain berusaha bersikap ramah. Bahkan Gamal sekalipun.


"Kalian mau ketemu Danu ya?" tebak Sinta. Wajahnya terlihat membengkak dan memerah. Kemungkinan dia sudah menghabiskan banyak waktu untuk menangis.


"Iya, kalau dibolehkan, Bu." Raffi bertutur kata lembut.


"Ya sudah, biar Ibu tanya dulu sama pak polisinya." Sinta beranjak menuju salah satu aparat kepolisian.


"Duduk dulu kalian." Wildan memberikan ruang untuk Raffi dan kawan-kawan duduk.


"Makasih, Pak..." Raffi enggan menolak. Dia menjadi orang yang duduk di sebelah Wildan.


"Gini, Bapak mau meminta maaf atas nama Danu. Dia nekat membohongi kalian. Aku nggak bisa mendidiknya dengan baik..." Wildan tiba-tiba memecahkan tangis. Menyebabkan Raffi dan kawan-kawan otomatis merasa tidak enak.


Raffi reflek saling bertukar pandang dengan Elsa. Cewek itu memang kebetulan duduk di sampingnya. Mereka tidak tahu harus bagaimana. Menghadapi orang tua yang sedang menangis bukan keahlian mereka.


"Danu juga terbukti mengkonsumsi obat terlarang..." lirih Wildan disela-sela tangisannya.


Deg!


Belum sempat menanggapi, Sinta tiba-tiba memanggil. Dia mengatakan kalau Danu bisa ditemui. Namun hanya bisa dijenguk oleh dua orang saja.


Elsa dan Zara mengalah. Mereka membiarkan Raffi dan Gamal untuk menemui Danu. Dua cowok itu lantas setuju. Mereka langsung mengikuti polisi yang bertugas mengantar.


Danu yang terlihat duduk termangu di dalam penjara, langsung berdiri ketika melihat kedatangan Raffi dan Gamal. Jeruji besi menjadi sekat di antara mereka.


"Kedatangan kalian ke sini pasti berkaitan sama hasil tes urin gue, iyakan?" terka Danu dengan nada berbisik.


Raffi yang mendengar perlahan menundukkan kepala. Sungguh, dia merasa tidak enak. Raffi sadar betapa egois dirinya. Hingga tak mampu berkata-kata lagi.


Sementara Gamal, melangkah lebih dekat. Dia membenarkan tebakan Danu tadi. Lagi pula untuk apa berbasa-basi. Setidaknya begitulah hal yang terlintas dalam benak Gamal.


"Gue jaga rahasia kalian dengan baik kok. Anggap aja ini sebagai permintaan maaf gue..." lirih Danu. Mengingat segala kebohongan yang pernah dilakukannya. Ia berusaha menahan cairan bening yang hendak keluar dari mata.

__ADS_1


"Kalian ingat dua pembantu cowok pas ke rumah palsu gue nggak? Mereka alasan utama gue di penjara sekarang. Ternyata hasil tes urin mereka juga positif, karena itulah gue bisa ngelindungi kalian. Maafin gue ya, plis..." akhirnya air mata Danu luruh.


Raffi sigap menenangkan. Dia jadi ikut-ikutan ingin menangis. Matanya tampak sudah berembun.


"Makasih banyak, Dan. Lo udah selamatin gue... Kami pasti maafin lo kok. Lo tetap jadi salah satu teman dekat gue," ungkap Raffi sembari memegangi salah satu pundak Danu.


Danu mengangguk pelan seraya mengusap air mata yang berjatuhan di pipi. Perlahan matanya melirik ke arah Gamal yang sedari tadi hanya menundukkan kepala.


"Mal..." panggil Danu.


Gamal otomatis mendongak. Semburat wajahnya terlihat sendu. Seolah ikut merasa sedih. Namun Gamal tidak akan menangis semudah itu.


"Sini gue kasih tahu." Danu menyuruh Gamal mendekat. Dia mendekatkan mulut ke telinga Gamal dan berbisik, "Lo mendingan sadar mulai sekarang. Suatu hari nanti, mungkin aja lo yang ada di posisi gue."


"Apaan sih lo!" balas Gamal dengan kening yang mengernyit.


"Gue tahu lo kesepian, Mal. Tapi lo punya segalanya dibandingkan gue. Uang, keluarga, lo bisa dapetin yang lo mau! Gue tahu lo itu temen yang nggak bener. Cuman gue peduli sama lo. Gue nggak mau lo semakin berantakan." ujar Danu. Mencoba memperingatkan.


Gamal tertohok. Dia hanya membuang muka. Toh dirinya tidak bisa membantah. Sebab semua yang dikatakan Danu memang benar adanya.


"Waktu sudah habis, kalian harus pergi sekarang." Polisi muncul dari balik pintu.


Raffi dan Gamal segera berpamitan dengan Danu. Mereka berjanji akan kembali berkunjung.


Kini Raffi, Gamal, Elsa dan Zara telah keluar dari kantor polisi. Mereka terdiam seribu bahasa. Entah kenapa kebaikan Danu membuat perasaan mereka tidak nyaman. Terutama Gamal, nasehat Danu tadi benar-benar sampai ke hatinya.


Rencana Gamal seketika batal dilakukan. Hal itu karena Danu memilih menutup mulut. Andai Danu berniat membocorkan rahasia tentang klub malam, mungkin Gamal harus mempersiapkan uang untuk membungkam mulut Danu.


"Gue ngerasa kasihan banget sama Danu," celetuk Zara. Memecah keheningan yang berselang lama.


"Sama... gue mau ngelakuin sesuatu tapi bingung juga," respon Raffi. Dia dan Gamal menyandarkan pinggul ke kap mobil.


"Kira-kira Danu bakalan di penjara berapa tahun ya? Terus dia nggak bisa lanjutin sekolah dong..." kata Gamal.

__ADS_1


Atensi Raffi mendadak tertuju ke arah Sinta. Ibunya Danu itu terlihat menghitung uang recehan dari dompet. Ide cemerlang langsung terlintas dalam benak Raffi.


__ADS_2