
...༻☆༺...
Raffi membiarkan Elsa tenang sebentar. Baru dia menanyakan apa yang terjadi. Raffi tentu heran kenapa Elsa mendadak menangis.
"Gue cuman kelelahan kok. Ini cuman efek menstruasi doang. Gue disuruh langsung pulang aja," jelas Elsa.
"Ya udah..." Raffi mengangguk. Tangannya segera menghapus air mata yang berderai di pipi Elsa.
"Gue pulang naik taksi aja. Lo nanti telat kalau ngantarin gue pulang," saran Elsa. Namun ditolak mentah-mentah oleh Raffi. Cowok itu bersikeras ingin mengantarkan. Ia rela membolos demi menemani kekasihnya yang sendirian.
Kini Raffi dan Elsa berduaan di rumah. Keduanya saling memeluk dalam keadaan telentang. Mereka berada di sofa ruang tengah.
Elsa merasa sangat bahagia atas perlakuan Raffi kepadanya. Dia ingin terus dimanjakan seperti sekarang. Dimana dirinya akan melihat wajah Raffi terus-menerus.
"Gue sayang banget sama lo..." ungkap Elsa sembari menguatkan pelukan. Matanya memejam rapat. Seolah sudah menemukan tempat ternyaman.
Raffi tertawa kecil dan menanggapi, "Lo hari ini kenapa baper banget sih?"
"Siapa yang nggak baper coba, kalau punya pacar perhatian banget." Elsa mendongakkan kepala. Lalu mengecup singkat bibir Raffi.
"Ish! Jangan mancing-mancing. Lo kan lagi mens." Raffi yang gemas, mengacak-acak puncak rambut Elsa.
"Apaan sih... kan gue cuman kasih libel kis," ujar Elsa mengucapkan kalimat bahasa Inggris dengan asal.
Raffi tergelak lepas sebentar. Ia tidak bisa menampik betapa payahnya Elsa dengan bahasa Inggris. Menurut Raffi, cewek itu harus lebih banyak belajar.
"Yang bener itu, little kiss..." Raffi memberitahu dengan menekankan kata di kalimat terakhir.
"Terserah gue! Kan cuman itu yang gue tahu." Elsa mengerucutkan bibirnya. Dia agak kesal dengan kritikan Raffi. "Mentang-mentang punya otak encer," gerutunya. Membuat tawa Raffi kembali berlanjut.
"Gue juga sayang banget sama lo!" Raffi memeluk Elsa yang telah duduk membelakangi. Ia menggelitiki perutnya.
Elsa tidak kuasa menahan tawa. Keheningan yang sempat terjadi, akhirnya dihiasi dengan suara canda dan tawa.
"Raffi! Perut gue lagi sakit tahu!" protes Elsa. Mencoba menjauhkan tangan Raffi dari perutnya.
"Anggap aja ini pijet khusus dari si pemuja tempe." Candaan Raffi kian menjadi-jadi.
__ADS_1
"Idih... lebay banget!" Elsa mendorong jidat Raffi dengan jari telunjuk. Senyumannya menyimpul hingga menampakkan gigi-gigi putih yang rapi.
"Lebay sih iya. Tapi setidaknya gue berhasil bikin lo ketawa," balas Raffi yang perlahan meredakan senyumannya. Dia kembali berpelukan dengan Elsa.
...***...
Gamal dan Olive sekarang berada di cafe. Sedari tadi Gamal hanya tersenyum kecut. Bagaimana tidak? Olive terobsesi ingin terus mengambil foto. Cewek itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan foto terbaik.
"Aku upload di medsos ya, yang..." kata Olive meminta izin.
"Upload gih!" Gamal setuju saja.
"Makasih ya sayang." Olive mengecup salah satu pipi Gamal. Sikapnya sangat berbanding terbalik dengan Zara. Manja dan selalu ingin mendapatkan perhatian.
Foto kebersamaan Gamal dan Olive langsung mencuri perhatian. Apalagi di dalam captionnya, Olive sengaja memasukkan emotikon berbentuk hati. Dia juga tidak lupa memasukkan kalimat yang berbunyi, 'Ketos kesayangan. Kayak di cerita-cerita novel aja ya...'
Obsesi Olive dengan kamera tidak berakhir disitu. Saat makan dia melakukan sesi siaran langsung di media sosial. Gamal berusaha keras untuk terbiasa. Jujur saja, dia sangat merindukan Zara. Cewek bar-bar yang hampir tidak pernah mengambil foto bersamanya.
"Yang, udah ya. Aku jadi nggak tenang makannya," bisik Gamal sembari menatap tajam ke arah Olive.
"Bentar lagi ya." Olive menolak dengan halus.
"Kamu kenapa sih? Kok dimatiin." Olive menghentakkan kedua kakinya secara bergantian.
Gamal meletakkan ponsel Olive ke atas meja. Dia perlahan mendekatkan wajah ke hadapan Olive. "Aku cuman pengen kamu istirahat." Gamal mengaitkan rambut Olive ke daun telinga.
Olive yang tadinya kesal, jadi tersipu malu. Tatapan Gamal membuat jantungnya berdegub kencang.
"Oh iya, lusa nanti aku ingin mengadakan pesta ulang tahun. Kamu bantu aku undang teman-teman di sekolah ya," ujar Olive lembut. Gamal lantas mengangguk. Selanjutnya, mereka segera beranjak pulang.
Gamal mengantarkan Olive lebih dahulu. Kebetulan Gamal bisa memakai mobil ketika ayahnya tidak ada di rumah.
Mobil berhenti tepat di depan gedung apartemen Olive. Sebelum keluar mobil, Olive mengajak Gamal untuk ikut bersamanya.
"Ikut aku ke dalam yuk!" ajak Olive.
"Nanti aja deh." Gamal menjawab singkat.
__ADS_1
"Kamu nggak mau..." Olive menarik tangan Gamal untuk menyentuh payudara miliknya. Dia tentu berusaha menggoda Gamal.
"Lo liar juga ternyata," komentar Gamal.
"Kok pakai lo gue lagi sih ngomongnya," protes Olive seraya melepaskan tangan Gamal.
"Sorry, aku lupa." Gamal beringsut lebih dekat ke hadapan Olive. Dia tidak akan membuang kesempatan untuk menggerayangi payudara Olive. Cowok mana yang mau melewatkan kesempatan tersebut. Mengingat Olive juga memiliki wajah yang sangat cantik.
Di waktu yang bersamaan, Zara melihat postingan terbaru Olive. Tentu ada perasaan mengganjal di hatinya. Apalagi setelah menyaksikan ada siaran langsung yang terjadi beberapa saat lalu.
Sekali lagi Zara berusaha tidak peduli. Dia justru menghapus aplikasi dimana dirinya tidak akan lagi bisa melihat postingan Olive dan Gamal.
Zara beranjak keluar kamar. Dia menemui Wida untuk membicarakan sesuatu hal.
"Bi, aku mau pindah sekolah boleh nggak?" tanya Zara.
"Loh, kok tiba-tiba? Bukannya dulu kamu pengen banget sekolah di tempat kamu sekarang? Itu sekolah favorit loh. Banyak orang yang berlomba-lomba ingin sekolah di sana. Ini kamu malah pengen pindah." Wida merasa terheran.
"Jadi Bibi ngijinin aku atau nggak sih?" Zara bersikeras.
"Kamu udah kelas tiga, Ra. Sebentar lagi lulus, jangan pindah-pindah deh." Wida membalas dengan nada pelan.
Zara akhirnya kembali ke kamar dengan ekspresi cemberut. Dia mengambil ponsel dan memeriksa sisa uang tabungannya. Zara berniat ingin pergi dari panti asuhan. Sayangnya dirinya tidak memiliki persediaan uang yang memadai.
"Eh, cowok yang kemarin datang itu pacar lo?" tanya Yeni yang rebahan sambil mengenakan masker wajah.
"Mantan!" sahut Zara singkat, padat dan jelas.
"Gila! Cowok keren begitu kenapa lo putusin? Gue lihat dia juga kaya loh. Mobilnya mahal," ucap Yeni yang tidak mengerti jalan pikiran Zara.
"Kalau mau, lo aja yang pacarin. Gue udah nggak peduli." Zara mengangkat kedua bahunya bersamaan. Ia sibuk mencari kenalannya di kontak telepon.
Zara berniat ingin kembali melakukan pekerjaannya yang dulu. Dia ingin mendapatkan uang banyak dengan cepat. Zara merasa menjual diri adalah satu-satunya jalan. Ia meminta kenalannya untuk mempromosikan.
Sebuah nomor telepon tidak dikenal masuk. Dalam sekejap jasa Zara berhasil dipesan oleh seorang lelaki hidung belang.
Zara langsung bersiap. Dia mengenakan dress di atas lutut dan mengoles bibir dengan lipstik merah menyala.
__ADS_1
"Anjir! lo kumat lagi, Ra?!" timpal Yeni.
"Gue lagi butuh duit!" sahut Zara. Dia sudah sepenuhnya siap. Yeni hanya bisa tercengang dan geleng-geleng kepala.