
...༻☆༺...
Raffi bergegas menghampiri Elsa. Mencoba merubah jalan pikiran kekasihnya tersebut.
"Lo kenapa ngomong gitu, El?! Kenapa?! Jelas-jelas cuman gue satu-satunya cowok yang selalu dekat sama lo!" seru Raffi histeris. Matanya menampakkan kegetiran. Mulai berpendar akan cairan bening. Siapa yang tega menyaksikan seorang perempuan menangis?
"Dari mana lo tahu, hah?! Gue punya banyak teman cowok kali!" balas Elsa. Meninggikan nada suaranya.
"Elsa, plis... jangan gini... masalahnya nggak bakalan cepat selesai..." mohon Raffi sembari menggenggam erat jari-jemari Elsa. Air matanya telah berjatuhan. Sungguh, Raffi tidak mau Elsa menanggung akibatnya sendiri.
Elsa langsung membuang muka. Dia tidak tega melihat Raffi ikut menangis. Meskipun begitu, keputusannya tetap bulat. Elsa melepaskan tangan Raffi dengan kasar.
"Elsa, kita harus akui kelakuan kita selama ini," pinta Raffi. Namun Elsa sekali lagi tak acuh.
"Kelakuan apa, Raf? Kalian ngomongin apa?" tanya Heni yang sedari tadi mendengar ucapan sang putra.
Elsa tidak kunjung menjawab, membuat Raffi terpikir untuk melakukan hal lain. Dia segera menoleh ke arah Fajar dan berkata, "Om! Biar aku yang tanggung jawab. Karena janin yang ada di dalam perut Elsa adalah anak aku. Kami memang melakukannya--"
Plak!
Belum selesai Raffi bicara, Heni melayangkan sebuah tamparan. "Jangan mengada-ngada kamu! Ini bukan urusanmu! Biar Elsa dan pacarnya yang mengatasi semua ini!" tukasnya. Heni masih tidak mempercayai pengakuan Raffi.
"Mah, maafin aku... tapi aku beneran ngelakuin itu--"
"Raffi bohong, Tante! Di sini aku yang hamil. Jadi aku yang tahu siapa ayah kandung dari janin ini!" sekali lagi perkataan Raffi terpotong. Elsa bicara sambil memegang bagian perutnya yang masih datar.
"ELSA!!! Lo kenapa gini?!!" gertak Raffi. Akan tetapi sama sekali tidak mempan menciutkan pilihan Elsa.
"Raffi, aku tahu kamu anak baik. Tapi bukan berarti kamu harus membantu Elsa dengan cara begini," ujar Fajar. Dia nampaknya lebih mempercayai Elsa.
"Tapi, Om! Aku beneran pernah berhubungan badan sama Elsa! Beberapa kali malah! Om mau tahu tempat pertama kali kami ngelakuinnya?! Di rumah Om!" Raffi bersikeras meyakinkan. Dia sudah tidak peduli akan reputasi. Hal terpenting sekarang adalah mendapatkan kepercayaan. Bahwasanya memang dirinya-lah orang yang mesti bertanggung jawab.
"RAFFI!!!" Heni berusaha menghentikan Raffi. Dia tahu putranya sedang tersulut amarah.
"Kurang ajar!" maki Fajar. Lalu melanjutkan, "Heni! Ajarin anak kamu untuk jaga omongan! Entah itu benar atau salah, aku tetap nggak suka dengarnya!"
__ADS_1
"Itu benar kok, Om!" sungut Raffi. Kini tangisannya sudah tertelan amarah.
"Cukup! Jangan memperumit keadaan!" balas Fajar. Lama-kelamaan dia terus saling berdebat dengan Raffi. Sementara Heni, berupaya keras menenangkan sang putra.
Keributan semakin menjadi-jadi. Membuat Elsa tidak kuat lagi.
"AAARKHHH!! CUKUP!" Elsa memekik lantang. Semua orang sontak terdiam. Menatap spontan ke arah cewek itu. Mereka sekarang dapat menyaksikan Elsa gemetaran sambil menutup dua telinga.
"Kalian bisa tenang nggak?..." cicit Elsa.
Raffi segera mendekat. Sekali lagi dia mencoba meyakinkan. "El, kita lakuin kesalahan itu sama-sama, jadi tanggung jawabnya juga harus sama-sama kan?" imbuhnya. Telapak tangannya mengusap lembut air mata yang membanjiri pipi Elsa.
Elsa hanya menangis. Dia begitu tenggelam dalam isakan, sampai-sampai dirinya tak mampu bicara lagi. Alhasil Elsa memilih mengabaikan Raffi. Ia memutuskan lari dari masalah dengan cara berpura-pura pingsan.
"Elsa!" Raffi sigap menangkap tubuh Elsa. Kemudian merebahkannya ke sofa terdekat.
Fajar dan Heni otomatis ikut khawatir. Usaha Elsa untuk meredakan perdebatan, sukses besar. Tiga orang di dekatnya tidak berdebat lagi.
"Aku akan bawa Elsa pulang. Heni, sebaiknya kamu bicarakan masalah tadi baik-baik sama anakmu. Aku harus mencari tahu secepatnya, siapa orang yang sudah bikin Elsa bunting!" kata Fajar yang langsung direspon Heni dengan anggukan kepala.
"Emangnya Elsa nggak kasih tahu?" tanya Heni.
Raffi mengusap kasar wajah kecewa. Ternyata pengakuannya masih belum juga dipercaya. Dia akan memikirkan cara lain untuk membuat semua orang mempercayainya.
Awalnya Raffi hendak menemani Elsa ke rumah Fajar, namun Heni melarang. Wanita itu tidak mau putranya terlalu banyak ikut campur.
"Tapi, Mah... aku benar-benar bicara jujur. Kenapa Mamah nggak percaya omonganku?" ujar Raffi. Merasa tak percaya.
"Kamu suka banget sama Elsa ya? Sampai rela ngaku-ngaku begini," tepis Heni. Dia justru mengusap pelan pundak Raffi.
"Mah..." Raffi memancarkan tatapan serius. Sebuah tatapan yang dipahami Heni sebagai kejujuran.
Walaupun begitu, Heni langsung menggeleng tegas. Dia mengalihkan topik pembicaraan dan menyuruh Raffi masuk ke kamar.
...***...
__ADS_1
Di sebuah apartemen mewah, Gamal dan Zara sedang asyik bermain adu jempol. Keduanya duduk berhadapan di atas kasur. Sesekali mereka akan tertawa, terutama saat saling berusaha mengalahkan.
"Yah, kalah lagi lo... bwahahaha. Nih!" Gamal menang untuk yang kelima kalinya. Maka sudah lima kali pula dia mendapatkan kecupan di bibir dari Zara.
Cup!
Suara mengecup memecah kesunyian. Zara dan Gamal kembali melanjutkan permainan. Tetapi aktifitas mereka harus berhenti, ketika bel pintu terdengar.
"Biar gue aja yang buka." Zara beranjak menuju pintu depan. Dia segera membuka pintu.
Betapa terkejutnya Zara, tatkala menemukan sosok Afrijal yang datang. Matanya membuncah hebat. Zara reflek melangkah mundur.
"O-om..." gagap Zara.
Afrijal melangkah masuk. Lalu mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Ia tampak berjalan sempoyongan. Afrijal sesekali tidak sengaja menabrak nakas. Hingga membuat beberapa benda berjatuhan ke bawah.
Tanpa diduga, tangan besar Afrijal mencengkeram leher Zara. Menyebabkan cewek itu sontak terpojok ke dinding.
"Kamu lagi!" geram Afrijal.
Sungguh, Zara tidak mengerti. Bagaimana cara Afrijal mengetahui tempat rahasianya dengan Gamal? Kemungkinan besar lelaki berparas sangar itu sengaja membuntuti Gamal dalam beberapa hari terakhir.
"Papah!!!" Gamal akhirnya keluar dari kamar. Ia berlari dan langsung menjauhkan tangan Afrijal dari leher Zara. Tidak tanggung-tanggung, Gamal mendorong ayahnya sendiri dengan kasar.
Bruk!
Afrijal terhuyung ke belakang. Dia terjatuh dan menabrak rak sepatu. Gamal lantas memanfaatkan waktu untuk menyelamatkan Zara.
"Kamu memang sangat mirip dengan ibumu... Nggak pernah peduli sama Papah. Padahal Papah udah kasih kamu segalanya. Beginikah kau berterima kasih kepadaku?" cetus Afrijal. Berbicara sambil perlahan berdiri.
"Papah dari mana tahu tempat ini?! Papah mata-matain aku ya?" timpal Gamal tak percaya. Dia memposisikan diri berada di depan Zara. Sengaja menjadi benteng perlindungan untuk cewek itu.
"Papah kasih kamu uang banyak itu agar kamu bisa berpikir!" kini Afrijal menarik kerah baju Gamal. "Tapi yang kamu lakukan hanya bersenang-senang. Berbuat masalah di sana-sini!" tambahnya. Semakin mengencangkan cengkeraman.
"Kalau Papah mau aku peduli, maka harusnya Papah tunjukin kepedulian itu lebih dulu sama aku!" balas Gamal.
__ADS_1
"Apa kau bilang?!!! Tunjukin kepedulian?! Apa yang sudah kuberikan itu belum cukup, hah?!!" geram Afrijal. Tangannya kini melingkar ke leher Gamal. Menyebabkan tenggorakan putranya tersebut tercekat hebat.
Mabuk Afrijal kali ini lepas kendali. Sekarang dia tidak hanya dirundung permasalahan keluarga, tetapi juga pekerjaan. Afrijal butuh pelampiasan. Sepertinya Gamal adalah sasaran empuk baginya.