Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 106 - Paksaan Elsa


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi pulang agak telat dari biasanya. Selain karena harus menjalani hukuman, dia juga menyempatkan diri untuk berlatih basket.


Sejak tadi Raffi berusaha menemui Elsa. Namun ceweknya itu sudah pulang lebih dulu. Katanya akan ada acara keluarga nanti malam.


"Kak Raffi!" Fitri tiba-tiba memanggil dari belakang.


Raffi sontak menoleh. Kerutan langsung muncul di dahinya.


"Kenapa, Fit? Kamu belum pulang? Sekolah udah sepi loh," ujar Raffi.


"Aku nunggu Kakak. Ada yang pengen aku omongin. Tentang surat misterius yang sempat Kakak tanya ke aku." Fitri mengungkapkan. Ia menyempatkan diri untuk menghela nafas. Berada di dekat Raffi, perasaannnya selalu saja gugup.


"Ah itu... gue udah nggak penasaran. Lagian gue terima surat itu udah lama banget. Mungkin cuman orang iseng doang," ucap Raffi. Menyebabkan Fitri menggeleng singkat. Menepis salah satu kalimat Raffi.


"Itu bukan orang iseng! Suratnya memang dari aku," ungkap Fitri.


"Beneran? Kenapa?" Raffi membulatkan mata.


"Setiap hari aku di bully, Kak. Aku pikir Kakak bisa bantu, kayak yang Kakak lakuin ke Fahri hari ini."


"Hah? Maksud lo?" Raffi tidak mengerti.


"Awalnya aku nggak mau kasih tahu semua ini sama siapa-siapa. Karena orang yang bully aku terus kasih ancaman. Katanya ayahku akan dipecat dari pekerjaan kalau aku berani ngadu-ngadu," terang Fitri panjang lebar.


"Fit, siapa yang bilang kalau aku bantuin Fahri?" Raffi justru bertanya pada poin yang menarik perhatiannya.


"Fahri sendiri, Kak. Dia selalu kagum sama Kakak loh..." jawab Fitri sembari mengembangkan senyuman tipis.


"Tapi..." Raffi benar-benar bingung. Bukankah tadi Fahri terlihat sangat membencinya? Lalu apa sekarang? Kenapa murid berkacamata itu tiba-tiba berubah pikiran?


"Kakak seharusnya jangan temenan lagi sama Kak Gamal dan Kak Tirta. Mereka jahat, Kak!" tukas Fitri.


"Thanks, Fit. Masalah lo, gimana kalau lo ngomong ke Pak Ervan? Nanti gue temenin." Raffi menepuk salah satu bahu Fitri. Pembicaraan mereka berakhir disitu.

__ADS_1


Fitri tampak melenggang sendirian menuju jalan raya. Raffi yang menggunakan mobil, akhirnya menawarkan tumpangan.


"Nggak usah repot-repot, Kak. Aku naik angkot aja." Fitri awalnya menolak tawaran Raffi.


"Ayo cepetan, Fit! Keluarga kita kan satu kampung. Itu berarti kita termasuk keluarga juga," bujuk Raffi. Membuat Fitri tidak kuasa menolak.


Di perjalanan, atensi Raffi tertuju ke arah seragam Fitri yang kumal. Jelas cewek itu tidak berasal dari kalangan keluarga yang berada. Setidaknya dia tahu alasan Fitri dirundung oleh teman-temannya.


"Ngomong-ngomong, siapa orang yang sering bully elo?" tanya Raffi.


"Gengnya Yeni, Kak. Pernah denger tentang mereka?" sahut Fitri yang berbalik tanya.


"Enggak." Raffi menggeleng seraya tersenyum kecut. Tidak lama kemudian, dia menepikan mobil ke sebuah toko. Raffi berniat membelikan seragam baru untuk Fitri. Dengan tujuan agar cewek itu tidak di bully lagi.


Seperti biasa, Fitri awalnya berupaya keras menolak. Akan tetapi Raffi benar-benar memaksa. Dia sampai menarik pergelangan tangan Fitri. Cewek berkepang dua itu hanya bisa tersipu malu. Ia lagi-lagi tidak bisa menolak bujukan Raffi. Setelan seragam baru sudah didapatkannya.


Ketika melenggang menuju mobil, Fitri menghentikan langkahnya. Dia memanggil nama Raffi. Hingga mengharuskan Raffi langsung berbalik untuk menatapnya.


"Makasih banyak, Kak. Tapi dari sini aku ingin pulang sendiri. Sekali lagi te-terima kasih..." Fitri tidak bisa melanjutkan karena dirinya merasa sangat terenyuh. Tetesan cairan bening luruh dari sudut matanya. Ada rasa malu juga yang berkalut.


Dari kejauhan, ada Elsa yang memperhatikan. Kebetulan dia dan Risna sedang membeli keperluan untuk acara keluarga. Elsa yang tadinya hendak menyapa Raffi, mengurungkan niat. Ia terkekeh, saat melihat sikap Fitri yang berlari meninggalkan Raffi. Fitri memang cukup populer. Tetapi populer sebagai anak miskin dan dekil.


"Elsa! Cepat bawa semua belanjaannya!" panggil Risna. Selama seharian penuh, dia cukup sering mengomel dan menyuruh Elsa.


...***...


Waktu menunjukkan jam tujuh malam. Acara keluarga di kediaman Elsa mulai didatangi oleh banyak tamu. Sebagian besar tamu merupakan keluarga Elsa sendiri, serta tetangga-tetangga terdekat. Termasuk keluarga Raffi.


Kebetulan Raffi hanya datang bersama ibunya. Kini mereka tengah sibuk menikmati hidangan sambil sesekali mengobrol.


"Mas Irwan nggak ikut, Kak?" tanya Risna.


"Dia belum pulang dari tugas dinas." Heni memberikan alasan. Senyuman kecut terpatri diwajahnya.


Mendengar basa-basi sang ibu, Raffi memilih beranjak. Dia berniat mencari Elsa. Lagi pula ada sesuatu yang ingin dibicarakan.

__ADS_1


Sedari tadi Elsa duduk termenung di sofa. Tidak ada satu pun keluarga yang mengajaknya bicara. Bahkan kalau ada, mereka hanya menanyakan kabar untuk sekedar basa-basi.


Perlahan Elsa melirik ke arah Vina. Sepupunya itu justru digeromboli oleh beberapa orang. Vina mendapatkan beragam pujian. Apalagi sekarang Vina terlihat lebih cantik. Sesekali Risna dan Fajar akan menanggapi pujian yang diberikan kepada anaknya. Mereka tampak bangga memiliki seorang putri seperti Vina.


Jujur saja, Elsa selalu benci acara keluarga. Akibat sudah tidak memiliki orang tua, dia sering terabaikan. Simpati orang-orang hanya sekedar reputasi yang dimilikinya sebagai anak yatim piatu.


"Di sini lo ternyata. Gue mau ngomong." Raffi mendadak muncul. Merunyamkan keterpakuan Elsa dari lamunan.


"Gue juga. Ikut gue!" Elsa menarik tangan Raffi. Membawa cowok itu jauh dari keramaian.


Tempat paling aman menurut Elsa adalah halaman belakang rumah. Di sana dia memojokkan Raffi ke dinding. Bersikap tidak seperti biasanya.


"Lo marah?" Raffi menarik sudut bibirnya ke atas.


"Gue lihat lo tadi siang jalan bareng Fitri!" balas Elsa.


"Gue cuman anterin dia kok. Lagian harusnya gue yang marah sama lo. Kenapa lo ngungkapin semuanya sama Fahri, hah?!" sembur Raffi. "Sampai bilang-bilang udah nggak perawan segala lagi!" lanjutnya.


"Gue bilang begitu, karena Fahri terus deketin gue! Bahkan di saat dia udah tahu kalau gue pacaran sama lo! Gue terpaksa begitu, karena gue lebih pilih lo!"


"Tapi nggak perlu sampai--" ucapan Raffi terhenti, ketika Elsa tiba-tiba menyumpal mulutnya dengan ciuman. Tidak seperti biasanya, Elsa kali ini langsung memulai ciuman yang meliar.


Raffi merasakan kupu-kupu beterbangan dalam perut. Terasa nikmat dan candu. Dia tentu membalas ciuman Elsa. Tetapi itu tidak berlangsung lama, sebab Raffi berupaya menahan diri. Ia ingat kalau di rumah Elsa sedang ada banyak orang. Gawat jika ada seseorang yang memergoki tindakannya dan Elsa.


"El, masih ada acara keluarga loh. Lagian mulai sekarang, gue mau batasin kelakuan kita yang begini." Raffi mencoba menenangkan Elsa.


"Lo nolak gue? Padahal selama ini gue nggak pernah nolak lo!" sungut Elsa. Ia menenggelamkan wajahnya ke leher Raffi.


"Gue lagi stress hari ini. Plis, jangan bikin stress gue nambah..." lirih Elsa.


Raffi terdiam seribu bahasa. Dia jadi merasa bersalah. Matanya memejam rapat, kala bibir Elsa menyentuh kulit lehernya. Perlahan Raffi mendorong Elsa dan berucap, "Oke? Jadi mau lo apa?"


"Kita lakuin di kamar gue!" Elsa memimpin jalan lebih dulu. Dalam keadaan memegangi lengan Raffi.


Setibanya di kamar, Elsa segera melepas seluruh pakaian dan telentang di kasur. Raffi yang mengerti, lantas ikut menanggalkan pakaian. Mereka langsung bersetubuh.

__ADS_1


__ADS_2