Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 49 - Liburan [4]


__ADS_3

...༻☆༺...


Ketika semua orang sibuk menikmati liburan, hanya Danu yang tidak. Dia justru dibuat kebingungan akibat kebohongannya sendiri.


Seperti yang diketahui, Danu mengaku dirinya anak orang kaya. Teman-temannya semua tahu kalau Danu sedang berlibur ke Dubai sekarang. Pada kenyataannya, cowok itu tengah sibuk bermain game di kamar. Tepat di sebuah rumah susun yang kumuh.


Saat asyik-asyiknya bermain, grup chat pertemanan Danu mendadak heboh. Gamal terlihat memberitahukan teman-temannya bahwa dia tidak jadi liburan ke Amerika. Cowok itu malah memamerkan kebersamaannya bersama Zara.


Danu tersenyum saat melihat kelakuan Gamal. 'Dasar mesum!' begitulah komentarnya ketika menyaksikan foto Gamal dan Zara. Satu hal yang pasti, setidaknya Gamal tidak berbohong seperti Danu.


Ilustrasi pesan di Grup Chat :


Tirta : Eh, yang liburan jauh, jangan lupa bawain oleh-oleh ya. Gue udah beliin kalian banyak nih...


^^^Gamal : Gue nggak kemana-mana, kampret! Tapi nanti pas pada pulang gue traktir makan di restoran nyokapnya Raffi.^^^


Raffi : Gue bawain kalian batu sungai aja ya. Di desa nggak ada apa-apa. Kalau mau, gigi palsu nenek gue aja.


^^^Gamal : Boleh, sama gusinya aja sekalian. Eh Danu, beliin gue emas khas Dubai kalau bisa. wkwk.^^^


Tirta : Eh, di Dubai mall-nya banyak loh. Di sana enak cari barang-barang merek designer ternama. Lo udah keliling nggak, Dan?


Danu menggigit bibir bawahnya. Dia berpikir sejenak. Mencari alasan yang tepat untuk dikatakan kepada teman-temannya. Alhasil Danu memberitahu kalau dia sudah berkeliling kota Dubai. Dia mengatakan telah mendatangi semua mall yang ada.


Sayangnya, Danu malah kembali harus menanggung akibat dari berbohong. Semua teman-temannya justru semakin mengharapkan oleh-oleh darinya.


Gamal dan kawan-kawan menuntut oleh-oleh dari Danu. Sambil berbalas pesan canda, mereka terus mendesak. Hingga membuat Danu tidak kuasa untuk menolak lagi.


Danu menggaruk-garuk kepala frustasi. Kini dia mencari cara untuk mendapatkan uang. Danu ingin membeli barang bermerek untuk teman-temannya. Rasa gengsi membuat dia seolah harus membuktikan bahwa dirinya benar-benar anak orang kaya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Danu segera memeriksa dompetnya. Kebetulan dia hanya punya uang dua ratus ribu rupiah.


"Mana cukup kalau begini?" gumam Danu sembari mendengus kasar. Dia lantas berjalan keluar kamar.


Waktu menunjukkan jam 12.30. Kedua orang tua Danu sudah tidur nyenyak. Danu memanfaatkan waktu itu untuk diam-diam memeriksa lemari di kamar ayah dan ibunya.


Setiap titik diperiksa Danu. Dari mulai di bawah lipatan baju hingga laci. Sampai tibalah Danu menemukan sebuah kotak kayu kecil dibalik lipatan baju rak paling bawah.


Danu langsung membuka kotak kayu tersebut. Pupil matanya membesar tatkala melihat tiga gepok uang seratus ribuan. Bukannya mengambil satu gepok, Danu justru mengambil ketiganya. Uang simpanan kedua orang tuanya langsung ludes.


Keesokan harinya, ayahnya Danu yang bernama Wildan panik. Sebab dia menemukan uang simpanannya hilang. Wildan berpikir, pasti tadi malam ada maling yang masuk.


Danu yang mendengar, bersembunyi dari balik pintu. Dia hanya diam dan menguping pembicaraan kedua orang tuanya.


"Padahal uang itu Bapak kumpulin buat masa depan Danu. Biar dia bisa kuliah juga kayak orang-orang..." jawab Wildan seraya menahan tangisan.


"Yang sabar ya, Pak. Aku yakin, nanti uangnya diganti lebih banyak sama yang di atas," ujar ibunya Danu yang tengah menenangkan sang suami.


Ketika Wildan sudah pergi berkeliling untuk menjual bakso, Danu segera bersiap-siap pergi ke mall. Dia sengaja mengenakan topi dan masker. Berjaga-jaga kalau nanti bertemu salah satu temannya. Terutama Gamal, yang kebetulan tidak jadi berlibur ke Amerika.


"Eh, kamu mau kemana?" tanya ibunya Danu.


"Mau ketemu teman, Bu." Danu menjawab singkat. Kemudian beranjak pergi begitu saja.


Hanya perlu waktu setengah jam, uang yang dibawa Danu langsung habis. Tidak ada yang tersisa. Hanya ada barang-barang bermerek yang dia beli untuk semua temannya.


"Ah, gue nggak mungkin bawa barang-barang ini ke rumah..." gumam Danu sambil berpikir keras. Dia lantas mendatangi sebuah rumah kosong yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Danu sengaja menyembunyikan barang pembeliannya di dalam bak mandi yang tidak berair. Selanjutnya, dia menutupi barang-barang tersebut dengan kardus bekas.


...***...

__ADS_1


Di sisi lain, Fitri memperbolehkan Raffi ikut dengannya. Keduanya melenggang bersama. Hening menyelimuti suasana. Sebab Raffi menikmati pemandangan di sekitar. Sedangkan Fitri bingung harus bicara apa. Lidah gadis itu terasa kelu.


Entah kenapa Raffi terpikir tentang dua kado misterius yang dia terima. Jika Zara bukan pelakunya, maka otomatis Fitri-lah pengirim sebenarnya. Karena saat disuruh bertemu di belakang sekolah, Raffi menemukan Fitri ada di sana.


"Eh, gue belum tahu nama lo." Raffi berjalan beriringan bersama Fitri. Mereka menyusuri ladang jagung.


"Fitri, Kak." Fitri menjawab singkat. Dia memukul jidat karena kecewa dengan dirinya sendiri. Intinya Fitri kecewa karena tidak pandai mengajak gebetannya mengobrol. Seharusnya dia bisa memanfaatkan waktu dengan baik.


"Lo yang kirim kado permintaan tolong itu ke gue kan?" tanya Raffi. Menyebabkan kening Fitri sontak mengerut dalam. Ia segera berbalik badan.


Mata Fitri langsung terbelalak, saat Raffi tidak sengaja hampir menabraknya. Wajah cowok tampan itu menjadi sangat dekat. Menyebabkan jantung Fitri berdebar tidak karuan.


"Ma-maaf, Kak..." wajah Fitri memerah bak kepiting rebus. Dia merasa gugup sekaligus malu.


"Ka-kayaknya aku nggak bisa nemenin Kakak deh. Maaf!" Fitri memberitahu dengan tergagap. Lalu berlari meninggalkan Raffi seorang diri. Dia merasa sangat malu bukan kepalang.


"Eh, eh... Fit! Lo mau kemana?!" panggil Raffi sambil mengedarkan pandangan. Dia menghentakkan satu kakinya. Kemudian memutuskan kembali ke rumah nenek. Untung saja Raffi masih ingat jalan pulang. Jadi dia tidak tersesat. Raffi agak menyesal sudah sempat mengikuti Fitri.


Sesampainya di rumah, Raffi memilih memainkan ponsel. Jujur saja, dia harus diam-diam mengambilnya. Karena ibunya bersikeras melarangnya bermain ponsel. Heni melakukannya agar Raffi tidak terpaku dengan ponsel. Terutama ketika menghabiskan waktu bersama keluarga.


Raffi berlari ke belakang rumah. Dia duduk di bawah pohon yang rindang. Di sana Raffi berbalas pesan dengan semua teman-teman grup chatnya.


Raffi juga tidak lupa mengintip media sosial milik Elsa. Dia menatap lekat foto terbaru Elsa yang tersenyum lebar.


"Bahagia banget lo tanpa gue!" komentar Raffi. Seakan sedang bicara dengan Elsa.


Raffi juga memeriksa riwayat pesan terbaru. Dia berharap bisa menemukan nama Elsa di sana. Bukannya menemukan Elsa, dirinya malah mendapatkan video pertengkarannya dengan Elsa kemarin. Rupanya video tersebut sudah tersebar luas.


Lidah Raffi berdecak kesal. Menurutnya semua gara-gara Elsa. Cewek itulah yang memaksa untuk bicara di pinggir lapangan. Tempat yang cukup ramai untuk dilihat orang.

__ADS_1


'Elsa pasti lagi asyik chatan sama Fahri. Bisa-bisanya dia lupain gue secepat itu.' Raffi membatin sambil geleng-geleng kepala.


__ADS_2