
...༻☆༺...
Raffi sangat terkejut atas perbuatan Zara. 'Cewek ini benar-benar gila!' begitulah hal yang terlintas dalam benak Raffi.
Jujur saja, Raffi cukup tergoda. Hal itu kemungkinan karena akifitas kebut-kebutan yang memacu adrenalin tadi. Menyebabkan libido dalam diri Raffi meningkat.
Entah kenapa ciuman Zara terasa sangat berbeda dari Putri. Cewek itu sepertinya memang pandai merayu lelaki.
Raffi meneguk salivanya sendiri. Dia mencoba mengontrol kelajuan mobil terlebih dahulu. Sedangkan Zara terlihat tidak berhenti tersenyum sambil memandangi Raffi.
"Jadi, gimana?" Zara menuntut jawaban. Satu tangannya sengaja menyentuh bagian pangkal paha Raffi. Sentuhannya berhasil membuat darah disekujur badan Raffi berdesir hebat.
"Rumah lo dimana? Gue nggak tahu," ujar Raffi. Dia mencoba tidak mempedulikan pernyataan Zara. Raffi segera menjauhkan tangan nakal Zara dari pahanya.
Zara memanyukan mulut kecewa. Meskipun begitu, dia tahu kalau Raffi cukup tergoda dengan perlakuannya.
"Gue nggak mau pulang! Kalau ke rumah lo baru gue mau," jawab Zara seraya memperhatikan kuku-kukunya yang dihiasi kotek kuning.
"Apaan sih lo, Ra?" Raffi menggeleng tak percaya. Perlahan salivanya sendiri kembali terteguk. Dia kini menjaga pandangannya dari Zara.
Zara tersenyum saat melihat jakun Raffi bergerak. Dia tahu betul bahwa Raffi sedang menelan ludahnya sendiri.
"Ya udah, kalau gitu. Panti asuhan gue ada di gang situ tuh. Berhenti aja di sana." Zara menunjukkan arah yang tepat.
Raffi perlahan menepikan mobil. Dia menyuruh Zara untuk segera turun. Namun cewek itu tidak kunjung keluar mobil. Zara malah beringsut mendekati Raffi.
Sebelum Zara sempat melakukan sesuatu, Raffi lebih dulu keluar dari mobil. Dia menghela nafas lega ketika berhasil menghindari serangan Zara yang kedua.
"Rumah panti lo yang mana?" tanya Raffi. Dia memancing Zara agar bisa secepatnya keluar dari mobil.
Zara memasang rupa cemberut. Dia akhirnya keluar dari mobil. Cewek itu berhenti melangkah tepat di hadapan Raffi.
"Lo nggak anggap pernyataan gue tadi serius ya?" tukas Zara.
"Udah ah! Gue bakal anggap kalau lo nggak pernah ngomong begitu," kata Raffi seraya membuka pintu mobil. Dia ingin cepat-cepat pergi.
__ADS_1
"Ya udah, makasih udah mau nganterin gue..." ungkap Zara lirih.
Raffi langsung pergi dengan mobilnya. Kini dia dapat mendengus lega. Hampir saja Raffi terjerumus dalam godaan Zara. Sekarang dia setidaknya mengerti, kenapa Gamal tidak bisa lepas dari pengaruh Zara.
...***...
Hari demi hari berlalu. Ulangan semester selesai dalam kurung waktu sekitar dua belas hari. Sekarang seluruh murid hanya perlu memperbaiki nilai lewat remedial.
Kebetulan upacara peresmian pengurus osis baru selesai dilakukan. Semua anggota osis terlihat sibuk membersihkan ruangan. Sebenarnya ada beberapa anggota yang tidak ada. Mereka tidak bisa ikut karena sedang sibuk menjalani remedial. Termasuk Elsa salah satunya.
Hanya Gamal, Tirta dan Danu yang tampak duduk santai. Mereka seperti raja dan dua pengawal yang sibuk memperhatikan rakyat jelata bekerja.
"Mal, lo liburan kemana nanti?" tanya Tirta.
"Nggak tahu. Bokap gue katanya mau ke Amerika. Kalau kalian berdua?" Gamal menatap Danu dan Tirta secara bergantian.
"Gue sama keluarga mau ke Paris sih." Tirta menjawab tenang. Berbanding terbalik dengan Danu. Cowok itu terlihat seperti kebingungan.
"Kalau lo, Dan?" Gamal menuntut jawaban. Setahu dia, semua orang dilingkaran pertemanannya berasal dari keluarga kaya raya.
"Keluarga gue tahun ini liburan ke Dubai," sahut Danu sembari mengusap tengkuk tanpa alasan.
Danu berusaha ikut tertawa. Pada kenyataannya, dia hanya anak tukang bakso keliling. Danu memang sengaja berpura-pura kaya agar bisa mempunyai teman. Selain itu, lewat pertemanan tersebut, Danu juga sering kali mengambil kesempatan untuk mendapat untung.
Di sisi lain, Raffi sibuk memberi bimbingan tentang apa saja yang harus dibersihkan. Pasalnya sebagian anggota osis di isi oleh murid kelas sepuluh. Sedangkan murid kelas dua belas, sepenuhnya tidak di ikutkan lagi. Hal itu karena mereka harus bersiap dengan ujian kelulusan.
Tap!
Tap!
Tap!
Seorang siswa baru saja berhenti berlari. Dia sekarang berdiri sambil mengatur nafas. Posisinya berdiri tepat berseberangan dengan tempat Gamal sedang duduk santai. Melihat kedatangan siswa itu, Gamal berseringai.
"Wah, lo telat!" cegat Gamal. Menghentikan siswa yang baru datang untuk melangkah. Dia ternyata adalah Fahri. Siswa yang baru-baru ini populer karena perubahan penampilannya.
__ADS_1
"Maaf, Kak. Tadi aku baru selesai tugas remedial Bahasa Indonesia." Fahri memberi alasan.
"Oh, gitu..." Gamal memanggut-manggutkan kepala.
"Ya udah, Kak. Aku bantu bersih-bersih ya," ujar Fahri seraya beranjak pergi. Namun Gamal lagi-lagi menghentikan pergerakannya.
"Tunggu dulu!" titah Gamal. Dia segera memanggil Raffi untuk bergabung.
"Kenapa sih, Mal? Bukannya bantuin bersih-bersih juga," keluh Raffi. Dia berjalan mendekat. Atensinya langsung tertuju ke arah Fahri.
"Lihat nih ada siapa?" Gamal mendorong Fahri ke hadapan Raffi.
Fahri yang sedari tadi menunduk, perlahan mendongakkan kepala. Dia merasa lebih nyaman dengan Raffi. Seperti yang Fahri bilang, dirinya memang mengagumi sosok Raffi.
"Kalau gue jadi lo, gue udah hajar muka dia." Gamal memposisikan diri ke samping Raffi. Ia meletakkan siku ke bahu temannya tersebut.
Raffi memutar bola mata jengah. Dia tidak mendengarkan perkataan Gamal dan malah menyuruh Fahri bersih-bersih. Raffi juga tidak lupa memaksa Gamal, Danu dan Tirta untuk membantu.
"Elaah... sumpah malas benget gue," gumam Gamal seraya mengambil kemoceng dengan tenaga lunglai. Meskipun begitu, dia tetap membantu Raffi dan yang lain membersihkan ruangan.
Tidak lama kemudian, Elsa datang. Cewek itu hanya tersenyum tipis kepada Raffi. Melihat kedatangan Elsa, Fahri bergegas menghampiri. Dia lagi-lagi mengobrol akrab bersama Elsa.
Raffi berdecak kesal. Dia terlalu lamban dan hanya bisa memperhatikan Elsa dari kejauhan. Sesekali Raffi akan menyibukkan diri mengelap jendela kaca.
"Tuh kan, harusnya tadi lo tonjok mukanya!" Gamal mendadak muncul di sebelah Raffi. Sosoknya memang seperti setan yang suka membisikan keburukan.
"Lo bener! Gue udah nggak tahan. Sumpah itu cowok nggak tahu diri. Padahal anak kelas sepuluh loh. Belagu banget!" gerutu Raffi sambil membilas kaca dengan penuh amarah.
"Itulah salah satu alasan gue marahi dia habis-habisan kemarin!" cetus Gamal. Menyebabkan pitam Raffi semakin memuncak. Apalagi ketika melihat Elsa tampak terus bercanda bersama Fahri.
Raffi akhirnya melempar lap basah ke lantai. Kemudian menghampiri Elsa dan Fahri. Dia memanggil nama Elsa satu kali.
"Kenapa, Raf?" tanya Elsa dengan senyuman yang menampakkan lesung pipitnya.
"Ke kantin yuk!" ajak Raffi.
__ADS_1
"Tapi kan gue baru aja bantu bersih-bersih." Elsa mengernyitkan kening. "Nanti aja ya, nunggu gue selesai." Elsa menolak ajakan Raffi.
Kini Raffi mendengus kesal. Dia berdiam sejenak di dekat Elsa. Namun perasaan kesalnya malah tambah parah. Melihat keakraban Elsa dan Fahri dari dekat membuat Raffi gusar. Elsa bahkan mengabaikan Raffi seperti patung pajangan.