
...༻☆༺...
Setelah menyelesaikan soal dengan baik, Raffi disuruh duduk. Bu Salsa lantas kembali menjelaskan materi pelajaran.
"Kalian ingat bukan, bahwasanya sifat koligatif larutan terdiri dari dua jenis, yaitu sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif larutan nonelektrolit. Maka..."
"Raf, gue boleh tahu nggak kenapa lo tiba-tiba nyatain visi misi pas pidato tadi? Bu Lestari bisikin apa sih?" tanya Gamal dengan nada pelan. Penjelasan Bu Lestari hanya terdengar samar di telinganya.
Raffi hanya tersenyum. Lalu meletakkan jari telunjuk ke depan bibir. Menandakan kalau dirinya sama sekali tidak berminat untuk mengobrol.
Gamal memutar bola mata jengah. Ia menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Baginya belajar adalah sesuatu yang membosankan. Cowok itu sudah tiga kali menguap.
Ketika bel istirahat berbunyi, Gamal seolah menemukan surga. Dia mengajak teman-temannya untuk pergi ke kantin.
"Gue nggak ikut ya. Gue mau ke perpus!" ujar Raffi sembari mengambil buku tulis dan pulpen
"Yah... lo nggak seru banget sih. Gue traktir deh." Gamal menggerakkan alisnya dua kali.
"Kagak." Raffi menjawab sambil menepuk pundak Gamal. Kemudian beranjak lebih dulu keluar kelas.
Di perpustakaan, Raffi melenggang melewati rak-rak buku yang berjejer. Dia sebenarnya berniat mencari buku referensi untuk tugas les. Yaitu buku mengenai anatomi.
Dari arah belakang, ada seorang gadis yang diam-diam mendekat. Dia sengaja berjalan berjinjit agar Raffi tidak tahu. Sayangnya, Raffi dapat melihat jelas gadis itu melewati kaca lemari yang ada di depannya.
"Jangan bikin keributan di perpustakaan." Raffi berucap tepat sebelum gadis di belakangnya berbuat iseng.
"Ish! Dari mana lo tahu sih," respon gadis yang tidak lain adalah Elsa. Dia gagal mengagetkan Raffi dari belakang.
Raffi tersenyum tipis. "Lo nggak ke kantin?" tanya-nya sambil sibuk melihat-lihat jejeran buku.
"Tadinya iya, tapi pas lewat perpustakaan gue nggak sengaja nemu elo." Elsa menyandarkan kepala ke rak buku. Manik hitamnya terus terfokus ke arah Raffi. Entah kenapa hari demi hari, perasaan cinta Elsa terhadap cowok itu semakin dalam. Rasanya dia tidak ingin berpisah walau satu detik.
"Lo kenapa lihatin gue kayak gitu. Gue pasti ganteng banget ya?" sindir Raffi seraya merapikan kerah bajunya.
__ADS_1
"Emang nggak boleh? Lagian kita cuman berduaan kok di sini. Orang-orang pada banyak ke rak depan tuh. Mereka lebih suka baca buku novel. Mungkin lo satu-satunya yang tertarik sama buku tentang anatomi. Ini pasti berkaitan sama mimpi lo yang pengen jadi dokter kan?" Elsa berujar panjang lebar. Dia berjalan mengiringi Raffi yang masih berusaha mencari buku.
"Kalau udah tahu, ngapain nanya?" Raffi berbalik menghadap Elsa. Lalu mengacak-acak puncak kepala ceweknya itu.
Elsa tersenyum simpul. Menautkan dua tangannya dibalik punggung. Dia menikmati momennya sekarang bersama Raffi. Tetapi ketika bel pertanda masuk kelas berbunyi, segalanya terasa runyam bagi Elsa.
"Yah..." Elsa menunduk kecewa. Dia reflek memegangi perut yang mendadak keroncongan. Karena tidak ingin kepergok Raffi, dia lantas pergi tanpa berpamitan. Namun Raffi dengan sigap memegangi tangannya.
"Nanti pas istirahat kedua kita ke kantin bareng. Kebetulan gue juga laper," ungkap Raffi yang ikut-ikutan memegangi perut.
"Oke, sip!" Elsa mengacungkan jempolnya. Kemudian segera pergi setelah Raffi melepaskan tangannya.
...***...
Saat istirahat kedua tiba, Raffi dan Gamal bergegas keluar kelas. Mereka sama-sama punya kepentingan. Bahkan tidak memperbolehkan Danu dan Tirta untuk ikut.
Gamal berbelok arah kala Raffi memilih jalan lurus. Raffi hanya ingin cepat-cepat ke kantin, tepat sebelum kantin dipenuhi oleh banyak orang. Akan tetapi dia langsung mendengus kasar. Sebab kantin sudah terlanjur dipenuhi banyak siswa yang kelaparan.
'Bagaimana bisa secepat ini?' batin Raffi. Dia terpaksa membeli roti dan minuman segar. Tidak lupa juga cemilan berupa keripik. Raffi tentu tidak melupakan janjinya dengan Elsa.
Elsa terlihat melambaikan tangan dari kejauhan. Lalu berlari kecil menghampiri Raffi. Keduanya otomatis pergi ke area belakang sekolah.
"Lo beli roti apa?" tanya Elsa sembari menyamakan langkahnya dengan Raffi.
"Roti cokelat sama stroberi," jawab Raffi. Dia memperlihatkan isi pelastik yang dibawanya.
Elsa segera mengambil roti dan minuman dari pelastik Raffi. Cewek itu berlari lebih dahulu untuk duduk di bangku panjang yang ada di belakang sekolah.
Raffi menyusul Elsa. Dia segera duduk di samping cewek itu. Menikmati roti serta minuman yang telah dibelinya tadi.
Elsa terlihat makan dengan lahap. Dia sepertinya lebih lapar dibanding Raffi. Hingga tanpa sengaja dia harus tersedak dengan makanannya sendiri.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Elsa terbatuk sambil memegangi tenggorokan.
__ADS_1
"Ya ampun, pelan-pelan, kutu!" Raffi menepuk-nepuk pundak Elsa. Berharap makanan yang tersendat di tenggorokan Elsa dapat keluar.
Plak!
"Ish! Bukannya disayang malah dikatain kutu. Dipukul lagi! Uhuk! Uhuk!" tukas Elsa yang masih terbatuk. Dia memukul bahu Raffi cukup kuat.
"Gue kan mukulin pundak biar makanan yang bikin lo keselek itu keluar." Raffi memberikan alasan.
Elsa hanya mendelik. Lalu meneguk minuman soda yang dibelikan oleh Raffi. Dia berhenti tersedak.
Bruk!
"Gamal!"
Tiba-tiba terdengar keributan dari gudang. Bukan saja benda yang terjatuh, tetapi juga suara seorang gadis. Raffi dan Elsa sontak menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, gue salah denger atau apa? Suara cewek itu manggil nama Gamal kan?" tanya Elsa dengan kening yang mengernyit.
"Iya, gue juga denger kok." Raffi mendengar hal yang sama seperti Elsa. "Apa perlu kita cek? Suara cewek tadi kayak ketakutan nggak sih?" lanjut Raffi bertanya.
"Lo ada benarnya, Raf. Takutnya Gamal lakuin sesuatu yang tidak-tidak." Elsa mengungkapkan pendapat.
Raffi lantas mengangguk. Kemudian segera beranjak menuju gudang. Dia menggerakkan kakinya dengan pelan. Hal serupa juga dilakukan Elsa. Cewek itu berjalan di belakang Raffi.
"Raf, gimana kalau itu setan? Terus tanpa sadar, kita berdua masuk ke dunia lain?" cicit Elsa seraya berpegangan ke pinggul Raffi. Dia berlindung di balik badan kekasih sekaligus sahabatnya tersebut.
"Dasar! Lo kebanyakan nonton film horor, El. Mana ada setan kenal sama Gamal?" balas Raffi. Ia reflek menghentikan langkahnya akibat ucapan Elsa yang tidak logis.
"Bukannya kelakuan Gamal emang kayak setan ya?" seru Elsa.
"Justru karena kelakuannya yang biadab itu setan nggak mau temenan sama dia. Setan-setan pada nggak pede." Bukannya memeriksa gudang, Raffi dan Elsa malah sibuk bercanda. Mereka sempat-sempatnya saling tertawa.
"Hahaha... emang bisa ya setan nggak pede?" Elsa tertawa terpingkal-pingkal akibat candaan Raffi.
__ADS_1
Prang!
Raffi dan Elsa berhenti tertawa saat suara barang yang pecah mendadak terdengar. Kini keduanya bergegas memeriksa apa yang ada di dalam gudang. Mata mereka membulat bersamaan ketika menyaksikan sesuatu yang mengejutkan.