Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 74 - Ketahuan Pacaran


__ADS_3

...༻☆༺...


Elsa bergegas menghampiri Raffi. Dia ingin memastikan tingkat keparahan memar di wajah kekasihnya. Dengan pelan Elsa memegang beberapa titik memar di wajah Raffi.


"Aw!" Raffi mengerang kesakitan saat Elsa tidak sengaja menekan memarnya.


"Eh, sorry!" Elsa mengikik geli. Membuat ekspresi Raffi seketika berubah menjadi cemberut.


"Sengaja ya?" pungkas Raffi. Mulutnya memanyun sebal. Namun Elsa sekali lagi hanya terkekeh. Dia sekarang mengusap lembut memar di wajah Raffi.


"Eh, Ra! Lo kayaknya emang nggak peduli ya sama gue?" timpal Gamal. Dia merasa iri dengan kepedulian yang diberikan Elsa kepada Raffi. Matanya melirik penuh harap ke arah Zara.


"Ya udah, sini! Mana wajah lo?!" Zara menghampiri Gamal. Ia langsung memegangi wajah Gamal. Lalu mengkomat-kamitkan mulut seolah sedang membaca mantra. Di akhir, Zara meniupi wajah Gamal beberapa kali.


"Gila lo! Dikira gue kerasukan setan apa?!" Gamal menjauhkan tangan Zara. Dia bergegas mengelap wajahnya yang dirasa kena ludahan Zara.


Elsa tergelak. Hal serupa juga dilakukan Raffi tanpa sengaja. Apa yang dilakukan Zara terhadap Gamal berhasil membuat mereka merasa geli.


"Lo itu emang udah lama kerasukan setan!" pungkas Zara.


"Sok suci banget lo! Kayak sendirinya enggak!" balas Gamal. Dia mendengus kasar.


Zara lekas-lekas tersenyum. Kemudian membawa Gamal masuk ke dalam pelukan. Gamal dalam keadaan duduk, sedangkan Zara berdiri. Menyebabkan posisi kepala Gamal tenggelam di bagian dada cewek tersebut.


"Hush! Kita ada di ruang BK loh!" tegur Raffi. Takut saat menyaksikan Gamal dan Zara bermesraan.


"Ra!" Elsa menarik Zara. Bertepatan dengan itu, Bu Lestari masuk ke dalam ruangan. Untung saja Zara sudah melepaskan pelukannya dari Gamal. Meskipun begitu, Raffi, Gamal, Elsa dan Zara tetap dirundung rasa panik.


"Loh, Elsa sama Zara ngapain di sini?" tanya Bu Lestari. Menatap Elsa dan Zara secara bergantian.


"Ya udah, kami permisi, Bu..." ujar Zara sembari memegangi lengan Elsa. Keduanya bergegas meninggalkan ruang BK.


Bu Lestari dapat menyimpulkan apa yang dilihatnya. Dia merekahkan senyuman tipis. Lalu duduk ke kursi.

__ADS_1


"Oh, jadi Ibu paham sekarang. Kenapa pihak yayasan bantuin Zara." Bu Lestari menatap Gamal dengan penuh selidik.


Gamal yang sejak tadi menunduk, perlahan mendongakkan kepala. Dahinya berkerut seakan tidak mengerti. "Apa maksud Ibu?" tukasnya. Memasang raut wajah tak bersalah.


Raffi yang duduk di sebelah, hanya melayangkan tatapan malas. Menurutnya sia-sia saja usaha temannya itu untuk melakukan pembelaan.


"Kamu sama Zara pacaran ya? Ngaku aja. Ibu nggak bakalan marah kok. Pacaran itu nggak apa-apa, asal tahu batasannya," tutur Bu Lestari.


Gamal memutuskan membungkam mulut. Dia hanya menggaruk bagian belakang kuping tanpa alasan. Setidaknya Gamal bisa berlagak sibuk dengan berbuat begitu.


"Iya, mereka pacaran, Bu." Bukannya Gamal, justru Raffi yang memberikan jawaban untuk Bu Lestari.


Mendengar seruan Raffi, Gamal langsung melotot. Dia berniat melakukan pembalasan. "Dia juga pacaran, Bu! Sama Elsa!" ungkapnya sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah Raffi.


Mata Raffi sontak membola. Dia tidak bisa membantah kebenaran yang ditujukan kepadanya.


Bu Lestari terlihat biasa saja dengan informasi yang diberikan Gamal. Wanita tersebut malah sibuk membuka lembaran buku. Kemudian menuliskan sesuatu di sana.


"Kalau hubungan Raffi sama Elsa. Ibu sebenarnya sudah lama curiga. Jadi, Ibu nggak kaget lagi." Bu Lestari melemparkan senyum kepada Raffi.


"Masalahnya di sini adalah... kenapa kalian berdua tadi bisa berantem? Kalian udah ngaca belum? Wajah kalian itu udah kayak ubi jalar!" timpal Bu Lestari. Ia menyilangkan tangan di depan dada. Menatap tajam kepada dua anak didiknya yang duduk tepat di hadapan.


"Gamal yang nonjok aku duluan, Bu. Ya aku nggak bisa tinggal diam dong." Raffi memberitahu lebih dulu.


"Eh! Lo ngehina gue duluan. Kalau mulut lo nggak ngomong gitu, mana mungkin gue nonjok muka lo!" Gamal melakukan pembelaan. Dia bicara kepada Raffi.


"Tapi kalau sampai ke fisik itu udah berlebihan kali. Lo kalau mau ngelakuin sesuatu nggak pernah mikir dua kali!" balas Raffi.


"Udah, udah! Bukannya kalian teman dekat ya? Coba kasih tahu ibu asal-usul masalahnya!" sergah Bu Lestari.


Raffi dan Gamal langsung membisu. Keduanya tentu bingung harus berkata apa. Karena jika mereka memberitahukan yang sebenarnya, maka sama saja dengan bunuh diri. Raffi yang memiliki otak encer pun kebingungan.


"Loh, kok pada diam aja? Cepat kasih tahu Ibu, biar masalah kalian bisa secepatnya selesai." Bu Lestari mendesak.

__ADS_1


Raffi memejamkan rapat matanya. Setelah merasa tenang dan yakin, barulah dia bicara.


"Gini, Bu. Masalahnya cuman salah paham aja deh. Gamal marah karena saran yang aku berikan sama Ibu tempo hari." Raffi memberikan alasan sekenanya. Diam-diam kakinya menyenggol kaki Gamal.


"Aku cuman nggak mau Ibu repot kok. Apalagi sampai datang ke rumahku segala. Kan nggak enak, Bu." Gamal yang mengerti lekas angkat suara.


"Masalah itu, Ibu mau ngomong serius sama kamu nanti. Kita bicara empat mata setelah ini," sahut Bu Lestari. Menunjukkan mimik wajah penuh ketegasan. "Tapi Ibu mau pastiin masalah kalian berdua selesai dulu. Kalau kalian bersedia saling memaafkan, selesai sudah masalahnya," sambungnya lagi.


"Ya udah, kayaknya itu yang terbaik." Raffi memanggut-manggutkan kepala. Memutar tubuhnya menghadap Gamal. Kemudian menyodorkan satu tangan.


"Maafin gue ya, Mal..." ungkap Raffi. Dia tidak punya pilihan selain mengalah. Lagi pula Raffi juga harus menutupi kesalahannya di klub malam. Jadi yang terbaik adalah bekerjasama dengan Gamal.


"Ya udah, kalau gitu gue juga minta maaf." Gamal menyambut tangan Raffi. Keduanya saling bersalaman dalam sekian detik.


"Jadi, masalahnya udah selesai kan? Kalian harus janji sama Ibu, jangan pernah berantem lagi. Baik itu di sekolah, rumah dan tempat umum. Apalagi sampai ke ranah fisik. Yang rugi itu bukan cuman kalian, tapi juga orang-orang di sekitar." Bu Lestari memberikan wejangan.


"Iya, Bu." Raffi dan Gamal menjawab bersamaan. Mereka dalam keadaan sama-sama menundukkan kepala.


Bu Lestari mendengus lega. "Ya udah. Raffi, kamu boleh kembali ke kelas," suruhnya. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Bu Lestari segera mencegah pergerakan Raffi. Ada hal yang belum sempat dibicarakannya.


"Tunggu sebentar! Ada yang ingin Ibu bicarakan. Ini terkait olimpiade Matematika sama program pertukaran pelajar yang kamu terima. Ibu ingin kamu memilih salah satu--"


"Aku pilih olimpiade Matematika, Bu!" ucap Raffi. Sengaja memotong ucapan Bu Lestari. Dia memang sudah bertekad menolak program pertukaran pelajar.


"Kamu langsung buat keputusan sendiri? Nggak mau diskusiin sama orang tua dulu?" Bu Lestari memastikan.


"Mereka pasti setuju kok, Bu. Dua-duanya menurutku sama aja. Cuman beda tempat doang," sahut Raffi.


"Oke..." Bu Lestari mencoba memahami.


Raffi hendak beranjak pergi. Akan tetapi tidak jadi, karena baru teringat dengan rencana pindah kelas dan pengunduran diri sebagai wakil ketua osis. Raffi segera membicarakannya kepada Bu Lestari. Tepat di hadapan Gamal yang kebetulan masih belum beranjak.


"Lo serius, Raf?" Gamal menatap tak percaya.

__ADS_1


"Kalau gue nggak serius, ngapain gue bahas ini sama Bu Lestari. Lagian ini juga salah satu solusi biar kita nggak berantem lagi. Benar kan, Bu?" Raffi meminta pendapat Bu Lestari. Gurunya tersebut lantas membalas dengan anggukan serta senyuman tipis.


Kini Gamal dirundung perasaan gelisah. Dia sudah membayangkan bagaimana kemarahan ayahnya. Andai nilai akademiknya turun drastis, maka matilah Gamal. Ia tidak hanya mendapat omelan, tetapi juga kehilangan segala fasilitas mewah dari sang ayah.


__ADS_2