
...༻☆༺...
Raffi baru saja pulang dari les. Saat masuk ke rumah, dia sukses memergoki ibunya menangis. Dahi Raffi otomatis mengerut. Cowok itu tidak pernah melihat sang ibu menangis tanpa alasan yang jelas.
"Mamah kenapa nangis?" tanya Raffi. Kedatangannya membuat Heni terperanjat. Wanita itu bergegas menghapus air mata.
"Eh, nggak apa-apa kok. Kamu kenapa datangnya diam-diam begitu, pakai salam kek!" ujar Heni. Sengaja merubah topik pembicaraan.
"Lupa, Mah. Hehehe..." Raffi mengusap tengkuknya tanpa alasan. Dia kembali memperhatikan wajah Heni yang tampak sembab.
"Ayo, Mah. Bilang sama aku, kenapa Mamah nangis?" Raffi sekali lagi bertanya.
"Astaga... nggak apa-apa kok. Mamah cuman nonton sinetron aja tadi. Sedih banget," jelas Heni.
"Kebiasaan deh, Mamah." Raffi memutar bola mata malas. Dia dipaksa ibunya agar segera mandi dan makan malam.
Setelah melakukan semua suruhan Heni, Raffi berisirahat di kamar. Ia telentang sambil memainkan ponsel. Berbalas pesan dengan Elsa sekaligus grup pertemanan lain.
Semua orang membicarakan pesta ulang tahun Olive. Katanya pesta itu akan diadakan di tempat mewah. Murid-murid yang diundang hanya orang-orang pilihan. Cowok populer seperti Raffi, tentu saja menjadi salah satu orang yang di undang. Sebuah panggilan telepon dari Elsa langsung diterima Raffi.
"Awas kalau lo berani datang ke pesta Olive besok malam!" ancam Elsa dari seberang telepon. Tetapi Raffi justru tergelak mendengarnya.
"Terserah gue dong... bukannya lo juga di undang ya?" balas Raffi sengaja menggoda Elsa.
"Setelah kejadian tadi sore? Nggak banget kali!" imbuh Elsa.
"Pokoknya percaya aja sama gue. Lagian satu-satunya cewek yang berhasil bikin gue sayang itu cuman lo." Raffi melantunkan gombalannya untuk menghibur Elsa. Usahanya berhasil membuat Elsa cekikikan.
"Dasar gembel!" tukas Elsa. Lalu mematikan telepon lebih dulu. Meskipun pembicaraan di telepon telah selesai, Raffi masih belum memudarkan senyuman di wajahnya.
Akibat kelelahan, Raffi perlahan tertidur. Ia terlelap sekitar tiga jam lebih. Ketika waktu menunjukkan jam satu dinihari, Raffi terbangun. Suara keributan berhasil membuatnya harus membuka mata.
__ADS_1
Raffi beringsut ke ujung kasur. Dia melangkah ke depan pintu. Memasang telinganya baik-baik. Dari sana Raffi dapat mendengar ayah dan ibunya sedang bertengkar. Sesuatu yang terbilang langka untuknya.
"Dinas, dinas, dinas aja terus! Emang ada ya dinas dilakukan hampir setiap minggu?! Ada ya, Mas?!"
"Kamu bisa tenang nggak?! Kalau Raffi dengar nanti dia khawatir loh."
"Gimana aku bisa tenang coba! Gimana, Mas?!"
Kening Raffi mengernyit dalam. Perasaan cemas langsung menyelimuti. Bagaimana tidak? Selama beberapa tahun terakhir, Raffi tidak pernah mendengar pertengkaran orang tuanya sampai separah itu. Atau karena memang dia hanya tidak tahu hingga sekarang? Raffi terbilang sangat jarang terbangun tengah malam. Karena ketika siang, dia sering disibukkan dengan jadwal yang padat.
Raffi perlahan melangkah mundur. Ia kembali telentang ke kasur. Menurutnya pertengkaran dalam rumah tangga wajar terjadi. Jadi Raffi menyimpulkan kalau ayah dan ibunya hanya bertengkar karena masalah kecil. Dia berharap pemikiran positifnya dapat berdampak baik.
Di waktu bersamaan, Gamal terbangun dari tidur. Dia bertelanjang dada dan mengenakan celana boxer. Tubuhnya tertutupi selimut. Sedangkan di sebelahnya ada Zara yang asyik tertidur pulas.
Gamal meraih ponselnya. Ia memeriksa berita di internet puluhan kali. Insiden tabrak lari yang dilakukannya benar-benar terus menghantui. Perasaan Gamal jadi tidak karuan.
"Lagi ngapain?" Zara mendadak bersuara.
"Dikira gue setan apa?!" sahut Zara sembari memanyunkan mulut. Dia bergelayut manja di pundak Gamal. Tubuh cewek itu tidak dibalut oleh satu helai benang pun.
"Ra, gue mau pulang." Gamal melepas pelukan Zara. Kemudian berdiri dan mengenakan pakaian.
"Lo nggak mau nginap di sini? Ini apartemen kita bersama loh," ucap Zara. Dia sekarang menutupi bagian depan badannya dengan selimut.
"Nanti gue pasti nginap. Gue takut bokap pulang hari ini. Soalnya setiap hari kamis, dia selalu pulang. Biar itu tengah malam sekali pun," terang Gamal. Dia sudah selesai mengenakan pakaian.
"Ya udah kalau gitu. Hati-hati ya." Zara melambaikan satu tangannya untuk Gamal. Cowoknya itu perlahan menghilang di telan pintu.
Perlu waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke rumah. Jantung Gamal berdegub kencang ketika menyaksikan mobil ayahnya ada di halaman rumah.
Gamal berhenti sejenak di depan pintu. Mempersiapkan mentalnya terhadap apa yang akan dilakukan oleh Afrijal. Setelahnya, barulah dia membuka pintu.
__ADS_1
Benar saja, sosok Afrijal langsung menyambut Gamal. Matanya menyalang penuh amarah. Sementara di sampingnya ada Tania yang duduk dengan mimik wajah sendu.
"Kamu memang sangat berbeda dengan kakak-kakakmu!! Kenapa kamu hobi sekali bikin malu Papah, hah?!!" pungkas Afrijal.
"Maksud Papah apa?" Gamal tidak mengerti.
"Apa kamu bilang?! Apa?!! Sehabis pulang sekolah kamu kemana?! Kamu tahu nggak kalau tadi ada polisi yang cari kamu?! Tahu nggak?!!" geram Afrijal. Emosinya tersulut bagaikan api.
"Tenang, Pah. Lebih baik kita bicarain baik-baik." Tania mencoba menenangkan. Namun dia justru kena dorongan dari Afrijal. Hingga Tania terhuyung ke belakang. Wanita itu hampir terjatuh ke lantai. "Dasar tukang selingkuh! Kamu sama anakmu yang ini sama aja!!" geram Afrijal blak-blakan. Membuat Tania tertohok dan tidak mampu berkata-kata.
Selepas puas membungkam mulut Tania, kini Afrijal kembali beralih menatap Gamal. "Polisi tadi memperlihatkan rekaman CCTV kamu nabrak orang!" kata Afrijal.
Deg!
Jantung Gamal serasa disambar petir. Hal yang paling dia takutkan sejak tadi pagi akhirnya terjadi. Matanya tampak bergetar karena takut.
"Papah keluarkan banyak sekali uang buat selamatkan kamu! Banyak sekali!!! Uang untuk nilai akademik kamu! Uang biar kamu bisa jadi ketua osis! Semuanya Papah lakukan buat kamu!!!" Afrijal mendorong kepala Gamal berulang kali. Wajahnya memerah padam. Dia yang seringkali berbuat kekerasan, kali ini menangis.
Afrijal terduduk di lantai sambil memegangi kepala. Dia menangis tersedu-sedu. Kecewa, hanya ada kekecewaan di hatinya. Mengingat dua kakak Gamal sudah enggan pulang karena lebih memilih pekerjaan. Sementara istrinya sering keluar rumah karena sibuk pergi bersama lelaki lain. Sekarang masalah bertambah lagi dengan kelakuan Gamal yang perilakunya sulit di atur.
"Orang tua yang aku tabrak masih hidup nggak, Pah?" tanya Gamal seraya melangkah lebih dekat ke hadapan Afrijal.
"Mulai sekarang, jangan pernah lagi membicarakan insiden tabrak lari itu! Lebih baik kamu masuk ke kamar! Cepat!" titah Afrijal.
"Maafin aku, Pah..." Gamal merasa tidak enak hati menyaksikan ayahnya menangis.
"Udah, Mal. Lebih baik kamu ke kamar aja ya." Tania berusaha membawa Gamal berdiri. Akan tetapi Gamal tidak menghiraukan.
"Pergi kalian berdua dari sini! Aku ingin sendiri..." Afrijal mengeratkan rahang. Namun baik Gamal maupun Tania, keduanya masih belum beranjak.
"AKU BILANG PERGI!" bentak Afrijal.
__ADS_1
Gamal dan Tania akhirnya pergi ke kamar masing-masing. Meninggalkan Afrijal sendirian di ruang tengah. Saat itulah lelaki paruh baya itu berdiri. Lalu mengambil botol alkohol yang disembunyikan di laci lemari paling bawah. Afrijal minum-minum akibat merasakan stres.