Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 39 - Perdebatan


__ADS_3

...༻☆༺...


"Tunggu!"


Sebelum Gamal sempat memilih wakil ketua osis, Bu Lestari tiba-tiba menyela. Suasana menjadi hening dalam sekejap. Gamal yang menyaksikan sikap Bu Lestari, memutar bola mata jengah.


Bu Lestari bergegas menghampiri Pak Willy. Dia menanyakan perihal hasil voting yang dirasa meragukan. Bu Lestari tentu merasa aneh kenapa seluruh murid justru memilih Gamal sebagai ketua osis.


Bu Lestari mengambil microphone. Lalu bekata, "Aku ingin menanyakan kepada kalian semua. Apakah kalian yakin dengan hasil voting yang sudah dilakukan tadi?"


"Kami yakin, Bu! Jika Gamal jadi ketos, kami bisa makan gratis di kantin tiga kali dalam seminggu!" salah satu siswa terdengar menjawab. Seruannya sukses membuat semua murid lain mengangguk dan setuju. Bahkan ada yang bersorak senang. Gamal yang melihat, tentu merasa puas.


"Tapi..." Bu Lestari kehabisan kata-kata. Dia mematung di tempat. Tepat di hadapan seluruh pasang mata. Bu Lestari sepenuhnya telah menjadi pusat perhatian.


"Tapi apa, Bu? Aku nggak pantas ya buat jadi ketua osis? Bilang aja kalau Ibu nggak suka sama aku." Gamal berjalan ke hadapan Bu Lestari. Dengan beraninya dia mengangkat dagu. Seakan tidak takut dan hormat kepada Bu Lestari.


"Gamal! Beraninya kamu tatap mata Ibu dengan cara begitu! Jika kamu ingin menjadi ketua osis, harusnya kamu tahu sopan santun!" omel Bu Lestari. Dia tidak tahan dengan sikap Gamal.


Bu Lestari lantas kembali memposisikan microphone ke depan mulut. Dia kembali bersuara, "Beginikah sikap orang yang ingin kalian jadikan ketua osis? Apa kalian semua yakin? Kalian tadi bisa lihat sendiri bagaimana sikap Gamal kepada Ibu. Tolong katakan kalau Gamal sudah melakukan sesuatu untuk mencuci otak kalian! Oh, jangan bilang Gamal mengancam kalian?!"


"Cukup! Ibu udah keterlaluan tahu nggak!" protes Gamal seraya merampas microphone dari tangan Bu Lestari. Kemudian membantingnya ke lantai.


Suara lengkingan dari microphone langsung terdengar. Semua orang reflek menutup telinganya masing-masing. Bahkan ada yang berteriak karena merasa dibuat kaget.


Bu Lestari memegangi dadanya. Dia gemetar ketakutan karena amukan Gamal yang tak terduga. Bu Lestari otomatis mencoba meminta bantuan guru lain untuk mempertahankan pendapat. Dia tidak mau murid seperti Gamal menjadi ketua osis.


Sayangnya, semua guru yang lain hanya menunduk dan terdiam. Apalagi ketika sosok lelaki dengan dua pengawal masuk ke aula. Dialah ayah kandung Gamal.


Afrijal Laksana, dia tidak hanya orang yang berpengaruh untuk Gamal. Tetapi juga untuk semua orang yang telah menjadi anggota yayasan Kejora Laksana. Kebetulan Afrijal banyak membangun sekolah swasta. Ada sekitar sepuluh buah di seluruh provinsi. Parahnya semua yayasan yang dia bangun selalu sukses besar.


Bu Lestari perlahan ikut menundukkan kepala. Dia bukanlah apa-apa jika orang yang berkuasa telah berhadir.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa suasananya sangat tegang?" tanya Pak Erwin yang turut datang bersamaan dengan Afrijal. Keduanya dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan.


"Gamal disuruh pidato, Pak. Tapi microphone-nya jatuh," jelas Pak Willy berkilah. Dia menyuruh Gamal untu mengambil microphone yang sudah tergeletak di lantai.


"Apa benar Gamal sudah terpilih jadi ketua osis? Afrijal memastikan.


"Benar, Pak. Ini semua berdasarkan hasil voting seluruh murid," sahut Pak Willy.


Afrijal menganggukkan kepala. Dia segera duduk untuk menyaksikan putranya berpidato.


Gamal tersenyum puas. Dia memberikan pidato singkat seadanya. Gamal mengatakan terima kasih kepada semua murid yang sudah bersedia memilihnya. Cowok itu juga tidak lupa memberitahu, bahwa dirinya akan berusaha keras agar bisa menjadi ketua osis yang baik.


Pidato Gamal diakhiri dengan tepuk tangan. Kini Pak Willy menyarankan Gamal agar bisa mengumumkan wakil ketua osis pilihannya.


"Kalian pasti tahu orang yang paling dekat sama gue di antara tiga kandidat. Siapa lagi kalau bukan Raffi. Gue pilih Raffi sebagai wakil ketua osis kita!" ujar Gamal seraya menunjuk Raffi dengan tangannya.


Raffi yang mendengar sama sekali tidak kaget. Sejak awal dia memang berfirasat kalau dirinya akan dipilih oleh Gamal. Rencana Raffi untuk menjauh dari Gamal jadi gagal total. Ia disuruh berdiri ke sebelah Gamal. Putri dan Agung yang kalah, memberi ucapan selamat kepada Raffi.


"Aku harap kamu bisa bantu Gamal, Raf. Dia butuh bimbingan kamu. Aku percaya kalau kamu adalah orang baik," tutur Agung lembut.


Raffi berjalan malas ke samping Gamal. Dia memasang raut wajah datar. Pasrah dengan apa yang sudah diterimanya.


"Raf, lo nggak mau kasih selamat sama gue?" Gamal menyenggol Raffi dengan siku. Dia bersikap seolah melupakan insiden microphone tadi.


"Mal, lo mending minta maaf sama Bu Lestari." Raffi menatap Gamal dengan serius.


Gamal justru berseringai. "Harusnya Bu Lestari yang minta maaf sama gue. Dia ngehina gue di depan semua orang!" balasnya.


Raffi menggeleng tak percaya. Dia memang tidak pandai berurusan dengan Gamal. Makanya Raffi selalu tidak bisa lepas dari pengaruh cowok berambut cepak itu.


Setelah sesi ketua dan wakil osis terpilih. Barulah dilakukan pemilihan anggota osis yang lain. Dua kandidat yang tersisa tetap diwajibkan untuk bagian dari pengurus osis.

__ADS_1


Gamal sebagai ketua osis, memastikan semua teman-temannua ikut. Dari mulai Danu, Tirta, Zara bahkan Elsa.


Mengenai upacara peresmian pengurus osis, akan dilaksanakan senin nanti. Biasanya dilaksanakan setelah upacara bendera.


...***...


Kegiatan pemilihan voting sudah selesai. Afrijal selaku ayahnya Gamal ingin bicara empat mata dengan sang putra. Mereka pergi ke ruangan kepala sekolah untuk bicara. Pak Erwin kebetulan yang menawarkan Afrijal agar bisa beristirahat di sana.


"Mal, Papah nggak nyangka kamu akan terpilih menjadi ketua osis," ungkap Afrijal. Dia duduk menyandar sambil merentangkan dua tangannya.


"Ini semua karena dukungan Papah juga. Sekarang aku boleh minta mobil itu kan?" Gamal menaikkan kedua alisnya secara bersamaan.


"Lamborghini maksud kamu?" tebak Afrijal yang langsung dijawab Gamal dengan anggukan. Dia seperti kelinci yang tunduk dan menggemaskan saat ada di hadapan ayahnya.


"Ya udah, nanti pesan aja jenis mobil yang kamu mau sama Pak Beno. Biar beliau yang mengurus pembeliannya," ujar Afrijal. Dia yang tadinya bersikap ramah, perlahan memasang raut wajah cemberut. Afrijal bangkit dari tempat duduk.


"Papah dengar nilai akademik kamu buruk. Apa gunanya jadi ketua osis kalau nilai akademik kamu merah semua!" Afrijal berbicara serius. Suasana tiba-tiba menjadi tegang.


"Aku udah berusaha semaksimal mungkin, Pah..." Gamal memberanikan diri menatap Afrijal.


Buk!


Afrijal dengan teganya menendang wajah putranya sendiri. Gamal sontak meringkuk ketakutan. Kini wajah tampannya kotor karena terkena sepatu milik Afrijal.


"Dasar anak sialan! Udah dikasih uang yang banyak masih saja teledor! Kamu emangnya mau jadi satu-satunya keturunan Laksana yang nggak kuliah, hah?! Kamu itu yang terburuk dibanding dua kakakmu!" Afrijal sekarang mendorong kepala Gamal berulang kali.


"Disuruh les bolos terus. Sekolah nggak karuan. Kamu mau jadi apa?! Kalau begini terus nggak perlu kamu jadi bagian keluarga Laksana!" Afrijal belum berhenti mengomel.


"Gimana aku mau serius belajar, Pah! Kalau Papah sama mamah nggak pernah ada di rumah!" Gamal mencoba berani. Dia sudah lelah terus mengalah.


"Kamu ya!" amarah Afrijal kian memuncak. Wajahnya memerah padam. Urat-urat lehernya bahkan tampak menegang. Dia mengangkat satu tangan ke arah Gamal. Berniat ingin memberikan tamparan keras.

__ADS_1


__ADS_2