Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 33 - Cowok Tidak Pernah Peka


__ADS_3

...༻☆༺...


Kini Raffi dan Vina duduk bersebelahan di dalam mobil. Mereka dalam perjalanan menuju bengkel terdekat.


"Makasih ya, Kak. Maaf kalau ngerepotin..." ungkap Vina lembut. Ia tampak memainkan jari-jemarinya tanpa alasan.


"Santai aja kali, Vin. Gue kan juga kakak lo," sahut Raffi. Ia tentu sudah menganggap Vina layaknya adik sendiri.


Vina memudarkan senyuman yang mengembang. Dia sedih saat dirinya hanya dianggap sebagai seorang adik di mata Raffi. Vina mengangakan mulut karena hendak bicara. Namun Raffi keburu bicara lebih dulu. Mobil kebetulan telah tiba di tempat tujuan.


"Nah kita udah sampai," seru Raffi seraya keluar dari mobil. Dia langsung mengeluarkan sepeda Vina dari bagasi. Lalu menyerahkannya ke tukang bengkel.


Raffi menemani Vina sampai sepeda selesai diperbaiki. Apa yang dilakukannya berhasil membuat Vina semakin kagum.


"Kak Raffi, mau minum? Biar aku beliin ya," tawar Vina. Padahal dia sendiri yang haus.


"Eh, gue nggak usah. Lo aja yang tunggu di sini. Biar gue aja yang beliin." Raffi tersenyum dan beranjak ke toko yang ada di seberang jalan. Naluri empatinya memang tidak pernah diragukan. Sudah melekat semenjak Raffi masih kecil.


Vina menangkup wajahnya sendiri. Kemudian menghentak-hentakkan kaki secara bergantian. Senyuman merekah lebar dengan hiasan sipu malu di kedua pipi. Cewek mana yang tidak klepek-klepek saat dibelikan minuman oleh gebetan?


Ketika berada di toko, Raffi mengambil kesempatan untuk menghubungi Elsa. Sikap aneh cewek itu sedikit membuatnya khawatir.


"Kenapa, sayang?..." jawab Elsa lembut dari seberang telepon.


"Apaan deh. Lo kenapa aneh banget hari ini?" timpal Raffi. Dahinya mengerut dalam.


Elsa terkekeh geli. "Iya dong. Soalnya gue punya sesuatu buat lo. Lo masih di bengkel sama Vina?" tanya-nya.


"Iya, bentar lagi kami pulang." Raffi menjawab sambil menoleh ke belakang. Tepat dimana posisi bengkel berada.


"Lo ingat kan sama janji? Kita bakal lari marathon setelah pulang sekolah," cetus Elsa bertekad.


"Emang jadi ya? Lo nggak capek?" balas Raffi.

__ADS_1


"Enggak dong. Ngapain capek. Orang tadi kita nyantai aja kok pas di sekolah," ucap Elsa. Ia terdiam sejenak dan melanjutkan, "kalau gitu gue tunggu lo ya. Kita tanding di pabrik terbengkalai dekat gang."


"Oke. Ya udah," sahut Raffi. Panggilannya dan Elsa berakhir disitu. Dia lantas segera mengambil minuman kemasan. Lalu beranjak kembali menemui Vina.


"Makasih ya, Kak." Vina tidak berhenti mengaitkan anak rambut ke daun telinga. Perasaannya mungkin tengah berbunga-bunga. Dia juga berusaha terus curi-curi pandang.


Raffi terlihat biasa-biasa saja. Ternyata bukan naluri empati saja yang melekat pada dirinya, tetapi juga naluri ketidakpekaan.


Selang sepuluh menit berlalu. Sepeda Vina dapat digunakan kembali. Meskipun begitu, Raffi tetap memaksa Vina untuk ikut dengannya. Dia bukan tipe cowok yang mau menelantarkan seorang perempuan begitu saja.


"Makasih banyak ya, Kak. Maaf udah ngerepotin," tutur Vina. Dia bersikap malu-malu. Segalanya dapat dilihat dari sikapnya yang sesekali menundukkan kepala.


"Ya ampun, Vin. Udah berapa kali coba lo bilang terima kasih." Raffi geleng-geleng kepala sembari tersenyum tipis. Sikap malu-malu Vina membuatnya merasa sedikit gemas.


...***...


Setibanya di tempat tujuan, Raffi langsung menyaksikan Elsa sudah menunggu di depan rumah. Cewek itu sibuk memainkan ponsel sambil duduk di bawah pohon.


"Udah selesai? Gimana sepeda lo, Vin? Nggak ada masalah lagi kan?" Elsa bertanya baik-baik. Namun justru dibalas dengan tatapan tajam dari Vina. Cewek berperawakan berisi itu melingus melewati Elsa sembari menarik sepeda.


Elsa hanya bisa menatap nanar Vina. Kali ini dia tidak mau diam lagi. Elsa melajukan langkah dan menghentikan pergerakan Vina.


"Lo kenapa sih akhir-akhir ini dingin banget sama gue? Gue salah apa, Vin? Jujur aja kali. Kalau gue ada salah, mungkin gue bisa perbaiki." Elsa sekali lagi bicara dengan baik-baik. Raffi yang melihat, terpaku untuk mendengarkan.


"Nggak ada apa-apa kok. Aku cuman capek aja, Kak." Vina memilih berkilah. Lagi pula jika dia mengatakan yang sebenarnya, otomatis Elsa akan tahu mengenai perasaannya terhadap Raffi. Setelah memberi penjelasan singkat, Vina kembali melenggang maju. Gadis itu masuk ke garasi untuk menyimpan sepeda.


Elsa menoleh ke arah Raffi. Kemudian menghampiri posisi cowok itu. Dia segera mendapat pertanyaan dari Raffi mengenai apa yang terjadi.


"Nggak tahu deh. Pokoknya sikap Vina sama gue berubah banget sekarang. Gue nggak tahu kenapa..." lirih Elsa yang dilanjutkan dengan dengusan kasar.


"Mungkin lo nggak sengaja pakai sempaknya kali. Kan pakaian dia sama punya lo ke campur gitu pas di jemur," tebak Raffi asal. Matanya melirik ke tempat pakaian Elsa biasa di jemur. Yaitu di atas loteng.


"Idih! Jadi lo selama ini merhatiin sem*pak gue? Mesum banget sumpah!" komentar Elsa sambil geleng-geleng kepala. Walaupun begitu, dia tidak bisa menahan rasa geli di perutnya.

__ADS_1


"Eh, enggaklah! Gue cuman ngungkapin pendapat kok. Kan lo satu rumah sama Vina. Kemungkinan alasan dibalik kemarahan Vina, bisa aja berkaitan sama barang pribadi." Raffi memberikan bantahan tegas.


Elsa terdiam seribu bahasa. Ia berpikir pendapat Raffi ada benarnya. Namun Elsa tetap saja merasa aneh. Sebab Vina tidak pernah bersikap begitu sebelumnya.


"Jadi nggak kita lari marathon? Lo nggak ganti baju, El?" tukas Raffi. Dia heran dengan Elsa yang masih mengenakan seragam sekolah. Bahkan tas ransel cewek itu belum terlepas dari punggung.


"Jadi dong. Gue malas ganti seragam. Lo temanin gue ya. Jangan ganti baju lo!" titah Elsa seraya memaksa Raffi untuk kembali masuk ke dalam mobil.


"Lah, katanya lari marathon? Kok malah ngajakin naik mobil?" kedua alis Raffi terlihat hampir bertautan.


"Jalan aja dulu!" saran Elsa. Bibirnya yang ranum dan tipis, memanyun ke depan. Dia lalu mengukir senyuman lebar. Menampakkan lesung pipit yang jelas di kedua pipi.


Raffi menghela nafas panjang. Dia menuruti keinginan ceweknya. Saat itulah Elsa membuka tas ransel miliknya. Kemudian mengeluarkan sebuah kado dari sana.


Melihat kado yang dipegang Elsa, Raffi perlahan mengembangkan senyuman. "Pasti buat gue kan?" terka-nya, percaya diri.


"Iya, lo juga bikin kado buat gue nggak?" Elsa berbalik tanya. Menatap Raffi dengan ekor matanya.


Deg!


Jantung Raffi mendadak berdegub kencang. Bukan karena cinta atau apa, tetapi akibat rasa gugup. Bagaimana tidak? Hari valentine saja Raffi lupa, apalagi membuat kado untuk Elsa.


Raffi tersenyum kecut. Dia menepikan mobil ke tepi jalan terlebih dahulu. Raffi dan Elsa kebetulan sudah sampai di depan pabrik terbengkalai dekat gang.


"Gue tahu makna senyuman lo itu!" Elsa mengarahkan jari telunjuk ke wajah Raffi. "Lo nggak bikinin gue kado kan?" pungkasnya dengan perasaan penuh keyakinan.


"Sorry ya, El. Lagian ini hari valentine, mana gue ingat coba. Kalau hari ulang tahun lo gue pasti ingat." Raffi memberikan alasan seadanya.


Elsa memutar bola mata sebal. Meskipun begitu, dia mencoba memahami Raffi. Elsa tidak bisa membantah kalau cowoknya itu tidak pernah lupa dengan ulang tahunnya.


"Ya udah, nih!" Elsa memberikan kadonya untuk Raffi.


"Wah... ini kado gue yang paling spesial hari ini," puji Raffi. Mencoba membuat perasaan Elsa melambung. Dia langsung membuka kado pemberian Elsa.

__ADS_1


__ADS_2