Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 95 - Teman Yang Mabuk


__ADS_3

...༻☆༺...


Candaan Raffi dan kawan-kawan harus berakhir, ketika seorang perempuan bunting dari depan gerbang muncul. Cewek itu menyerukan nama Tirta berkali-kali. Tetapi Tirta justru sama sekali tidak peduli.


"Dia siapa?" tanya Raffi. Dia tidak jadi menumpang di mobil Gamal, melainkan ikut mobil Tirta. Raffi tidak mau menjadi pengganggu di antara Olive dan Gamal.


"Nggak tahu gue." Tirta menjalankan mobil selaju mungkin. Tanpa memperdulikan cewek hamil itu.


"Tirta, Biarkan gue ngomong! Pokoknya lo harus tanggung jawab!" ujar cewek bunting tersebut. Itu merupakan kalimat terakhir yang didengar Raffi selepas mobil dilajukan. Dia tidak bisa berkata-kata atau menaruh rasa curiga. Raffi akan berpikir positif saja.


Waktu terlewati. Sekarang jarum jam mengarah hampir ke angka sepuluh. Elsa bersiap hendak tidur. Namun suara bel pintu membuatnya urung beranjak ke kamar.


Mata Elsa terbelalak saat melihat Zara datang. Dia sontak dirundung rasa panik. Sebab mata Zara terlihat merah. Cewek itu juga berjalan dengan sempoyongan. Elsa dapat menyimpulkan kalau Zara sedang mabuk.


"Zara, lo kenapa ke sini?" Elsa gelagapan. Ia sangat takut paman dan tantenya tahu.


"Gue lagi stress, El..." lirih Zara sambil melangkah masuk. Lalu menjatuhkan diri ke pelukan Elsa.


"Gila lo, Ra!" umpat Elsa. Dia terpaksa membawa Zara ke kamar. Elsa tidak punya pilihan lain.


Kala telah berada di dalam kamar, Elsa tidak lupa untuk mengunci pintu. Zara tampak berlari ke kamar mandi. Kemudian memuntahkan isi perutnya ke dalam closet.


"Lo nggak apa-apa, Ra?" Elsa mengelus pundak Zara. Berharap mual yang dirasakan temannya itu dapat berkurang.


Setelah beberapa kali muntah, Zara akhirnya tersandar ke dinding. Ia meselonjorkan kakinya. Zara berguman tidak karuan. Dia bahkan sesekali berteriak. Mengharuskan Elsa turun tangan untuk menutup mulutnya.


Perasaan Elsa jadi tidak karuan. Jika Zara terus berisik, maka cepat atau lambat, pamannya pasti akan tahu. Alhasil Elsa meminta bantuan Raffi untuk datang. Dia memberitahukan apa yang telah terjadi dengan Zara.

__ADS_1


Raffi menghela nafas panjang. Dia tidak ada ide lain selain menghubungi Gamal. Raffi memberitahkan keadaan Zara kepada cowok berambut cepak tersebut. Tanpa berpikir lama, Gamal segera mendatangi kediaman Raffi. Mereka akan bekerjasama dalam hal membantu Zara.


Untuk yang kedua kalinya, Raffi kabur lewat jendela. Cuaca kebetulan sedang lembab. Hujan yang lebat baru saja berlalu.


Gamal terlihat sudah menunggu di bawah. Cowok itu memasukkan kedua tangan ke saku jaket. Dia membawakan Raffi sebuah tangga. Gamal memang disuruh Raffi mengambil tangga milik pamannya Elsa.


"Lo yakin itu Zara?" tanya Gamal yang cemas. Dia menyaksikan Raffi yang baru turun dari tangga.


"Elsa yang kasih tahu gue. Sebaiknya kita pastiin lebih dulu ke sana!" ajak Raffi. Dia dan Gamal berderap menuju jendela kamar Elsa.


Secara bergantian, Raffi dan Gamal menaiki tangga. Setelah berhasil naik, keduanya langsung mengetuk jendela kamar Elsa.


Tanpa pikir panjang Elsa segera menyuruh Raffi dan Gamal masuk. Mereka tidak lupa untuk membawa tangga ikut naik ke atas. Elsa terpaksa memasukkan tangga tersebut ke dalam kamar.


"Mal, Zara-nya ada di kamar mandi." Elsa memberitahu. Gamal lantas memeriksa.


"Pergi lo playboy goblok!" hardik Zara yang sepertinya marah kepada Gamal.


"Ra, Plis... jangan berisik dong! Nanti paman gue bangun," tukas Elsa yang sudah kewalahan menghadapi ocehan Zara.


"Lo kenapa gini sih? Gara-gara gue ya?" Gamal mengangkat dua alisnya secara bersamaan. Senyuman tipis juga merekah di wajahnya.


"Anjir, Mal. Lo malah main-main coba!" kritik Raffi. Terheran dengan sikap Gamal.


"Gue benci--" Gamal membekap mulut Zara. Kini cewek itu hanya bisa bergumam tidak karuan. Dia menyerang Gamal dengan pukulan bertubi-tubi. Zara mengamuk dan menggeliat tidak karuan.


"Bantuin gue bawa dia ke kasur dong!" mohon Gamal. Raffi dan Elsa otomatis membantu.

__ADS_1


Jujur saja, Raffi dan yang lain kesulitan membawa Zara ke kasur. Mereka terpaksa memegangi Zara dengan kuat agar bisa meninggalkan kamar mandi. Dengan susah payah, akhirnya Zara bisa direbahkan ke kasur.


"Jadi gimana nih?" Elsa menatap Raffi dan Gamal secara bergantian. Berharap dapat menemukan solusi secepatnya.


"Gue nggak bisa bawa Zara kalau dia masih begini." Gamal mengulurkan dua tangannya. Kemudian duduk ke ujung kasur.


"Maksud lo kita harus nunggu dia sadar?" Elsa memastikan.


"Sepertinya gitu. Nggak mungkin kan kita bawa dia keluar dari jendela. Kecuali..." Raffi menatap pintu kamar Elsa. Menurutnya itu satu-satunya jalan teraman.


"Enggak, Raf! Kalau Zara tiba-tiba teriak, terus bikin Paman gue bangun gimana?" Elsa tidak terima.


"Udah deh. Kita tunggu bentar aja dulu. Gue capek! Lagian kamar lo enak juga, El." Gamal merebahkan diri ke samping Zara. Dia terlihat santai saja.


Elsa ingin melakukan protes, tetapi dengan kehadiran Gamal, Zara tampak lebih tenang. Cewek itu bahkan mulai memeluk Gamal dari samping.


"Raf, lo jangan pulang dulu ya. Gue nggak mau hadapin mereka berdua sendirian," ujar Elsa.


"Siapa juga yang mau ninggalin lo. Nanti lo kelihatan jomblo lagi," sahut Raffi. Ia mengajak Elsa ikut telentang di kasur.


"Kampret emang lo!" balas Elsa sembari terkekeh. Dia merebahkan kepala ke pundak Raffi. Keduanya saling berpelukan, persis seperti yang dilakukan oleh Gamal dan Zara. Untung saja, kasur Elsa memiliki muatan yang cukup banyak.


..._____...


Catatan Author :


Part tambahan ini, wkwk. Author lagi gabut. Maafkan kalau banyak typo.

__ADS_1


__ADS_2