Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 51 - Mencari Ketos


__ADS_3

...༻☆༺...


Liburan hampir berakhir. Pertanda bahwa seluruh pengurus osis harus kembali pulang. Raffi baru saja tiba di rumah. Dia dan Irwan sedang sibuk mengambil tas dari bagasi.


Atensi Raffi terus tertuju ke arah rumah Elsa. Menurut sepengetahuannya, Elsa sudah kembali pulang dua hari yang lalu.


Raffi masih dirundung rasa gelisah untuk menemui Elsa. Dia ingat jelas betapa hebat pertengkarannya dengan Elsa tempo hari. Selama bersahabat sejak kecil, baru kali itu Raffi bertengkar dengan Elsa hingga saling membentak.


Sebenarnya ada rasa bersalah dalam diri Raffi. Dia memang benar-benar bodoh untuk urusan cinta. Seperti komentar yang pernah diucapkan Elsa kepadanya.


Raffi beristiriahat di kamar. Dia duduk di depan meja belajar sambil menatap ke arah jendela kamar Elsa. Setelah dipikir-pikir, perubahan sikap Elsa terjadi saat dirinya meminta putus.


'Mungkin gue yang harus pertama kali minta maaf ke Elsa. Lagian gue nggak mau Elsa pacaran sama cowok kampret kayak Fahri. Nggak banget!' gerutu Raffi dari dalam hati. Dia lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Elsa.


Raffi mengatakan dalam pesannya, bahwa dia ingin bicara empat mata. Namun Elsa menolak, dan meminta Raffi bicara saat rapat osis nanti. Elsa beralasan kalau dirinya sedang sibuk membantu tantenya.


Lidah Raffi berdecak kesal. Dia tidak bisa memaksa Elsa untuk bertemu. Raffi terpaksa setuju dengan keputusan Elsa.


Raffi menemukan nomor teleponnya masuk ke dalam grup chat baru. Sebuah grup chat khusus pengurus osis dibentuk dalam aplikasi. Grup tersebut dibuat untuk membahas rencana rapat sebelum mos dilakukan. Sayangnya, Gamal selaku ketua osis, tidak kunjung menanggapi diskusi dalam grup. Membuat Raffi dan yang lain otomatis heran.


Raffi berinisiatif menelepon Gamal secara pribadi. Namun nomor telepon Gamal tidak aktif. Kini Raffi bertanya-tanya mengenai keadaan Gamal.


Karena tidak kunjung mendapat kabar, Raffi lantas memutuskan pergi ke rumah Gamal. Ketika hendak masuk ke mobil, kebetulan dirinya menyaksikan kehadiran Fahri. Adik kelasnya itu tampak duduk santai di motor. Menurut dugaan Raffi, Fahri pasti sedang menunggu Elsa.


"Kak Raffi!" tegur Fahri sambil melambaikan tangan.


Raffi mengukir senyuman palsu. Kemudian melangkah menghampiri Fahri. Belum sempat bicara, Elsa terlihat sudah keluar dari rumah. Penampilan cewek itu tampak lebih cantik.


Elsa memakai dress selutut berwarna biru malam. Dia melengkapi tampilannya dengan jaket berbahan jeans. Rambut panjang Elsa tergerai rapi. Ia mengenakan tas selempang.

__ADS_1


Raffi dan Fahri sama-sama terpesona. Atensi mereka tidak teralihkan dari Elsa. Keterpakuan Raffi langsung terhenti ketika Elsa lebih memilih menyapa Fahri dibanding dirinya.


"El, ikut gue! Ada yang mau gue omongin." Raffi memegangi pergelangan tangan Elsa. Cewek itu sontak berhenti melangkah.


"Nanti aja ya, Raf. Gue sama Fahri mau nonton dulu. Jadwal filmnya di mulai sepuluh menit lagi. Nanti kami ketinggalan." Elsa melepas cengkeraman Raffi. Lalu duduk ke motor Fahri. Elsa duduk sambil berpegangan ke pinggul Fahri.


Raffi terperangah. Tetapi sia-sia saja dia menunjukkan ekspresi kesal. Sebab Elsa dan Fahri sama sekali tidak peduli.


"Kami pergi dulu ya, Kak Raffi..." Fahri berpamitan dengan lembut. Bagi Raffi itu adalah ejekan.


Raffi melangkah laju masuk ke mobil. Dia merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal dihatinya. Perlahan mobil bergerak memasuki jalanan beraspal. Sebelum ke rumah Gamal, Raffi berniat menjemput Danu dan Tirta terlebih dahulu.


Mengetahui Raffi akan menjemput, Danu gelagapan. Dia bergegas ke rumah mewah yang selalu disebut miliknya. Padahal Danu hanya berbohong seperti biasa.


Danu tidak lupa singgah ke rumah kosong demi mengambil oleh-oleh semua temannya. Selanjutnya, barulah Danu pergi ke rumah mewah yang di akuinya sebagai tempat tinggal pribadi.


Selang sepuluh menit, Raffi tiba dengan mobilnya. Tirta tampak sudah lebih dulu ada di mobil. Kebetulan rumah Tirta memang searah dengan Raffi. Jadi tidak heran, Raffi akan menjemputnya terlebih dahulu.


"Gue kan udah janji," sahut Danu dengan angkuhnya.


"Thanks ya, Dan. Gue nggak bisa nolak kalau udah di kasih," tanggap Raffi sambil sibuk menyetir mobil.


"Eh, Gamal beneran nggak ada kabar nih?" tanya Tirta seraya mengenakan topi hasil oleh-oleh dari Danu.


"Iya, makanya gue ngajak kalian buat cari dia ke rumah. Takutnya ada apa-apa lagi. Nggak biasanya dia kayak gini," ungkap Raffi yang merasa agak cemas.


"Bukannya terakhir kali kita lihat dia foto sama Zara? Kalian ada nomor Zara nggak?" cetus Danu. Ia menatap Raffi dan Tirta secara bergantian.


"Gue nggak ada." Raffi menjawab singkat.

__ADS_1


"Di grup osis kan ada!" ucap Danu.


"Bentar, gue coba telepon. Jujur, dari kemarin gue nggak kepikiran telepon Zara." Tirta meletakkan ponsel ke telinga. Mencoba menghubungi Zara.


"Emang pas kita ngomongin Gamal di grup, dia nggak ada nongol ya?" Raffi bertanya serius.


"Nggak ada sih. Zara nggak kelihatan ikut diskusi bareng kita," jawab Tirta.


Sama seperti Gamal, nomor telepon Zara juga tidak aktif. Menyebabkan Raffi dan kawan-kawan sontak semakin cemas.


"Wah... gawat nih. Mereka ngapain ya?" imbuh Tirta. Dia sempat menduga hal yang tidak-tidak.


"Udah jangan berprasangka buruk. Mending kita cek langsung ke rumah Gamal." Raffi kian melajukan mobil.


Perlu sekitar lima belas menit untuk sampai ke rumah Gamal. Raffi dan kawan-kawan memencet bel rumah. Tidak perlu menunggu lama untuk menanti pintu terbuka. Bi Nur dengan cepat mempersilahkan masuk.


...***...


Gamal sebenarnya sedang demam. Dia memanfaatkan keberadaan Zara. Cewek itu sudah berhari-hari tinggal di rumah Gamal.


Kebetulan ponsel Zara rusak. Karena tempo hari tidak sengaja terkena nampan yang dilempar oleh Gamal. Dia menuntut untuk ganti rugi. Tetapi Gamal tidak mau mengganti sebelum dirinya kembali sehat. Mungkin begitulah cara Gamal membuat Zara untuk tetap menemani. Setidaknya sampai orang tuanya kembali pulang.


Kini Gamal dan Zara rebahan bersama di kasur. Keduanya sedang sama-sama mengenakan celana pendek. Sedangkan Zara hanya mengenakan tanktop. Keduanya tidak memiliki hubungan apapun. Namun bersikap lebih mesra dibanding orang yang berpacaran.


Gamal membiarkan Zara rebahan di dadanya. Cewek itu asyik membaca buku yang dia ambil dari kamar ayahnya Gamal.


Akibat merasa bosan, Zara berhenti membaca. Lalu merubah posisi menjadi duduk.


"Mal... gue mau bilang sesuatu," celetuk Zara. Mengharuskan manik Gamal perlahan tertuju ke arahnya. Cowok itu memang masih demam. Tetapi tidak separah beberapa jam sebelumnya. Gamal perlahan membaik karena sudah meminum obat demam.

__ADS_1


"Apa?! Lo mau ponsel keluaran terbaru?!" Gamal mengangkat dagunya sekali.


"Gue hamil..." ungkap Zara. Perkataannya sukses membuat mata Gamal yang tadinya sayu, terlihat segar. Gamal langsung duduk tegak.


__ADS_2