
...༻☆༺...
Raffi beranjak dari ruang BK. Baru beberapa langkah berjalan, sebuah tangan tiba-tiba menyeretnya pergi. Siapa lagi kalau bukan Elsa. Cewek itu membawa Raffi ke UKS.
Elsa masih tidak sendiri. Ada Zara yang juga mengikuti. Sepertinya mereka sudah benar-benar menjadi teman dekat.
Ketika sudah di UKS, Elsa segera mengambil kotak P3K. Ia mengoleskan salep khusus untuk mengobati memar Raffi. Elsa mengobati dengan hati-hati. Dia tidak mau melihat Raffi kesakitan lagi.
Sementara Zara, dia duduk di kasur sebelah Raffi dan Elsa berada. Cewek itu cenderung memperhatikan Raffi.
"Aneh banget ya. Biar babak belur gitu, lo masih aja kelihatan ganteng," komentar Zara. Menyebabkan mata Elsa sontak mendelik.
"Santai aja, El. Gue nggak bakal rebut cowok lo kok." Zara terkekeh kala mendapatkan pelototan Elsa.
"Tahu, jelas banget cemburunya. Jadi gemas gue!" Raffi mencubit hidung mancung Elsa. Dia tergelak kecil bersama Zara.
Elsa memanyunkan mulut sebal. Lalu segera melakukan pembalasan. Dia sengaja mengoleskan salep ke wajah Raffi dengan kasar. Kini Raffi yang menerima akibatnya. Cowok itu terus mengaduh kesakitan.
"Nggak enak banget jadi nyamuk. Gue pergi dulu ya. Gue juga mau bawa cowok gue ke sini." Zara beranjak keluar UKS. Raffi dan Elsa hanya merespon dengan anggukan.
"Puas lo, hmm?" ujar Elsa sembari mengulum erat bibirnya.
"Ya udah, kita impas sekarang. Tapi lo nggak harus jadiin lebam gue buat jadi pelampiasan. Nanti kalau tambah parah gimana? Kegantengan gue nanti hilang dari muka bumi," pungkas Raffi percaya diri.
"Idih! Kepedean banget." Elsa mengusap kasar puncak rambut Raffi. Dia yang tadinya berdiri, segera duduk ke kasur. Tepat berhadapan dengan Raffi.
"El, gue bakalan ikut olimpiade Matematika. Mungkin gue bakalan sibuk belajar mukai sekarang," tutur Raffi.
"Terus program pertukaran pelajar itu?" Elsa memastikan.
"Gue nggak jadi ikut. Kan lewat olimpiade Matematika gue tetap bisa keluar negeri." Raffi menatap Elsa yang sibuk merapikan kotak P3K.
__ADS_1
"Iya sih, itu kalau lo berhasil menang di tingkat nasional. Baru bisa wakilin Indonesia ke ranah internasional..." lirih Elsa. Dia terlihat sendu. Memikirkan Raffi pergi saja sudah membuat hatinya tidak karuan.
Raffi tersenyum tenang. Kemudian memaksa Elsa mengangkat kepala. Keduanya kini saling bertatapan.
"El, lo salah satu kekuatan gue. Gue ngerasa beruntung banget..." ungkap Raffi.
Elsa perlahan mengukir senyuman simpul. Satu tangannya memegangi jari-jemari Raffi yang bertengger di pipi. Cewek itu nekat mencium lembut punggung tangan kekasihnya.
Raffi dan Elsa belum memutuskan pandangan satu sama lain. Membuat keduanya tidak bisa menahan keinginan untuk saling menyentuh. Alhasil Raffi beringsut lebih dekat. Dia ingin mengecup bibir kekasihnya yang ranum.
...***...
Selepas Raffi pergi, Bu Lestari langsung angkat bicara. Terutama terkait apa yang sudah dilihatnya saat berkunjung ke rumah Gamal.
"Kalau ada masalah, kamu lebih baik ngomong sama Ibu. Jangan jadikan alkohol atau obat-obatan sebagai pelarian. Itu nggak baik buat kamu." Bu Lestari bicara dengan penuh kepedulian. Tetapi Gamal justru terlihat malas untuk menanggapi.
"Emang Ibu bisa kasih solusi sama masalah aku? Sama bapak aku aja Ibu takut," sahut Gamal.
"Semua orang juga tahu kalau semua guru di sini takut sama bapakku. Termasuk Ibu sendiri." Gamal berusaha bersikap tenang.
"Tapi--"
"Ya udah gini aja, Bu. Aku janji deh nggak bakalan mabuk lagi. Anggap aja apa yang Ibu lihat kemarin itu adalah yang terakhir. Jadi, masalah selesai kan?" Gamal memaksakan dirinya tersenyum. Dia sengaja memotong ucapan Bu Lestari.
"Mal, Ibu tahu orang tua kamu jarang pulang ke rumah. Kamu jadinya kurang mendapatkan perhatian. Kalau kamu merasa--"
"Mereka memang sering nggak di rumah, tapi nggak pernah lupa hubungi aku tiap hari lewat telepon. Mereka perhatian kok, Bu. Makasih udah mau peduli. Aku tiba-tiba kebelet nih..." sekali lagi Gamal menjeda perkataan Bu Lestari. Dia terlalu gengsi mengakui fakta yang diketahui gurunya tersebut. Gamal hanya ingin dipandang normal seperti murid-murid lainnya.
"Ya udah, kamu boleh pergi. Jangan lupa ke UKS dulu ya!" ujar Bu Lestari. Terpaksa mengalah. Dia tidak bisa memaksa, jika Gamal tidak mau bercerita.
Gamal lantas berdiri. Untuk yang pertama kalinya dia menyodorkan tangan kepada Bu Lestari. Padahal selama ini dia tidak pernah mau menyalami tangan Bu Lestari atas inisiatifnya sendiri. Semuanya karena Gamal selalu menganggap bahwa seorang guru BK tidak memberikan ilmu bermanfaat seperti guru lainnya. Seperti yang pernah dia bilang, guru BK kerjaannya hanya sibuk mencari kesalahan siswa dan hobi mengomel. Namun hari ini nampaknya Gamal mengetahui sisi lain dari guru BK.
__ADS_1
Senyuman mengembang di bibir Bu Lestari. Dengan senang hati, beliau membiarkan punggung tangannya dicium oleh Gamal. Interaksi mereka berakhir disitu.
Gamal berlari memasuki toilet. Dia menendang bak sampah yang ada di sana dengan perasaan kesal. Lalu duduk ke atas closet yang ada di dalam salah satu bilik.
Gamal mengacak-acak rambutnya frustasi. Entah kenapa segala pertanyaan Bu Lestari tadi sangat mengena dihatinya. Gamal terlalu malu mengakui. Ia mungkin juga tidak sanggup menjelaskan dengan kata-kata. Gamal semakin malu ketika Bu Lestari terlanjur mengetahui segalanya. Tanpa sengaja cairan bening berjatuhan dari sudut matanya.
Sekarang Gamal merasa masalahnya benar-benar runyam. Dari mulai kehilangan dua temannya, sampai kekhawatiran mengenai nilai akademik.
Ponsel diambil oleh Gamal dari saku celana. Dia berniat memesan serbuk putih yang mungkin dapat menenangkan pikirannya. Gamal tentu tidak bersungguh-sungguh dengan janjinya tadi.
"Gamal! Lo di dalam kan?" suara seorang perempuan mendadak memanggil. Gamal sangat tahu kalau pemilik suara itu adalah Zara.
"Iya! Bentar lagi gue keluar." Gamal mengelap sudut matanya dengan kasar. Lalu keluar dari bilik toilet. Sosok Zara langsung menyambut penglihatan.
"Anjir! Berani banget lo masuk toilet cowok?" timpal Gamal seraya menghampiri wastafel. Dia langsung membasuh wajahnya di sana. Gamal reflek mengaduh, karena lupa ada banyak lebam di wajahnya.
"Cepetan! Habis ini kita ke UKS. Biar gue obatin memar-memar di muka lo." Zara berjalan kian mendekat. Ia berdiri tepat di samping Gamal. Menatap kekasihnya itu dengan nanar.
"Ah, obat begitu nggak mempan buat gue!" jawab Gamal ketus. Dia memutar tubuhnya menghadap Zara. Lalu mengusap kasar wajah lebamnya yang telah basah.
"Astaga! Diperhatiin kok malah gitu jawabnya." Zara membuang muka dari Gamal.
"Gue sekarang ngerasa stress banget, Ra. Kita nggak perlu ke UKS. Ke belakang sekolah aja," usul Gamal.
"Mau ngapain?" Zara menuntut penjelasan.
Gamal memutar bola mata malas. "Sok-sokan nggak ngerti lo," balasnya seraya menarik Zara lebih dekat.
Diam-diam tangan nakal Gamal masuk ke dalam rok abu-abu milik Zara. Namun tangan Zara dengan cepat menghentikan sebelum Gamal sempat menyentuh alat vitalnya.
"Gila lo! Kan gue udah bilang, jangan di sekolah!" tegas Zara dengan nada pelan tetapi penuh akan penekanan.
__ADS_1
"Itu obat bagi gue, Ra." Gamal memasang ekspresi memohon. Dia bahkan mengedipkan matanya berkali-kali. Seperti seekor kucing yang sedang memelas.