
...༻☆༺...
Sementara Raffi dan Gamal berada di toilet, Elsa dan Zara berduaan di meja makan. Keduanya memilih menyepi. Elsa terlihat asyik memainkan ponsel. Mungkin hanya Zara satu-satunya orang yang ingin mengobrol.
"Sombong banget sih lo. Mentang-mentang gue anak miskin ya? Makanya sejak tadi gue ngomong nggak dijawab. Lo emang berbanding terbalik sama Raffi. Sama aja kayak anak-anak lain," kritik Zara yang sudah tak tahan dengan sikap Elsa.
"Apaan sih lo? Tiba-tiba sewot. Nggak heran lo punya banyak musuh di sekolah," sahut Elsa. Keningnya mengernyit dalam.
"Gue heran ya kenapa semua orang benci banget sama gue. Padahal gue itu nggak salah apa-apa. Mereka jadi pembenci cuman karena reputasi gue doang. Nggak adil banget." Zara mengungkapkan kekesalannya panjang lebar.
"Lo harusnya sadar, kalau lo itu udah hancurin nama baik sekolah. Tapi karena--"
"Lo pikir cuman gue aja yang begini?! Lo yakin nggak ada cewek di sekolah kita yang terpaksa kerja kayak gue? Mereka mungkin ada, tapi nggak ketahuan aja!" balas Zara seraya melipat tangan di depan dada.
Elsa menggertakkan gigi kesal. Dia reflek mngibaskan rambut ke belakang. Kini Zara dapat menemukan rahasia yang sejak tadi tidak disadarinya.
"Itu punya Raffi?" Zara menunjuk tanda merah yang ada di leher Elsa.
"Apaan?" Elsa tak mengerti. Zara lantas mengambil cermin kecil dari dalam tas. Lalu menyuruh Elsa untuk memeriksa.
Mata Elsa membulat sempurna, saat menyadari ada tanda merah di bagian lehernya. Dengan cepat cewek itu menutupi dengan kerah bajunya. Apa yang dilakukan Elsa, membuat Zara tergelak kecil.
"Lo harusnya ngaca dulu sebelum bilang orang lain murahan," komentar Zara. Entah apa yang membuatnya marah. Hubungan dekat Raffi dan Elsa, atau memang karena sikap ketus Elsa.
"Apa lo bilang?!" Mata Elsa menyalang. Dia langsung bangkit dari tempat duduk. Semua orang yang ada di restoran otomatis menatap ke arahnya. Sebab Elsa cukup menimbulkan keributan yang menarik perhatian.
Zara hanya tersenyum tipis. "Mending mulai sekarang kita temenan aja, El. Lagian Gamal sama Raffi kan juga temen. Gue yakin kita bakalan sering ketemu," ujarnya yang tampak tenang.
Elsa mendengus kasar. Kemudian kembali duduk ke kursi. Dia mencoba menahan kesabaran.
"Lo pasti cinta banget ya sama Raffi? Sampai rela digituin. Harusnya lo paham yang gue lakuin. Apa yang gue lakuin buat Gamal itu, karena gue pengen bertahan hidup." Zara nampak serius dengan perkataannya. Elsa dapat tahu ketika melihat sorot mata cewek tersebut.
__ADS_1
Elsa menundukkan kepala. Hal serupa juga dilakukan Zara. Suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi lebih emosional.
"Lo juga anak yatim piatu, El. Lo pasti tahu gimana rasanya bertahan hidup tanpa orang tua. Lo enak masih disayang sama keluarga. Lah gue? Gue harus siap-siap angkat kaki dari panti asuhan pas 18 tahun nanti!" ungkap Zara. Dia berusaha menahan air mata yang hendak berderai.
"Lo juga yatim piatu?" Elsa memasang mimik wajah sendu. Dia lalu lanjut berkata, "sorry ya, Ra."
Elsa merasa bersalah. Dia perlahan mendongakkan kepala dan membalas tatapan Zara. Elsa merasa tidak seharusnya membenci. Kemungkinan rasa benci itu memang muncul karena reputasi buruk Zara.
"Nggak apa-apa. Yang penting lo bisa ngertiin gue sekarang. Gue juga ngertiin lo kok," tutur Zara pelan. Ia mengaitkan helaian rambut pendek sebahunya ke daun telinga.
Elsa mengangguk dan tersenyum tulus. Tangannya reflek menutupi tanda merah yang ada di leher. Jujur saja, sedari tadi Elsa terus saja gelisah.
"Rambut lo panjang, El." Zara turun tangan. Ia membantu Elsa menutupi bagian tanda merah di leher.
"Thanks," ucap Elsa. Zara lantas mengangguk dan tersenyum.
Setelah cukup lama, Raffi dan Gamal akhirnya kembali dari toilet. Mereka langsung mendapatkan omelan dari Elsa dan Zara.
"Tahu, kami hampir lumutan nunggunya!" sungut Elsa yang juga merasa kesal.
"Tumben kalian akur. Emang ngomongin apa sih?" Raffi memposisikan diri untuk duduk. Hal yang sama juga dilakukan oleh Gamal.
"Gue yakin, mereka pasti ngomongin kita," sahut Gamal sambil cengengesan.
"Idih! kepedean banget," tanggap Elsa sembari meringiskan wajah. Zara yang mendengar tergelak kecil.
Tanpa terasa, hari semakin sore. Rafi, Elsa, Gamal dan Zara memutuskan untuk pulang saja. Kali ini Gamal tidak mengajak Raffi kemana-mana. Padahal tempo hari Gamal pernah menawarkan Raffi bepergian di malam minggu.
"Lo nggak jadi ngajakin gue malam mingguan?" tanya Raffi sebelum benar-benar memisah pergi dari Gamal dan Zara.
"Nggek deh. Lo malam mingguan sama Elsa aja sana." Gamal mendorong Raffi untuk kembali ke mobil. Dua pemuda itu otomatis saling cekikikan tidak karuan.
__ADS_1
"Eh foto dulu yuk!" ajak Elsa seraya meraih ponsel dari dalam tas. Selanjutnya, dia menyuruh semua orang untuk mendekat. Mereka mengambil foto dengan banyak macam gaya. Elsa bahkan sudah tidak merasa risih lagi terhadap keberadaan Zara.
"Gue boleh foto sama Elsa nggak, Raf?" pinta Gamal yang sudah lebih dulu merangkul Elsa.
"Terserah lo deh. Asal jangan dicium aja. Gue gampar muka lo nanti!" ancam Raffi. Menyebabkan Elsa yang merasa gemas, langsung mencubit salah satu pipinya.
"Elah, ngapain gue cium cewek di depan pacarnya." Gamal mengajak Elsa berfoto berdua. Mereka juga mengambil beberapa gambar. Sesekali Gamal mengambil kesempatan untuk menyentuh pinggul Elsa yang ramping.
"Kita juga yuk!" Zara memberanikan diri mengajak Raffi berfoto. Seperti mendapat keberuntungan besar, Zara sukses berfoto dengan cowok gebetannya sendiri. Selanjutnya, mereka segera masuk ke mobil masing-masing. Kemudian benar-benar pulang.
...***...
Di mobil, Gamal dan Zara saling membisu. Zara tampak duduk sambil menyilangkan kaki. Cewek itu sibuk memoles lipstik ke bibir.
"Lo ngomongin apa tadi sama Elsa?" tanya Gamal.
"Cuman nyari empati dia doang," jawab Zara.
"Enak ya jadi cewek. Nangis dikit aja dapat kasihani. Gue ingat banget pas liat lo nangis di villa. Untung Danu sama Tirta penakut. Jadi mereka nggak berani sama gue. Sekali lagi lo nyerang gue kayak gitu. Gue bakal bocorin kedok lo!" Gamal memberi ancaman sembari memutar setir sekitar seratus delapan puluh derajat.
"Iya, iya. Berapa kali sih lo ngancam gue kayak gitu?" pungkas Zara. Ia menghempaskan punggung ke sandaran kursi.
Mendadak terlintas dalam benak Zara sesuatu hal. Terutama tentang sikap Gamal kepada Elsa tadi. Perlahan Zara menoleh ke arah cowok berambut cepak itu.
"Mal, lo suka sama Elsa ya?" tanya Zara dengan nada serius.
Gamal berseringai dan menjawab, "Kelihatan banget ya?"
"Nggak juga sih. Gue cuman tahu aja. Lo kalau ngomong sama dia lembut banget. Beda banget pas lagi sama gue." Zara menyurai rambut tanpa poninya ke belakang. Dia menopang kepala dengan satu tangan. Keheningan kembali menyelimuti.
"Lo ikut gue ke rumah ya! Di sana sepi kok. Bokap sama nyokap gue pada nggak ada," kata Gamal yang melirik Zara secara selintas.
__ADS_1
"Oke..." Zara mengangguk setuju.