Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 22 - Vanila Cake & Pangkuan


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi dan Putri sudah berada di dalam mobil. Keduanya saling membisu satu sama lain. Terutama Putri, yang sejak awal terus menundukkan kepala.


"Kenapa sih lo mau jadian sama cewek yang udah jelas nggak dibolehin pacaran sama keluarganya?" celetuk Putri. "Kalau gue malas sih. Pasti susah, awalnya aja begitu apalagi nanti. Besar pasti urusannya kalau ketahuan sama keluarga tuh cewek," tambahnya dengan ringisan sinis.


"Kan gue yang jalanin. Lo mending fokus buat bersaing sama Gamal. Dia adalah saingan terberat lo buat jadi ketos!" Raffi sengaja mengubah topik pembicaraan. Dia benar-benar tidak suka ketika ada orang yang mengkritik jalan hidupnya.


"Bener juga." Putri menyahut singkat. Ia terdiam kembali dalam sekian menit. Sampai sesuatu hal terlintas dalam benaknya. "Eh, kalau gue berhasil jadi ketos. Lo gue tunjuk sebagai wakilnya ya?" seru Putri yang reflek menatap Raffi. Sepertinya dia masih belum menyerah untuk mendekati Raffi.


"Hah?" Raffi memasang raut wajah masam. Ingin sekali dia menurunkan Putri di tengah jalan.


"Kita pasti bisa kerjasama dengan baik." Putri yang tadi sempat menangis, kali ini mampu mematri senyuman.


'Kita? Lo aja kali!' ucap Raffi. Namun sayang, dia hanya berani dalam hati. Sungguh! Raffi sangat menyesal sudah menawarkan tumpangan kepada Putri.


"Rumah lo dimana?" tanya Raffi datar. Dia sengaja bersikap dingin. Raffi merasa lelah menghadap cewek seperti Putri. Baginya mengobrol dengan Zara lebih baik.


"Di komplek perumahan Melati Indah. Lurus aja, nggak begitu jauh kok." Putri menunjukkan arah yang benar dengan tangannya.


Raffi memutar setir secara pelan. Sampai akhirnya dia berhenti di depan rumah Putri. Raffi tidak mengucapkan apapun. Melirik Putri pun tidak. Dia berharap gadis itu mengerti sendiri dan keluar dari mobil.


"Raf? Lo mau mampir dulu?" tawar Putri. Ia menatap Raffi dengan sudut matanya.


"Enggak. Sorry," jawab Raffi tanpa membalas tatapan Putri. Dia pikir Putri akan mengerti dengan sikap dinginnya. Akan tetapi ternyata tidak. Raffi justru dibuat terkejut dengan suatu hal.


Cup!


Sebuah ciuman mendarat ke pipi Raffi. Hal tersebut sontak membuat Raffi melotot tak terima.


"Maaf, gue nggak bisa nahan diri. Apalagi lihat lo bersikap dingin kayak tadi. Lo malah makin keren! Mirip cowok-cowok es di novel yang gue baca. Hehe..." Putri terlihat sama sekali tak bersalah. Dia bahkan tersenyum hingga menampakkan gigi-gigi atasnya yang rapi.

__ADS_1


"Bye!" Putri lantas melambaikan tangan. Lalu keluar dari mobil.


Raffi yang membeku akibat merasa saking syoknya, bergegas mengejar Putri. Dia ingin memberikan ketegasan. Raffi terpaksa melakukan, karena sikap Putri sudah berlebihan.


"Put!" Raffi mencengkeram erat lengan Putri. Memasang ekpresi penuh akan kekesalan. Namun lagi-lagi Putri membalas dengan senyuman tak berdosa.


"Lah, katanya nggak mau mampir," tanggap Putri.


"Denger ya!" Raffi menghempas lengan Putri. Hingga akhirnya sukses membuat senyuman Putri langsung luruh.


"Gue nggak suka sama lo. NGGAK SUKA! Lo bisa ngeja nggak sih? Katanya pintar? Jadi juara kelas terus tiap semester. Tapi gitu aja nggak ngerti. Jauh-jauh dari gue mulai sekarang!" tukas Raffi seraya mengeratkan rahang. Kemudian membalikkan badan. Bahkan tak berminat mendengarkan ucapan Putri.


"Gue ngerti kok, Raf! Denger ya! Selama lo masih bisa terlihat sama mata dan kepala gue. Gue nggak bakalan nyerah!" Putri menjeda perkataannya, karena Raffi telah menjalankan mobil. Cewek itu tampak mendekat ke jendela mobil Raffi. Dia kembali berseru, "Gue bakalan cari cewek yang jadian sama lo! Lihat aja nanti!" Gue akan..."


Suara Putri tidak terdengar lagi. Sebab Raffi sengaja melajukan mobil. Meskipun begitu, dia dapat mendengar samar-samar gerutuan Putri.


Raffi mendengus lega. Setidaknya dia telah mengeluarkan apa yang dipendam dalam hati. Sekarang Raffi sedang melakukan perjalanan untuk pulang.


...***...


Raffi terlihat berlari kecil menghampiri Elsa. Keduanya segera masuk ke dalam rumah.


"Tumben nih rumah sepi." tanya Raffi seraya menghempaskan pantat ke sofa.


"Paman Fajar sama tante Risna lagi ke acara kondangan." Elsa memperhatikan mimik wajah Raffi yang nampak lesu. Dia kemudian bertanya, "Lo kenapa suntuk gitu? Apa lesnya hari ini susah?"


"Sebelum gue cerita. Suguhin gue vanilla cake dulu dong!" balas Raffi.


"Oke, oke. Gue ambil deh." Elsa melenggang menuju dapur. Selang beberapa menit, dia kembali lagi membawa nampan berisi vanilla cake dan teh hangat.


Setelah meletakkan nampan, Elsa langsung duduk ke sebelah Raffi. Menuntut cowok itu agar segera bercerita.

__ADS_1


"Gue tadi ketemu Putri. Sumpah! Dia nyebelin banget." Raffi bercerita sambil menyumpal mulut dengan kue.


"Emang dia ngapain?" Elsa mengerutkan dahi. Jujur saja, dia tidak hanya penasaran tetapi juga merasa cemburu.


Raffi menatap Elsa sejenak. Dia berpikir, mungkin lebih baik tidak menceritakan perihal ciuman Putri tadi. Jika Elsa tahu, kemungkinan Putri akan dilabrak habis-habisan. Raffi tahu betul sikap sahabat sekaligus kekasihnya tersebut.


"Dia nembak gue." Raffi tampak masih sibuk menikmati vanilla cake buatan Elsa.


"Apa??! Terus lo bilang apa?" Elsa membulatkan mata.


"Ya gue tolak baik-baik. Gue bilang, kalau gue udah punya pacar." Raffi berhenti sejenak karena sibuk mengunyah kue. Setelah menelan kue, barulah dia melanjutkan, "tapi Putri malah berubah jadi ganjen. Ish!" Mengingat bagaimana kelakuan Putri, Raffi langsung bergidik ngeri.


"Tuh kan! Gue kan udah bilang. Jangan terlalu perhatian sama cewek lain selain gue. Lo terima akibatnya sekarang!" Elsa mendorong pelan kepala Raffi. Dia tampak merengut. Akan tetapi Raffi justru tergelak kecil.


"Jangan ketawa! Gue serius!" tegas Elsa. Wajahnya terlihat memerah padam akibat merasa sangat kesal.


"Iya, iya. Mulai sekarang, gue usahain cuman ngasih perhatian buat lo seorang." Raffi tersenyum sambil merebahkan diri ke pangkuan Elsa.


Mata Elsa mengedip pelan. Jantungnya langsung diserang deguban kuat. Wajah yang tadinya merah akibat marah, kini tersipu menjadi malu. Elsa merasa gugup karena dirinya tengah mengenakan celana pendek sepangkal paha.


Sementara Raffi nampak santai saja. Dia malah merasa sangat nyaman dengan posisinya sekarang. "Enaknya... pangkuan lo lebih enak dibanding bantal gue," ujarnya seraya menggerakkan bola mata ke arah Elsa.


Raffi lagi-lagi tertawa. Dia dapat melihat kegugupan Elsa. Semuanya tampak jelas ketika Elsa mengedarkan pandangan tak menentu.


"Lo salting ya?" tanya Raffi.


"En-enggak kok. Nga-ngapain juga gue salting!" Elsa menjawab dengan terbata-bata.


"Idih! ngomongnya mendadak kayak Azis gagap gitu kok." Raffi merasa gemas.


"Tenang aja, El. Gue cuman numpang rebahan di pangkuan lo kok. Gue nggak bakal ngapa-ngapain," ujar Raffi.

__ADS_1


Elsa akhirnya menatap Raffi. Rambutnya yang panjang terurai berjatuhan ke bawah. Dia otomatis menyampirkannya ke bahu kanan. Tangan Elsa membelai lembut puncak kepala Raffi. Dua sejoli itu akhirnya jatuh ke dalam pertukaran pandang lekat.


Raffi balas membelai rambut Elsa. Mereka sesekali terkekeh bersama. Waktu serasa berhenti dalam sesaat. Mungkin begitulah rasanya dunia milik berdua.


__ADS_2