Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 85 - Tim Basket Pilihan


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi keluar dari mobil. Olive bergegas menghampiri. Cewek itu bersikap seakan-akan sudah lama mengenal Raffi.


"Kak Raffi!" panggil Olive sembari melambaikan tangan. Dia berhenti di hadapan Raffi dan tersenyum lebar. Dalam sekejap keduanya langsung menjadi pusat perhatian.


"Hmm?" Raffi menanggapi dengan malas. Ia juga segera mengedarkan penglihatan ke sekeliling. Raffi tahu dirinya dan Olive tengah menjadi bahan tontonan.


"Kakak bisa temenin aku ke ruang guru nggak?" ujar Olive seraya mengedipkan mata dengan pelan. Memasang ekspresi menggemaskan agar Raffi tidak kuasa menolak.


"Aku bisa bantuin." Raffi lekas mengangguk. Lalu memanggil seseorang secara acak. Kebetulan sekali orang itu adalah Fahri.


"Ri, lo anterin dia ke ruang guru ya. Gue mau langsung ke kelas!" suruh Raffi sambil menepuk pelan pundak Fahri.


"Iya, Kak." Raffi terpaksa setuju.


"Liv, biar Fahri yang antar lo ke ruang guru." Raffi tersenyum tipis, kemudian beranjak begitu saja.


"Tapi..." Olive menunjukkan ekspresi kecewa. Dia padahal berharap di antar oleh Raffi. Dengan begitu, semakin banyak perhatian yang akan di dapatkannya.


Kini Raffi dan kawan-kawan sudah berada di kelas dua belas. Kegiatan belajar sudah aktif beberapa minggu setelah rapor dibagikan.


Tidak perlu diragukan, Raffi pastinya meraih juara kelas. Tidak, bukan itu saja. Nilai yang dimilikinya mengalahkan nilai seluruh murid pintar di sekolah. Benar, Raffi juga berhasil merebut juara umum. Nama dan kepopulerannya tetap berjaya. Tidak ada yang mampu menggesernya dari posisi pertama.


Segalanya berbanding terbalik dengan Elsa. Cewek itu mendapatkan rangking dua puluh lima di kelas. Sejujurnya Elsa merasa ciut ketika menyaksikan betapa tingginya nilai Raffi. Jelas sangat terlampau jauh. Nilainya bahkan lebih rendah dibanding nilai semester sebelumnya.


Saat menyaksikan nama Raffi terpampang nyata di mading, Elsa hanya bisa mematung. Mendengarkan beragam pujian yang diberikan banyak orang kepada Raffi.


Di kelas Elsa baru saja mendapatkan hasil nilai latihan mata pelajaran Fisika. Raut wajahnya sendu kala menyaksikan angka lima puluh dengan tinta merah.


"Haha! Lo nggak pernah berubah," komentar Citra yang diam-diam mengintip dari samping.

__ADS_1


"Apaan deh. Kepo banget," balas Elsa. Dia bergegas memasukkan buku latihan ke dalam tas. Pandangannya sekarang beralih ke arah Zara.


'Zara emang cewek nakal. Tapi setidaknya dia punya otak encer dibanding gue,' batin Elsa seraya mendengus kasar. Dia kesal selepas mengetahui Zara meraih peringkat kedua di kelas.


"Nilai gue makin parah!" keluh Elsa.


Citra yang mendengar sontak menoleh. "Gara-gara pacaran kayaknya. Harusnya lo manfaatin waktu pacaran sekalian belajar. Apalagi cowok lo kan pintar banget. Sumpah, El! Gue meleleh banget lihat nilai Raffi di papan pengumuman. Tapi sayang banget dia udah ada yang punya," ucapnya panjang lebar. Di akhir Citra memberikan sindiran kepada Elsa.


"Apaan deh. Lo mau nikung?" Elsa tergelak kecil.


"Biar ditikung sampai darah penghabisan pun nggak bakalan mempan. Gue tahu Raffi tipe cowok yang setia," ujar Citra sambil menyandarkan kepala ke meja. Menatap Elsa yang duduk di sebelahnya.


Elsa membalas dengan juluran lidah. Lalu fokus mendengarkan penjelasan Bu Ina di depan kelas.


...***...


Saat di jam pelajaran ke-empat, tiga guru olahraga mengadakan rapat dadakan. Mereka ingin mendiskusikan perihal tim basket yang akan menjadi perwakilan sekolah.


"Aku setuju. Itu memang strategi bagus! Yang pasti Gamal jangan ditinggal. Teknik dan tenaganya yang paling bagus. Kalau perlu jadikan dia kapten saja," tanggap Pak Alvin yang sependapat dengan Pak Seno.


"Aku ngikut aja apa pilihan kalian. Yang jelas, sekolah kita punya perwakilan." Pak Mulya menanggapi secara positif.


"Eh, tunggu. Bukannya Raffi ikut olimpiade Matematika ya? Apa dia nggak kewalahan? Kasihan dia kan?" Pak Seno berimbuh sambil meletakkan satu tangan ke dagu.


"Kita tanya ke Bu Alfisa dulu deh. Kan beliau yang bimbing Raffi buat olimpiade itu." Pak Mulya celingak-celingukan. Mencoba mencari keberadaan Bu Alfisa. Ketika sudah menemukan orang yang dicari, Pak Mulya langsung menanyakan perihal Raffi.


"Raffi mau di ikutkan tim basket perwakilan sekolah? Aku setuju banget dong. Lagian olimpiade Matematika masih lama. Nggak apa-apa lah. Tapi mending tanya orangnya dulu," ujar Bu Alfisa. Pak Mulya dan yang lain lantas menerima sarannya.


"Kita panggil semua anggota tim. Kita tanya dulu kesediaan mereka." Pak Seno bangkit dari tempat duduk. Dia mengambil alat pengeras suara. Kemudian memanggil nama-nama tertentu untuk datang ke lapangan indoor.


Di kelas, Raffi dan Gamal agak kaget nama mereka ikut dipanggil. Padahal sekarang Pak Darto sedang sibuk menerangkan materi.

__ADS_1


Gamal sangat senang bisa melarikan diri dari pelajaran Matematika. Dia langsung berdiri dan mengajak Raffi pergi bersama.


Berbeda dengan Gamal, Raffi merasa berat meninggalkan kelas. Meskipun begitu, dia terpaksa pergi karena namanya tadi memang benar-benar disebut.


"Kira-kira kita disuruh ngapain ya?" Gamal berjalan sambil menekan kepala dengan kedua tangan yang bertautan.


"Mungkin terkait masalah osis kali," duga Raffi sembari berjalan dengan malas. Ia dan Gamal melenggang melewati koridor sekolah.


"Kayaknya enggak deh. Soalnya yang dipanggil tadi cowok semua." Gamal mengungkapkan pendapatnya.


"Nanti kalau di sana kita bakalan tahu," ujar Raffi. Dia dan Gamal akhirnya memasuki lapangan indoor. Terlihat dari kejauhan tiga guru olahraga serta para siswa yang tadi dipanggil.


Seluruh siswa disuruh berbaris. Barulah Pak Seno memberitahukan alasan dipanggilnya semua murid yang datang.


Mata Raffi dan Gamal langsung berbinar ketika mendengar mereka terpilih menjadi tim basket. Hal serupa juga dirasakan oleh Gilang dan yang lain.


Raffi langsung setuju. Bahkan tanpa berpikir lama. Dia sangat menyukai basket dan tidak menyangka akan diajak menjadi tim perwakilan sekolah. Padahal dirinya selalu merasa tidak sehebat itu. Namun jika diberi kesempatan emas, tentu Raffi tidak akan menolak.


Hal yang sama juga dirasakan Gamal. Dia semakin bersemangat saat ditunjuk sebagai kapten dari tim. Gamal sepertinya mulai menyukai yang namanya sekolah.


"Latihan dimulai dari hari ini. Habis pulang sekolah ya." Pak Mulya memberitahu sebelum benar-benar menyuruh para murid bubar.


Saat istirahat kedua, kabar tentang tim basket perwakilan sekolah sudah tersebar ke telinga semua orang. Hingga ada banyak murid yang berniat untuk menonton. Walau yang mereka lihat cuman sekedar latihan saja.


Elsa dan Zara pastinya tidak ketinggalan. Terlebih kekasih mereka-lah yang sudah menarik perhatian semua orang.


Kala bel pertanda pulang berbunyi, sebagian murid justru berlari ke lapangan indoor. Bukannya ke tempat parkiran seperti biasa.


..._____...


Catatan Author :

__ADS_1


Khusus lebaran aku bakalan kasih double up. Tapi jangan lupa dukungannya ya. Vote, komen dan juga hadiah... love you...


__ADS_2