
...༻☆༺...
Tirta baru saja pulih. Kehadiran kedua orang tuanya langsung menyambut. Bukan hanya itu, ada dua orang polisi juga terlihat siaga menjaganya.
"Pah, Mah... maafin aku..." ungkap Tirta. Dia jatuh ke dalam pelukan sang ibu sambil menangis histeris.
"Udahlah, Ta... Mamah sama Papah juga minta maaf... kami nggak bisa jagain kamu dengan baik," sahut Nadia yang ikut menangis.
"Nggak, Mah." Tirta melepas pelukannya dan meneruskan, "kesalahanku fatal banget. Aku udah bunuh orang, Mah. Penyebab kematiannya karena aku..."
Pengakuan Tirta membuat Nadia dan suaminya kaget. Dua polisi yang ada juga dibuat terkejut akan hal tersebut.
"Apa maksudmu?" Nadia menuntut jawaban.
"Aku udah hamilin cewek, Mah... terus cewek itu bunuh dirinya sendiri. Aku merasa nggak pantas hidup kalau begini..." jelas Tirta. Dia sudah lelah menyimpan masalahnya sendiri. Tirta berjanji akan menanggung resiko atas perbuatannya.
"Tirta, kamu jangan ngomong begitu..." Nadia sontak khawatir. Terutama ketika melihat putranya tidak kunjung berhenti menangis.
Tama yang merupakan ayahnya Tirta tidak bisa berkata-kata. Dia tidak menyalahkan putranya, melainkan dirinya sendiri. Tama merasa menyesal karena lebih memilih sibuk bekerja dibanding mengurus anaknya.
__ADS_1
Gangguan mental Tirta sepenuhnya terganggu. Dia terus saja bicara tentang kematian dan melakukan percobaan bunuh diri beberapa kali.
Tirta diwajibkan menjalankan rehabilitasi. Dia sangat membutuhkan seorang psikiater untuk mengatasi gangguan depresinya.
Sebelum melakukan pemeriksaan, Tirta melakukan pertemuan dengan Pak Ervan terlebih dahulu.
"Gimana kabar Raffi dan yang lain, Pak?" tanya Tirta. Mengawali pembicaraan.
Pak Ervan tersenyum dan menjawab, "Yang pasti mereka sudah lebih baik. Kamu juga sebentar lagi akan begitu."
Untuk yang sekian kalinya Tirta memecahkan tangis. Rasa penyesalan dan bersalah terus menghantuinya. Selama beberapa hari terakhir dirinya memang hanya melakukan pelarian dengan obat-obatan terlarang.
"Tirta, kamu nggak boleh ngomong begitu. Semuanya sudah terjadi. Bapak yakin, kamu bukan satu-satunya alasan yang membuat wanita itu bunuh diri. Seseorang tidak akan berbuat begitu, jika masalah yang diterimanya hanya satu hal saja." Pak Ervan berusaha keras menenangkan.
"Apapun yang Bapak bilang. Aku tetap merasa bersalah. Kehidupan cewek itu hancur karena aku, Pak..." tampik Tirta. Pikirannya tetap tidak tenang. Dia justru berharap bisa diberikan obat tertentu yang dapat menenangkannya.
Konseling Pak Ervan tidak selalu berjalan lancar. Seperti yang terjadi kepada Tirta misalnya. Masalah yang dimiliki Tirta sangat berkaitan erat dengan mental. Jika begitu, hanya Tirta yang dapat menyembuhkan dirinya sendiri.
Sementara itu, Gamal baru saja dimasukkan ke dalam tahanan khusus remaja. Di sana dia bertemu dengan Danu.
__ADS_1
Danu terlihat memiliki kumis dan jabang tipis. Dia langsung berdiri saat menyaksikan kehadiran Gamal.
"Gamal?! Lo kenapa di sini?" tanya Danu. Merasa tak percaya.
"Dan..." panggil Gamal. Ia saling berpelukan dengan Danu. Meluapkan emosi sedih mereka masing-masing.
Gamal menceritakan segalanya kepada Danu. Termasuk tentang masalah Raffi dan juga dirinya.
"Bokap sama nyokap gue satu-satunya orang yang nggak datang. Gue kecewa banget. Iri banget gue lihat Raffi yang dijemput sama dua orang tuanya," ujar Gamal. Dia dan Danu duduk menyandar ke dinding. Tepat di ubin penjara yang terasa dingin.
"Mungkin belum kali. Gue yakin mereka pasti datang kok!" sahut Danu yang merasa yakin.
Gamal menggeleng tegas. Dia tidak percaya dengan pemikiran positif Danu.
..._____...
Catatan Author :
Oh iya guys, sebelum bab terakhir di up. Aku mau kasih tahu tentang rencana bikin kelanjutan cerita Gamal dan kawan-kawan di novel baru. Alasannya kenapa? Karena usia mereka bukan anak SMA lagi. Jadi rada nggak pantas dilanjutkan di sini.
__ADS_1
Bedanya nanti di novel baru itu, Gamal sama Zara yang jadi pemeran utama. Tapi tenang aja, Raffi sama Elsa tetap ada kok.