Suami Yang Tak Dihargai

Suami Yang Tak Dihargai
102


__ADS_3

POV (Aisya).


dan di sinilah aku sekarang di rumah orang tua kak Jamila ,mantan mertua mas Idris.


rumahnya terlihat asri dan tenang sama persis dengan suasana di kampung halaman ku.


kita tiba di sana waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang.


aku ingat perkataan mas Idris kemarin malam pada ku.


dia menceritakan bahwa ada rentenir yang menghadangnya di jalan dan ternyata yang berhutang mbak Jamila mantan istrinya.


aku sungguh terharu baru menikah satu Minggu tapi mas Idris sudah bisa terbuka pada ku tidak ada rahasia di antara kita berdua.


bahkan dia memberi ku ATM yang khusus untuk keperluan ku dan keluarga ku di kampung ,sungguh rasanya aku sungkan sekali baru menikah seumur jagung tapi suami ku sudah menanggung biaya untuk keluarga Ku.


mas Idris menceritakan bahwa mbak Jamila mempunyai hutang 100 juta pada rentenir itu .


aku pun bingung kan mas Idris sudah berpisah dengan mbak Jamila mengapa orang orang itu kok menagih pada mas Idris dan ternyata yang membuat ku kaget ternyata mbak Jamila sudah menandatangani surat yang berisikan kalau mbak Jamila tidak bisa melunasi hutang hutangnya putrinya Nadira yang akan di jadikan jaminan sebagai penebus hutangnya.


aku di sini tak habis pikir kok ada ya seorang ibu yang tega menjadikan anaknya sendiri sebagai jaminan hutang,walaupun itu bukan anak kandungnya sendiri tapi apakah dia tidak ada rasa kasihan sedikit pun pada Nadira.

__ADS_1


ya aku tau dari mas Idris kalau Nadira itu bukan anak kandung mereka tapi mereka mengadopsi Nadira dari panti asuhan mulai dari lahir karena orang tua Nadira sudah meninggal dunia.


mas Idris menceritakan semua itu agar aku tidak kaget ,katanya Nadira juga sudah tahu ,itu pun dia tahu dari mbak Jamila sendiri yang ngomong pada Nadira.


dan ketika mas Idris bilang aku harus apa ,aku langsung menjawab kalau anak lebih penting dari harta.


tapi aku juga memberi saran pada mas Idris untuk menemui orang tua mbak Jamila agar mereka tau kelakuan anaknya dan juga mereka harus tanda tangan di kertas hitam di atas putih yang bertuliskan bahwa mereka yang akan bertanggung jawab kalau kalau ada kejadian seperti ini lagi dan mas Idris pun setuju dengan usul ku dan mas Idris mengajak ku menemui mantan mertuanya dan aku pun setuju untuk ikut.


dan sekarang kami sudah ada di rumah orang tua kak Jamila.


tapi suasananya sepi mungkin tidak ada orang di rumah itu.


"Lo nak Idris, sudah lama datang " kata bapak itu bicara sama mas Idris.


"iya pak ,baru saja" jawab mas Idris.


"oh iya pak kira kira bapak sama ibu ke mana ya ,apa masih di sawah, kok rumahnya sepi" tanya mas Idris pada bapak itu.


"iya nak bapak sama ibu mu masih ada di sawah mungkin sebentar lagi pulang, apa bapak panggilkan saja" jawab bapak itu dan menawari untuk memanggilkan.


"nggak usah pak ,nanti Idris ngerepotin biar saja Idris tunggu sambil istirahat di mobil" kata mas Idris.

__ADS_1


"beneran ini nak nggak mau bapak panggil kan" kata bapak itu memastikan.


"iya pak nggak perlu" kata mas Idris.


"ya udah kalau gitu bapak pulang ,atau nak Idris mau mampir ke rumah bapak" tawar bapak itu.


"iya pak terima kasih ,Idris tunggu di sini saja " kata mas Idris.


dan bapak itu pun pergi.


setelah bapak itu pergi mas Idris menghampiri ku.


" maaf ya, bapak sama ibu sepertinya belum pulang dari sawah, jadi kita tunggu di dalam mobi dulu" kata mas Idris.


"iya mas nggak perlu minta maaf" kata ku.


"lapar nggak" tanya mas Idris.


"nggak mas ,tadi Ais sudah makan cemilan" jawab ku.


"ya udah kalau kamu capek rebahan aja " kata mas idris, dan aku mengangguk karena memang pinggang ku sedikit sakit karena perjalan yang terlalu jauh ,apa lagi dalam seminggu ini aku sibuk bolak balik mulai dari rumah paman ,rumah keluarga mas Idris dan sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2