
aku sendirian di kamar ,aku merenung ,apakah aku sanggup menghadapi semua ini.
di sisi lain ,aku merasa sudah tidak berguna lagi sebagai laki laki.
tapi aku harus tetap optimis dan ikhlas menjalani semua ujian ini.
saat aku sedang merenung, aku di kejutkan dengan pintu yang terbuka dan kulihat itu adalah Jamila.
aku pura pura tidak tau ,apakah dia akan menegurku atau menanyakan keadaan ku.
"jam berapa sama dokter di perbolehkan pulang mas" dia membuka pertanyaan pada ku.
"tadi sekitar jam satu siang ,karena masih menunggu dokternya datang" jawab ku,tapi aku tidak melihat padanya.
"oh maaf ya aku nggak bisa ikut jemput kamu ,karena pekerjaan ku tidak bisa di tinggal" katanya, bagi ku aku sakit atau tidak mungkinlah n dia tidak akan khawatir, jangankan aku dia tidak akan peduli walaupun Nadira yang sakit ,entahlah terbuat dari apa hatinya.
"tidak apa apa, masih ada adik dan keluarga yang lain datang menjemput ku" kata ku, aku ingin menunjukkan padanya masih banyak orang yang peduli pada ku
__ADS_1
"maksut kamu apa mas ngomong kayak gitu,kamu marah ya aku nggak datang jemput kamu, walaupun aku nggak ikut tapi keluarga ku sudah mewakili ku merawat mu ,bukan cuma keluarga mu saja" katanya ,dan di sini aku tersinggung oleh omongannya, bukanlah yang seharusnya merawat ku adalah dia istri ku,tapi apa ini aku di ibaratkan barang olehnya yang bisa di wakilkan pada orang lain untuk merawatnya.
tapi aku di sini tidak mau ribut ,aku baru saja pulang dari rumah sakit ,masak tidak ada sedikit pun empatinya pada ku.
"sudah lah aku tak ingin berdebat,aku mau fokus pada kesembuhan ku," kata ku mengakhiri pembicaraan.
"kan kamu duluan yang mulai,aku kan tanya baik baik dan meminta maaf,sudahlah bikin modku jelek aja" katanya,sambil keluar dari kamar dan membawa baju.
aku berfikir apakah aku gagal mendidik istri ku ataukah memang itu adalah sifat istriku yang sebenarnya yang tidak ku ketahui.
"bang ayo aku suapi makan malam dulu ,lalu minum obat dan istirahat ya" katanya ,dia adalah adik ku satu satunya yang sangat ku sayangi.
" iya " kata ku
"maaf ya dhek Abang selalu merepotkan mu" lanjut ku lagi.
"Abang nggak usah ngomong kayak gitu, kita adalah saudara " katanya sambil memeluk ku.
__ADS_1
"sebelumnya adik minta maaf, bukan urusan adik ikut campur,apakah rumah tangga Abang sedang ada masalah" katanya ,dia memang adik ku yang selalu mengerti aku,tapi aku tidak mau masalah ku lihat ni menjadi beban untuk keluarga ku.
"nggak kok dik nggak ada masalah apa apa, mungkin hanya perasaan adik saja " kata ku.
"apa benar bang ,karena yang aku lihat sepertinya mbak Mila kok tampak acuh sekali sama Abang dan ponakan ku"katanya, masih mungkin saja keluarga ku merasakan perubahan Jamila,karena memang kentara perubahannya,yang dulunya Ramah sekarang tampak acuh kepada keluarga ku.
"ya sudah nasinya tinggal dikit , ayok habis kan bang ,setelah itu Abang minum obat" katanya sambil terus menyuapiku ,mungkin karena kelamaan mengobrol jadi aku tidak terasa memakan semua makanan yang di berikan adik ku,biasanya aku tidak enak makan mungkin efek pikiran karena kaki ku sekarang tak bisa jalan.
"nah gitu harus di habiskan makannya biar cepat sembuh, Abang harus semangat ,semua demikian Nadira bang" katanya menyemangati ku,mungkin karena kita sedarah jadi dia bisa merasakan kegelisahan ku.
"ya sudah di minum ini obatnya, lalu istirahat sudah malam biar Nadira tidur sama aku dan adiknya" katanya lagi.
"iya terima kasih ya dhek" kata ku.
"ya sudah adik keluar ya bang" katanya sambil keluar kamar ku.
dan sampai tengah malam Jamila juga tidak masuk ke kamar yang biasa kami tempati, mungkin dia tidak mau sekamar dengan orang cacat seperti ku.
__ADS_1