
ku lihat Nadira selalu nempel pada Ais,seperti tidak mau lepas.
tapi ada kebahagiaan tersendiri bagi ku,karena aku tidak pernah melihat putri ku sebahagia ini.
bahkan dia bisa tertawa dengan lepas.aku tidak pernah melihat putri ku sebahagia sekarang ini.
"bunda aku mau naik itu" ucap Nadira sambil menunjuk salah satu wahana permainan.
seketika semua rombongan ku melihat ke arah Nadira dan ais.
"iya ayo " jawab Ais telaten sambil menuntun nadira,Ais terlihat gugup karena di lihat oleh semua teman temannya.
"ya udah ,mau naik yang mana ayo ayah antar" ucap ku.
"kalian juga kalau mau naik wahana silahkan yang terpenting nanti saat makan makan kita kumpul," ucap ku pada para rombongan ku.
"baik bos" jawab mereka serentak.
"bagai mana dengan saya pak" kata mbak sara pada ku .
iya aku lupa mungkin mbak sara mau nemenin nadira karena memang aku minta tolong agar mbak sara yang jaga Nadira.
"ya udah mbak ajak keluarga mbak berkeliling urusan nadira biar sama saya saja" kata ku.
"baik pak, kalau gitu saya permisi," kata mbak sara.
"iya iya, mbak silahkan" kata ku mempersilahkan.
dan saat mereka semua sudah berpencar ,tinggal aku Nadira dan ais.
" kayak keluarga bahagia" pikir ku sambil tersenyum ,membayangkan betapa bahagianya bila memiliki keluarga lengkap.
"ayo yah, aku mau naik itu sama bunda" kata Nadira sambil menunjuk ke perahu air.
mungkin hari ini adalah hari keberuntungan ku,aku bisa berduaan dengan Ais,tapi bukan berduaan sih yang benar itu bertiga ,seperti keluarga bahagia dan lengkap yang seperti ada di bayangan ku.
__ADS_1
mungkin karena efek terlalu lama menduda jadi aku selalu membayangkan keluarga bahagia.
"ini harus orang 2 yang mengayun ra" kata ku.karenaang sepeda air kan mang harus orang 2 yang mengayun.
"iya yah ,kan ada ayah dan bunda lengkap kan" kata Nadira enteng,memang anak pengertian pikir ku ,tau aja kalau ayahnya memang berpikiran seperti itu.
"iya kan bunda?" tanya Nadira. pada Aisya.
"eh, apa" kata Ais tergagap dengan penuturan Nadira.
"bunda sama ayah yang mengayun perahunya,Nadira yang ada di tengah, seperti orang itu" jelas Nadira sambil menunjuk ke arah salah satu perahu yang di isi oleh dua orang dewasa dan anaknya di tengahnya.
"oh iya, " jawab Ais mengerti.
"mau kan bunda? " tanya Nadira pada Ais.
"iya ,bunda terserah sama ayah" kata Ais sambil melihat ke arah ku.rasanaya hati ku berbunga bunga mendengar Ais berkata seperti itu pada ku.
apakah ini tanda tanda lampu hijau untuk ku. dan aku pun berkata.
kami bertiga pun langsung menuju ke arah loket.,setelah antri yang cukup panjang karena ini mang hari libur, kini giliran kami bertiga yang naik.
"ayo silahkan " kata ku mempersilahkan Ais naik duluan.
"terima kasih kak" kata Ais malu malu.
"iya sama sama " kata ku.
"sekarang giliran princess yang naik" kata ku pada Nadira ,karena memang Nadira ada di tengah.
aku pun mengangkat Nadira untuk naik karena perahunya tinggi.
setelah Nadira sudah naik aku pun juga iku naik,setelah memasang sabuk pengaman aku pun mulai mengayuh perahu itu ke arah tengah.
"wih , ikannya banyak dan besar besar ya bunda" kata Nadira sambil menunjuk ikan ikan di situ,.
__ADS_1
"iya '" jawab Ais sambil diam diam melirikku.dan aku juga diam diam memperhatikannya.
Nadira kelelahan karena dia sudah bermain ke sana kemari
akhirnya kita semua berkumpul untuk makan siang bersama.
aku melihat Aisya menyuapi putri ku dengan telaten,.
rasanya aku bahagia sekali melihat mereka berdua seperti ibu dan anak.
karena tidak enak aku mencoba bertanya pada Ais.
" kamu makan duluan ,biar Nadira saya yang suapi" kata ku pada Ais, seperti seorang suami pada istrinya ,.
"cie cie" goda Doni pada kami berdua, memang teman tidak ada akhlak,kata ku dalam hati.
"biar saja kak ,nanti saja Ais makan kalau sudah selesai suapi Nadira" jawab Ais.
"sepertinya kalian pasangan yang serasi nak ,cocok sekali " celetuk ibu Doni. dan itu sukses membuat kami berdua malu malu.
sore pun menjelang kita semua memutuskan untuk pulang.
dan saat ini Nadira masih setia menempel pada Ais.
"ayo nak kita pulang, bunda sudah capek" kata ku pada nadira.
"nggak mau yah aku maunya sama bunda" kata Nadira menolah ajakan ku.
"bunda ikut mobil ayah saja,ya bolehkan yah" katanya memelas.
"nanti mbak saranya naik apa" kata ku karena mang keluarga mbak sara ikut dengan rombongan mobil ku.
"biar ikut di mobil ku saja kak , muat kok semuanya kan tadi kelihatan sesak karena kita bawa barang banyak" kata di i menyahuti omongan ku nan Nadira, sungguh Doni memang sahabat yang pengertian.
dan akhirnya Ais pulang ikut mobil Ku.
__ADS_1