Suami Yang Tak Dihargai

Suami Yang Tak Dihargai
26


__ADS_3

keesokan harinya aku terbangun Jamila tetap tidak ada di kamar ini.


aku menyibak selimut ku ,aku tidak mau merepotkan keluarga ku ,aku harus bisa mengurus diri ku sendiri.


aku berusaha menggeser tubuh ku ke tepi ranjang , ku raih kursi roda ku,walau susah akhirnya aku bisa pindah ke kursi roda ku.


aku membuka pintu kamar ku ,kulihat adik ku sibuk memasak dengan mertua ku.


"lho bang, kok Abang bisa pindah ke kursi roda," tanyanya ,dia pasti heran melihat ku.


"iya dhek Abang harus bisa melakukan semua ini, Abang nggak mau merepotkan kalian semua" jawab ku.


"Jangan bilang kayak gitu bang, kami ini keluarga abang ,pasti kami semua ada di Wakti Abang susah mau pun senang" katanya.


"iya nak ,jangan pernah bilang begitu,kami semua tidak merasa direpoti kok ,malahan keluarga ibuk yang selama ini yang ngerepoti" ibu mertua ku menyahuti.


"sudah sudah pagi pagi kok sudah bahas yang sedih sedih sih,ini masalah. sudah siap ayok kita makan bersama" kata adik ku .


"yah udah ayok" kata adik ku lagi.


kami pun sekarang ada di ruang makan ,kulihat Nadira sudah rapi sama pengasuhnya mau berangkat ke sekolah.


"lho yah aku nyariin ayah di kamar ternyata ayah ada di sini rupanya" kata Nadira sambil mendekati ku.

__ADS_1


"emang Nadira mau apa nyariin ayah" kata ku.


"maaf ya yah Nadira kemaren ketiduran jadi nggak nemenin ayah deh" jawabnya, aku terharu di saat bundanya tidak peduli sama sekali dengan ku tapi masih ada putri ku yang menyayangi ku.


"ya udah ayo sarapan dulu kalau mau berangkat ke sekolah" kata ibu mertua ku menimpali.


"iya nek" jawabnya sambil duduk.


"ayo mbak ikut sarapan" adik kandung mengajak sarapan pengasuh Nadira.


"tidak Bu terima kasih ,tadi saya sudah sarapan di rumah sambil menyuapi anak saya Bu" tolaknya pada adik ku.


mendengar perkataannya aku jadi teringat Jamila yang tidak kelihatan di meja makan .


"Jamila subuh subuh tadi sudah berangkat kerja,memangnya Jamila tidak pamitan sama kamu nak"jawab ibu mertua ku.


" nggak Bu" aku menjawab apa adanya.


"keterlaluan sekali Jamila " kata ibu mertua ku.


"sudah sudah jangan bahas itu lagi ,ayo di lanjutkan makannya" kata bapak ku.


"ayah ...ayah mau Dira suapi" putri ku menawari ku.

__ADS_1


"tidak nak Nadira makan sendiri aja nanti telat pergi ke sekolahnya" kata ku .


"oh iya yah, ya udah Dira mau cepat cepat sarapannya lalu berangkat" katanya lagi.


POV Jamila


aku menunggui mas Idris di rumah sakit dengan keluarga ku.


aku syok melihat mas Idris koma selama beberapa hari, belum lagi Nadira yang terus saja menangis mau lihat ayahnya.


untung ibuku langsung pergi ke rumah sakit waktu aku kabari kalau mas idris kecelakaan,jadi lumayan lah ada yang menjaga Nadira jadi aku nggak perlu repot repot mengurusnya.


dan lagi kalau aku kerja kan lumayan aku tidak keluar uang untuk membayar orang untuk menjaga mas Idris.


sebenarnya si aku senang sekali kalau mas Idris tidak sadar sadar dari komanya, bahkan kalau sampai tidak selamat pun aku senang sekali, jadi aku bisa bebas melakukan kesenangan ku.


tapi mungkin dia masih rezeki,masih di berikan kesadarannya kembali.


tapi aku juga masih senang sih Karena dia di vonis lumpuh oleh dokter , jadi kan dia tidak akan ikut campur lagi dengan kegiatan ku.


tapi sekarang masih ada keluarga ku dan bapak mertuaku serta adik ipar ku di rumah ku,jadi aku masih harus menjaga sikap ku.


tapi belum sehari mas Idris pulang ke rumah sudah membuat ku muak dengannya, belum lagi Omelan Omelan ibu ku yang membelanya.sebenarnya di sini ini aku atau dia sih anaknya.

__ADS_1


__ADS_2