
5 tahun kemudian
tak terasa Nadira sudah menginjak umur 5 tahun, dan sudah waktunya masuk TK, aku merasa bersalah padanya karena bundanya tidak mau merawatnya dan sibuk bekerja padahal semua kebutuhan sudah ku tanggung,tapi entah apa yang ada di pikirannya sehingga menelantarkan putrinya demi pekerjaan.
aku memperkerjakan baby siter untuk menjaga Nadira,untung saja mbak yang menjaga Nadira merawat Nadira dengan tulus dan sayang ,sehingga Nadira tidak kehilangan kasih sayang seorang bunda, tapi baby sisrer itu tidak menginap tugasnya hanya menjaga Nadira sampai sore saja.
seperti pagi ini Nadira merengek ke bundanya minta gendong tapi tidak di gubris oleh bundanya sehingga mau berangkat sekolah jadi rewel.
"bunda bunda Dira mau gendong bunda" kata putriku merengek.
"gendong sama mbak ya bunda sudah telat pergi kerja jangan cengeng ,sudah besar, harus mandiri,"kata Jamila ,entahlah mengapa Jamila begitu tega sama Nadira padahal dulu dia yang menginginkan Nadira ada di antara kita aku tidak habis pikir padanya.
Nadira turun dari kursi karena kita memang lagi sarapan,dia turun lalu menuju ke arahku sambil matanya berkaca kaca karena bundanya tidak mau menggendongnya hanya walau sebentar saja.
"Dira gendong sama ayah aja ya kalau gitu," dia bicara sambil mengulurkan tangannya padaku , aku menatap tajam pada Jamila lalu aku meraih putriku dan aku mendudukkannya di pangkuanku.
aku menciumi pipinya karena aku gemas, memang sebelum berangkat kerja aku biasanya memang menyempatkan untuk menggendongnya, walaupun Nadira sudah besar aku tidak mau kehilangan momen di mana putriku Tumbuh setiap hari, walaupun itu tanpa perhatian bundanya.
__ADS_1
"aku berangkat ini sudah siang, aku nanti telat" Jamila pamit tanpa mencium tanganku seperti biasanya, selama 5 tahun ini dia sudah berubah bahkan Nadira yang mengulurkan tangannya pun tidak di gubrisnya, sungguh keterlaluan Jamila.
aku berangkat kerja sambil mengantar Nadira berangkat sekolah, saat aku akan menyebrang jalan aku melihat Jamila ada di salah satu mobil yang sedang berhenti di lampu merah, ku amati dari jauh dan benar itu Jamila dan seorang laki laki.
aku berniat untuk mengejarnya tapi aku kehilangan jejak mobil yang membawa Jamila,dan kuputuskan nanti saja kalau sudah pulang akan aku tanya dia ,karena ini sudah siang aku pun bergegas pergi untuk bekerja.
sore hari aku pulang lebih awal karena pekerjaanku tidak banyak, kulihat Nadira sudah mandi dan bermain dengan mbak pengasuhnya ,karena sudah sore mbak Aini nama baby sister Nadira, pamit untuk pulang.
"pak saya pamit pulang dulu" pamitnya padaku.
"sudah pak, Dira mbak pulang dulu ya" pamitnya pada putriku.
"ok mbak besok sini lagi ya" kata nadira.
aku mengajak Nadira masuk, aku menyuruhnya bermain dulu karena aku mau bersih bersih dulu.
"ayah mau mandi dulu ya, Nadira main boneka ya"
__ADS_1
"iya ya nanti Dira minta suapi ayah ya" katanya.
"Dira belum makan" tanyaku dan dia menggeleng.
"kenapa" ucapku lagi.
"Dira mau makan sama bunda" katanya sambil menunduk.
aku sebagai ayah merasa tidak berguna karena tidak dapat membahagiakan putriku, hanya mau makan di temani bunda permintaan yang sangat sederhana tapi aku tidak bisa memenuhinya.
"ya udah nanti ayah bilang sama bunda buat nemenin Dira makan ya, sekarang Dira makan sama ayah dulu ya , jangan sedih" aku berusaha menghiburnya, memang anak seusia Nadira lagi manja manjanya Sama bundanya.
selesai mandi aku pun langsung menyuapi Nadira makan.
waktu sudah menunjukkan pukul 5, tapi tidak ada tanda tanda Jamila pulang ke rumah, nanti kalau aku tanya sama dia alasannya lembur lah pergi sama teman lah, jadi aku tidak pernah memusingkan dia.
tapi untuk saat ini aku menunggu dia pulang, aku butuh penjelasannya dengan siapa tadi pergi kerja serta aku akan bicara soal Nadira padanya.
__ADS_1