
1 bulan kemudian.
perkembangan kesehatan ku semakin membaik,bahkan aku sudah mulai bisa berjalan walau masih dengan bantuan alat.
semenjak waktu itu Jamila juga sudah tidak lagi peduli pada ku ,dan dia tidak pernah sekali pun mengantar ku untuk terapi,untung saja ada pengasuh Nadira.
dia aku gaji dobel untuk menjaga Nadira dan mengantarku untuk terapi ,karena bapak dan ibu mertua ku juga punya pekerjaan di kampungnya jadi mereka aku suruh pulang.
agar aku tidak selalu merepotkan mereka, dan bapak ku sendiri juga pulang kerumahnya beliau tidak bisa berada di rumah ku lama lama,karena bapak ku juga punya ladang yang harus di garap.
hari ini aku bangun pagi pagi sekali karena hari ini adalah jadwalnya aku terapi, kalau pagi hari aku selalu berlatih berjalan di kamar dan Alhamdulillah pagi ini ada perubahan drastis pada kaki ku .
aku sudah bisa berjalan tanpa alat bantu walaupun itu hanya pelan pelan.
tapi aku masih belum bisa menunjuk kan kepada orang orang rumah ,aku ingin tahu bagai mana reaksi Jamila kalau aku sudah bisa berjalan dengan normal.
tok....tok ..
bunyi suara pintu di ketuk dari luar.
__ADS_1
"pak maaf ini saya mbak..,apa bapak sudah siap" tanya ,di balik pintu,ternya itu mbak pengasuh nadira, memang aku dan Nadira selama ini memangilnya mbak.
"iya mbak aku sudah siap ,tunggu aja di luar ya sebentar lagi siap kok". jawab ku sambil membenarkan pakaian ku.
setelah 10 menit aku sudah rapi ,tapi aku keluar masih menggunakan kursi roda aku ingin memberi kejutan pada keluarga ku nanti.
"ayo mbak ,mana Nadira kan sekalian berangkat ke sekolah" kata ku.
" iya, pak " jawabnya.sambil menuju ke kamar Nadira untuk memanggilnya, aku memang sengaja melarang mbak untuk masak ,rencananya aku ingin mengajak Nadira makan di luar nanti habis terapi terus jemput Nadira.
"pagi ini sarapan roti saja ya " kata ku sama Nadira dan di jawab dengan anggukan.
"tapi makannya sambil di dalam mobil yah" kata ku lagi.karena mobil Ki tidak ada yang bawah jadi kami semua menyewa mobil greb untuk pergi ke rumah sakit.
dan ketika mbak mau mendorong kursi roda ku,pintu kamar jamila terbuka dan keluarlah dia.
ku pikir dari tadi dia sudah berangkat kerja.
dan kulihat dia masih menggunakan baju tidur, mungkin dia baru saja bangun tidur.
__ADS_1
sekilas dia menoleh pada ku,tapi sedetik berikutnya dia melangkah menuju ruang makan.
walau melihat aku sudah rapi dia tidak basa basi menanyakan aku mau kemana.
semakin kesini ku lihat dia sudah tidak peduli sama sekali kepada ku maupun Nadira.
dia mau ngomong sama aku waktu dia butuh uang atau minta uang pada ku ,sungguh miris sekali.
"mbak ...mbak ...kok nggak ada makanan sih di meja makan" teriaknya yang membuat aku tersadar dari lamunan ku.
dan keluarlah mbak .
"iya buk ada apa" jawab mbaknya sambil keluar dari kamar putri ku, mungkin dia tadi tidak dengar karena sedang menyiapkan buku buku Nadira di kamar putri ku.
"kok nggak ada makanan sih di meja makan ..!!!" katanya sambil membentak mbaknya sampai ketakutan.
"maaf buk tadi kata bapak saya nggak boleh masak ,neng Nadira di suruh kasih sarapan roti sama bapak ,soalnya nanti sepulang dari terapi bapak mau ajak neng Nadira makan di luar"jawab mbaknya.lalu mbaknya keluar dari ruang makan.
"apa nggak malu dia ,sudah cacat pakek mau makan di luar segal makan di luar segala " katanya ,walaupun pelan tapi aku masih bisa mendengarnya.
__ADS_1
"dasar" lanjutnya.
dan aku pun sudah tidak tahan lagi dengan semua omongannya,walaupun aku cacat aku juga tidak pernah merepotkannya untuk pengobatan ku