Suami Yang Tak Dihargai

Suami Yang Tak Dihargai
21


__ADS_3

ku tatap Nadira dan langsung aku ajak pergi ke rumah sakit yang di beritahukan oleh pak polisi tadi.


POV Jamila and


"ibu........,' " lantang ku, aku menjerit sekuat tenaga.


lalu perlahan lahan aku membuka mata dan yang aku lihat aku ada di ruangan yang banyak sekali alat alat medis.


aku tidak melihat orang orang di sekitar ku.


datang seorang dokter menyarankan ku ke arah ku ,lalu dia memeriksa ku.


"Alhamdulillah" ucap sang dokter.


lalu dia juga suster yang datang bersamanya keluar dari ruangan itu.


aku masih mengumpulkan puing puing ingatan ku,kenapa aku sampai berada di ruangan ini.


tidak lama kemudian ada orang yang membuka pintu ruangan itu,dan ketika aku menengok itu adalah sosok bapak ku.apakah bapak yang menunggui ku selama aku di rumah sakit.


lalu kemana Jamila apa dia sudah tidak peduli pada ku lagi,pikir ku.

__ADS_1


"Alhamdulillah dris, bapak takut sekali kalau kamu tidak akan sadar nak,terima kasih ya allah engkau telah mengabulkan doa ku"bapakku mengucapkan syukur karena aku sudah sadar.


yang aku tanyakan pertama kali adalah keberadaan Nadira putri kecil ku.


"pak diana Nadira pak" tanya ku pada bapak ku.


"Nadira aman dia ada di luar sama ibu mertuamu dan bundanya, beberapa hari ini dia selalu nangis ingin bertemu dengan mu" jawab bapak, kata bapak tadi sama bunda nya berarti Jamila ada di sini.


"memang aku tidak sadar berapa hari pak" tanya ku sambil menoleh ke arah bapak.


"kamu sudah tidak sadar selama 2 Minggu nak, aku bersyukur kepada Allah masih memberimu kesempatan kembali ,kalau sampai sampai kamu tidak sadar bagai mana nasib Nadira putrimu" ucap bapak panjang lebar.


"tunggu sebentar nak, kata dokter sebentar lagi kamu di pindah ke ruang rawat" kata bapak.


aku pun menggerakkan tangan ku karena kebas akibat jarum infus, tapi saat aku mau menggerakkan kedua kaki ku aku merasa tidak ada rasa, dan aku mencobanya lagi tapi tetap tidak bisa.


"pak kenapa kok kaki ku tidak bisa di gerakkan ya," kata ku bingung dan sambil menunjuk ke arah kaki ku.


ku buka selimut yang menutupi kaki ku, ku pijit pijit kaki ku tapi tetap tidak terasa ,ada apa ini ya Allah,pikir ku dalam hati.


"sabar nak ku panggil kan dokter dulu, kamu jangan banyak gerak karena kamu baru sadar" kata bapak ikut panik melihat aku mulai memikul mukul kaki ku.

__ADS_1


beberapa menit ke.idian masuk seorang dokter dan perawat ke ruangan ku,dan dokter itu pun mulai memeriksa anggota tubuh ku.


"maaf ya pak Idris apa ini tidak terasa'" kata dokter sambil menepuk nepuk kedua kakinya ku.


dan aku menggeleng karena memang kali ku tidak terasa ,seperti mati rasa.


"kalau begitu kami permisi dulu nanti akan ada pemeriksaan lanjutan ya pak untuk mengetahui gejalanya.," kata dokter itu.


"oh iya perwakilan dari keluarganya saya mohon ikut saya ke ruangan saya untuk membicarakan masalah tentang pak Idris" lanjut dokter lagi.


"oh iya dok, saya bapaknya nanti saya yang akan ke ruangan dokter" kata bapak ku menyahuti.


"oh iya, kalau gitu saya tunggu di ruangan saya, kalau gitu saya pamit ya pak Idris ,bapak harus semangat" dokter itu menyemangati ku.


setelah dokter dan perawat itu keluar bapak pamit pada ku.


"aku mau ke ruangan dokter, kamu harus semangat ,nanti aku suruh Jamila masuk untuk menemani mu,,"" kata bapak ,aku hanya mengangguk mengiyakan, dan bapak pun keluar dari ruangan ku


setelah bapak keluar aku mulai berpikir membayangkan apakah aku akan lumpuh selamanya,kalau iya bagai mana nasib Nadira,dan apakah Jamila mau untuk merawat ku dan Nadira karena secara otomatis aku tidak akan bisa bekerja dengan ke adaan lumpuh.


sampai pintu terbuka dari depan membuyarkan lamunan ku.

__ADS_1


__ADS_2