Suami Yang Tak Dihargai

Suami Yang Tak Dihargai
98


__ADS_3

ketika aku dan Ais masuk ku lihat Nadira masih asik memakan sarapannya.


"siapa tamunya yah" tanya Nadira


"eh,, tadi itu Bu RT" jawab ku dan Ais memandang ke arah ku dan aku pun mengangguk padanya.


"iya sayang tadi ada Bu RT " kata Ais menimpali.


"oh" kata Nadira.


"nanti Dira di antar bunda ya yah" kata putri ku.


"iya bunda yang akan anterin Dira" kata Ais menjawab sebelum aku menjawab pertanyaan Nadira.


"iya kan yah" kata Ais sambil memandang ke arah ku .


" iya" jawab ku.


" karena sekarang bunda Yang akan mengantar jemput Dira" kata Ais lagi.


"beneran bunda," kata Dira sambil melihat ke arah ku lalu ke ara Ais. dan kami berdua mengangguk.


"hore , jadi sekarang bukan mbak sarah lagi yang anterin Dira ,sekarang dira sudah punya bunda, jadi tidak ada lagi yang ledekin bunda di sekolahnya " Kat Nadira panjang lebar ,kasian sekali putri ku selama ini mungkin sering di ejek oleh teman temannya.


"memang dura suka di bully sama teman teman di sekolah " kata Ais.


"iya bunda ,katanya Dira nggak punya ibu, gitu " kata Dira sambil menunduk sedih.


"ya udah , sekarang kan sudah punya bunda ,jadi nggak boleh sedih ya," kata Ais menghibur Dira.

__ADS_1


" ok bunda ,Dira sayang sama bunda" kata Dira. sambil memeluk Ais.


"ehm...ayah nggak di peluk juga nih" kata ku sambil berdehem ,karena aku seperti di lupakan oleh mereka berdua.


" ih ayah ikut ikutan saja" kata Dira sambil tertawa.


"ngambek Lo ayah kalau gitu" kata ku pura pura merajuk.


"iya iya, masa sudah tua kayak anak kecil pakai ngambek segala " kata Dira sambil turun dari kursi dan langsung meluk ku.


dan seketika kami bertiga langsung tertawa bersama karena tingkah Nadira.


"mas berangkat dulu ya, titip Nadira , nggak usah beresin rumah ,nanti ada mbak sarah yang akan ngeberesin , kamu istirahat saja" kata ku panjang lebar.


" iya mas" jawab Ais .


"ya udah mas berangkat dulu, " kata ku dan sebelum aku pergi Ais mengantar ku sampai ke depan pintu lalu dia mengambil tangan ku untuk bersalaman dan dia cium telapak tangan ku.


tapi senyuman mereka seperti senyuman menggoda ,mungkin mereka pikir aku sudah membuka segel padahal zonk mereka nggak tau aja kalau terlalu banyak rintangan untuk ku.nasib nasib.


"pagi bos " sapa doni dari arah dapur. dan tak kalah dari dua orang pria di depan tadi Doni malah lebih parah menggoda ku sambil senyum senyum nggak jelas.


"ngapain kamu senyum senyum nggak jelas" kata ku.


"ya elah bos masih pagi ni sensi amat ,nggak dapat jatah kah" cerocosnya.


dan Doni aku hadiahi tatapan tajam ku.lalu aku berlalu masuk ke ruangan ku.


"ya elah malah masuk ,ngambek kali" kata Doni pelan tapi masih bisa ku dengar.

__ADS_1


" masuk" kata ku sebelum aku menutup pintu ruangan ku.


"siap bos ku" kata nya sambil masuk ke ruangan ku.


aku dan Doni duduk saling berhadapan.


" ada apa sih bos masih pagi kok sudah nggak mod " kata Doni.


" nggak di kasih jatah ya sama Bu bos " lanjutnya.


dan seketika aku melotot padanya karena bicaranya yang terlalu fulgar.


aku pun mengetuk kepalanya dengan bolpoin yang sedang ku pegang.


"ya elah bos ," katanya sambil mengelus kepalanya yang tadi aku ketuk dengan bolpoin.


"emang ada masalah apa sih bos" lanjutnya.


"tadi Jamila datang ke rumah ku'" akhirnya aku bicara pada Doni karena memang Doni tempat aku berbagi masalah ku.


"a,apa, ngapain mantan bos ke sana, terus bagai mana reaksi Bu bos" tanah Doni.


ya itu yang aku sesali ngapain aku tadi nggak buka pintu sendiri.


"jadinya malah aku bikin dia nangis di pagi hari aku merasa bersalah padanya" kata ku pada Doni.


"ngapain bos bikin Bu bos nangis" kata Doni bingung .


"bukan aku yang bikin Ais nangis ,tapi Jamila entah apa yang dia katakan Samapi Ais menangis dan karena aku sudah muak dengan Jamila aku mengusirnya dari rumah ku karena dia sudah berani menghina dan merendah kan istri ku " kata ku panjang lebar.

__ADS_1


"bagus itu bos sekarang bos harus tegas ,biar Bu bos merasa ada yang melindungi " kata Doni


__ADS_2