
2 Hari kemudian di kediaman Papa Angga sedang ramai orang, di karenakan hari itu adalah syukuran atas bertemunya Zea dan mendoakan kandungan Zenia yang sekarang..
Abi Ahmad dan Umi Fadillah juga di undang, Angga tidak mungkin melupakan mereka yang telah merawat putrinya dengan sangat baik.
Acara tersebut berjalan dengan lancar, yang jadi penceramah adalah Zahran, semuanya mendengarkan tausiyah dari ustadz tampan itu.
Dari tadi Zea terus memandang keluar, berharap kalau Fauzan bisa datang kesana, dia ingin sekali mengenalkan Fauzan ke orang tuanya, tapi rasanya sangat sulit Fauzan dan dia terpaut jarak jauh, Fauzan berada di negara Turki sementara dirinya di indonesia.
“Sayang kamu nungguin siapa ?? Dari tadi mama lihat kamu melirik melihat kepintu terus ??” tanya Maya.
“Enggak kok, Zee gak menunggu siapa-siapa” jawab nya gugup.
“Benar ??”
“Iya Ma”.
Tapi Maya tidak percaya dengan perkataan sang anak, karena dari tadi Maya terus memperhatikan putri bungsunya, dan dia yakin kalau sang putri tengah menunggu seseorang. Maya pun meninggalkan Zea untuk menemani teman-teman nya.
Tiba-tiba Umi Fadillah mendekat.
“Zee kamu nungguin Fauzan ya ??” tanyanya langsung.
“Tidak Umi ! Mas Fauzan kan masih di Turki, mana mungkin dia hadir”jawab nya dengan sedikit kecewa..
“Sabar ya !!! Terus apa kamu sudah bercerita sama dia kalau kamu sudah bertemu dengan keluargamu ??”
“Sudah Umi, Zee sudah bercerita dengan nya”
Umi Fadillah tampak mengangguk-anggukan kepalanya.
Sementara Gibran dari tadi dia terus mengamati Zea, ingin sekali dirinya menyapa Zea dan dekat dengan nya, tapi Gibran terlalu takut, dia tidak punya keberanian untuk itu.
“Dia terlalu sempurna untuk mu Gib, kamu tidak pantas mendapatkan nya” kata nya dalam hati.
“Gib” tiba-tiba tepukan tangan di pundaknya membuat Gibran kaget, dia segera menoleh ke belakang ternyata itu adalah Zahran.
“Iya mas Zahran ??” tanya nya langsung.
“Melamun terus ?? Ada apa ??”
“Tidak mas, hanya saja Gibran merasa iri dengan kebahagiaan semua orang” jawab nya jujur
Zahran menghela nafas kasar, dia juga merasakan kesedihan Gibran, tapi harus bagaimana lagi dia juga tidak tau harus melakukan apa.
“Semoga cepat ketemu jodoh ya Gib !! tapi ingat jika suatu hari nanti kamu sudah menemukan istri lagi, jangan sia-sia kan dia, sayangi dia maka kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaan” nasihat Zahran dengan lembut.
“Iya mas, Gibran janji”
__ADS_1
“Kalai begitu, saya kesana lagi ya Gib, terus semangat, suatu hari nanti kamu juga pasti merasakan kebahagiaan” ucap Zahran, kemudian dia berlalu dari hadapan Gibran..
Gibran dapat mencontoh sosok Zahran, yang selalu sabar menghadapi sang istri, tutur kata yang sangat lembut membuat siapa saja betah jika berbicara dengan nya.
*
*
Sekitar jam 01 siang, para tamu sudah banyak yang pulang, mereka semua memberikan selamat kepada Angga dan Maya atas kebahagiaan yang sedang mereka rasakan.
Bahkan banyak dari ibu-ibu yang memperkenalkan anak laki-laki nya kepada Zea, namun Zea hanya menanggapi dengan senyuman, karena di hatinya sudah bertakhta nama Fauzan Abdullah.
“Kamu beneran gak bisa hadir Mas” ucapnya dalam hati.
Zea menunduk, merasa sangat sedih, entah sedih karena Fauzan tidak dapat hadir atau sedih karena belum bisa memperkenalkan Fauzan dengan kedua orang tua kandungnya.
Zea duduk di meja makan, dia mengaduk-aduk piring nya, Zenia yang melihat sang adik seperti memikirkan sesuatu akhirnya bertanya.
“Adik Kakak ini sedang memikirkan apa sih ??” tanya Zenia sembari merangkul pundak sang adik.
“Enggak kok Kak, Zee tidak memikirkan apa-apa” jawab Zea berbohong.
“Cerita saja !! Kakak tau kamu sedang memikirkan sesuatu”
“Hehe, nanti saja Kak, sekarang kan sedang ada acara”
Zea tersenyum di balik cadarnya, dia sangat bahagia sekarang punya Kakak yang sangat perhatian dengan nya.
✨✨✨✨✨
Sementara di pintu masuk, berdiri seorang pria tampan, dengan memakai baju kokoh putih dan celana dasar berwarna hitam sangat pas di tubuhnya.
“Benar gak ini rumah nya ??” tanya nya pada diri sendiri.
Fahri yang melihat dia kebingungan pun mendekat.
“Maaf, sedang cari siapa ya ??” tanya Fahri sopan.
“Saya mau bertanya apa ini rumah nya Pak Angga ya ??” pria itu kembali bertanya.
“Iya betul, silahkan masuk saja !! pak Angga sedang di ruang tamu” jawab Fahri.
“Saya Fauzan, saya kesini di undang oleh Zee” ucapnya memperkenalkan diri.
“Saya Fahri, adik iparnya Zenia kakak nya Zee” Fahri pun memperkenalkan diri.
“Mari saya antar” tawar Fahri kemudian, Fauzan pun mengangguk kemudian dia mengikuti langkah kaki Fahri untuk masuk kedalam.
__ADS_1
Di Sofa ruang tamu, sedang duduk Angga beserta sang istri, kedua orang tua Zahran dan kedua orang tua Gibran, sementara Abi Ahmad dan Umi Fadillah sudah pamit duluan di karenakan Abi Ahmad sedang ada kerjaan, Zahran dan Gibran juga ada disana sedang menemani anak-anak nya bermain.
Zahran yang melihat kehadiran Fauzan menjadi bingung, sedang apa dia disini ?? pikirnya.
“Loh Fauzan, sedang apa disini ??” tanya Zahran langsung.
Fauzan yang melihat ada Zahran langsung menunduk hormat “maaf pak, saya kesini karena di undang oleh Zee" jawab Fauzan kaku.
Iya Fauzan adalah orang kepercayaan Zahran yang ada di turki, Fauzan bekerja dengan Zahran sudah hampir 1 tahun, walaupun Fauzan baru bekerja disana Zahran dapat melihat Fauzan adalah orang yang baik dan bertanggung jawab makanya Zahran menjadikan Fauzan orang kepercayaan nya.
“Jadi kamu minta izin libur kemaren karena ingin menghadiri ini ?” tanya Zahran tersenyum.
“Hehe, iya Pak” jawab Fauzan.
Sedari tadi Angga terus memperhatikan Fauzan, baginya Fauzan sama seperti Zahran yang sangat sopan.
“Ma sepertinya kita akan punya mantu ustadz lagi??” bisik Angga ke sang istri.
“Sepertinya begitu Pa” balas Maya yang juga berbisik.
Kemudian Angga berdiri.
“Ini Papa nya Zee” ucap Zahran memperkenalkan.
Fauzan langsung mencium punggung tangan Angga, bahkan Fauzan juga menyalami semua orang disana, kecuali untuk wanita dia hanya menangkupkan kedua tangan nya didada.
“Silahkan duduk nak Fauzan” ucap Angga rama.
“Terima kasih Om” balas Fauzan.
Sementara Maya langsung ke dapur untuk memanggil Zea.
“Zee ada tamu di depan” ucap Maya setelah di dekat anak nya.
“Siapa Ma ??” tanya Zea.
“Kamu temui dulu, supaya kamu kenal siapa orang nya”
Zea mengangguk, kemudian dia langsung berdiri dan meminta Zenia menemaninya, Sekarang Zenia dan Zea berjalan bersama sementara Maya berada di tengah-tengah mereka.
Fauzan yang mendengar suara langkah kaki langsung menoleh, senyum nya mengembang dengan sempurna, rasa rindunya sangat dalam kepada sosok sang kekasih, sementara Zea terpaku melihat kehadiran orang yang membuatnya tak tenang dari tadi.
****
**Seperti biasa jangan lupa Like.
kalau tidak keberatan silahkan komen.
__ADS_1
dan Kalau ada poin lebih silahkan beri author hadiah.. terima kasih**----