Suamiku Menjadi Adik Iparku

Suamiku Menjadi Adik Iparku
S2-Part23


__ADS_3

Malam harinya, setelah makan malam dan sholat Isya, Zahran melihat sang istri terus terdiam, awalnya Zahran ingin menanyakan itu saat makan malam tapi ia tahan karena tidak ingin anak-anak nya tau apa yang sedang di pikirkan oleh Bunda nya.


“Sayang kamu kenapa ?? apa yang sedang kamu pikirkan saat ini ??” tanya Zahran dengan lembut.


Zenia menggeleng,“ tidak ada By, Nia hanya capek” jawab Zenia berbohong, padahal pikiran nya terus tertuju kepada sang Mama yang meminta nya untuk pulang, walaupun tidak ada paksaan sedikitpun tapi Mama Maya seperti sangat ingin Zenia pulang.


“Jangan bohong sama Byby !! Byby tau kamu sedang memikirkan sesuatu, ayo cerita sama Byby !!” ucap Zahran lagi, dia membelai pipi sang istri.


“By, tadi saat Nia telfon mama, Mama meminta kita pulang ke indo, katanya walau sebentar juga tidak mengapa” jelas Zenia pelan.


“Terus kamu jawab apa ??”


“Nia bilang kalau kita pulang nya saat Raja libur sekolah By”


“Sayang dengerin Byby, !! Byby tau Mama pasti sangat merindukan kamu, apalagi kamu anak satu-satu mereka, ini salah Byby harusnya Byby tidak membawa kamu pindah kesini, Maafkan byby sayang” ucap Zahran merasa bersalah, seandainya dia tidak mengajak Zenia untuk tinggal di turki mungkin kedua orang tua Zenia tidak akan seperti ini.


“Loh kok Byby bicara seperti itu ?? dengerin Nia ya !! byby tu gak salah karena membawa Nia kesini, karena memang sudah jadi tugas Nia untuk ikut kemana pun Byby pergi” balas Zenia tidak terima dengan perkataan suaminya, bisa-bisa nya Zahran berpikir seperti itu, pikirnya.


“Maaf sayang, !! tapi keputusan Byby kita akan pulang ke indo secepatnya, sebelum pulang kita harus kerumah sakit dulu untuk konsultasi sama dokter boleh gak kamu perjalanan jauh saat hamil muda seperti ini ?? dan byby juga harus ke sekolah Raja untuk meminta izin”


Mendengar itu Zenia sangat bahagia, dia langaung memeluk erat suaminya, Zahran pun membalas pelukan sang istri.


“Terima kasih By, terima kasih” ucap Zenia.


“Sama-sama sayang” balas Zahran sambil mencium kening sang istri.


Zenia begitu bahagia, dia sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba, dia ingin memeluk mama nya dengan erat, Zahran yang melihat sang istri terus tersenyum juga merasakan kebahagiaan, apapun itu akan aku lakukan untuk kebahagiaan sang istri, seperti menurutinya untuk pulang ke indo.


“Ayo tidur, ini sudah malam!!” ajak Zahran kemudian.


Zenia menurut, dia berbaring di atas ranjang mewah itu, di ikuti oleh Zahran, sebelum memejam kan mata Zahran mencium kening sang istri.


“Selamat malam istriku !! mimpi indah ya !!" ucap Zahran lembut.


“Malam juga sayang"

__ADS_1


Mereka pun tidur dengan cara berpelukan.


*


*


*


Ke esokan paginya, seperti biasa Gibran akan berangkat bekerja pagi-pagi sekali, dan akan pulang saat semua orang sudah tidur, itu Gibran lakukan untuk menghindari ibunya, Gibran hanya tidak mau selalu ribut dengan sang Ibu.


Tapi pagi ini sepertinya Ibunya sudah muak dengan Gibran yang selalu menghindarinya, Bu Susi sengaja menunggu Gibran di depan pintu kamarnya.


Saat Gibran membuka pintu kamarnya, dia kaget karena melihat ibunya sudah berdiri disana dengan menatap tajam ke arah nya.


“Ibu ngapain disini ??” tanya Gibran basa-basi.


“ Kamu tidak usah banyak tanya, Ibu tau kamu menghindari ibu kan selama ini ??" ucap Susi langsung.


“Ibu bicara apa sih ?? mana mungkin Gibran menghindari ibu” kilah Gibran.


“Iya karena Gibran banyak kerjaan bu"


“Bohong”


Dan keributan itu kembali datang, Hartono yang mendengar itu langsung menghampiri istri dan anak nya.


“Sudah cukup ! kalian ini ribut terus, ini masih pagi kalian sudah ribut” bentak Hartono dan membuat Susi dan Gibran terdiam.


“Dan kamu Gibran" tunjuk Hartono “Dia itu ibu kamu, tolong hormati dia !!” ucapnya lagi.


“Maaf kan Gibran Yah !!” hanya itu yang dapat Gibran ucapkan.


Setelah itu Gibran langsung pergi setelah sebelumnya mengucapkan salam, Susi menjadi sangat geram kepada anak nya.


*

__ADS_1


*


*


Sementara di turki, saat sarapan pagi Zenia menyampaikan kepada ketiga anak nya kalau mereka akan pulang ke indo dalam waktu dekat.


“Anak-anak dengerin Bunda !! kita akan pulang ke indo dalam waktu dekat ini, iya kan Ba ??” ucap Zenia sambil melirik sang suami.


Zahran hanya tersenyum, berbeda dengan ketiga anak nya, mereka bersorak riang mendengarkan kabar itu, apalagi Raja dia bahagia sekali karena akan bertemu dengan Ayah nya dan Kedua orang tua Zenia.


“Hore, Abang bisa ketemu sama Ayah, dan ketemu juga sama Mama dan Papa ( kedua orang tua Zenia) " ucap Raja.


“Bang panggil Kakek dan Nenek ya !! jangan Mama dan Papa lagi, Raja harus membedahkan semua itu” ucap Zenia, karena Raja masih memanggil kedua orang tuanya Mama dan Papa..


“Maaf Bunda" balas Raja menunduk.


Zenia hanya menggeleng kan kepalanya, karena sangat susah membuat Raja mengerti, karena sampai sekarang Raja masih saja memanggil kedua orang tua Zenia dengan sebutan Mama dan Papa, berbeda dengan Arda dan Adel mereka langsung memanggil mereka dengan sebutan Kakek dan Nenek.


“Maaf terus !! kamu tu dengerin kalau Bunda lagi ngomong, kamu tu sudah besad bang, kamu harus membedahkan panggilan ke orang tua dan Nenek kamu” ucap Zenia tegas, mendengar nada bicara istri nya sudah seperti itu Zahran pun angkat bicara.


“Bunda, kalau nasihatin anak itu harus cara yang lembut, kalau di bentak seperti itu mereka bukan nya mengerti mala takut Bun” ucap Zahran.


“Maaf Ba, habis nya Raja itu selalu saja manggil mereka mama dan papa, padahal kan harunya kakek dan Nenek”


“Biar Baba yang bicara sama dia”


Zahran pun mendekat, kemudian dia mensejajarkan tingginya denga sang anak, menatap wajah anak nya yang sudah menangis, Zahran menghapus air mata yang mengalir di pipi Raja.


“Bang, betul kata Bunda, Abang harus membedahkan panggilan ke kakek dan nenek Raja, jangan manggil mereka mama dan papa lagi, kan ibunya Raja hanya satu yaitu Bunda Zenia sedangkan Mama Maya itu adalah Nenek nya Raja" ucap Zahran dengan lembut.


“Iya Ba, Abang akan memanggilnya Kakek dan nenek” jawab Raja masih menunduk.


“Anak pintar !! Baba tau kamu itu adalah anak yang pintar dan penurut” Zahran pun memeluk erat putranya.


Zenia merasa terharu melihat suaminya yang sangat begitu lembut saat berbicara kepada anak-anak nya, berbeda sekali dengan dirinya yang selalu terbawa emosi apalagi saat melihat kenakalan anak-anak nya, sungguh Zenia harus banyak belajar lagi kepada Zahran.

__ADS_1


...LIKE DAN KOMEN...


__ADS_2