
Keesokan paginya semuanya kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Zenia dan bayinya, sedangkan Zahran dan Mama Maya tetap menunggu di rumah sakit.
“Bunda---” teriak Adel setelah pintu ruangan Zenia terbuka, Adel langsung berlari ingin segera di gendong sang Bunda tapi dengan sigap Zahran yang mengambil alih menggendong nya.
“Aku mau sama Bunda, Ba”
“Jangan dulu ya sayang, Bunda masih sakit”
Adel memandang ke arah Bunda nya, kemudian anak itu juga melihat tangan Bunda nya yang masih di infus.
“Kita lihat Adek saja mau ??” ajak Zahran.
Adel langsung mengangguk kemudian dia membawa putrinya itu untuk melihat bayi yang baru lahir, disana para ibu-ibu sedang bergerombol untuk melihat bayi lucu itu, sungguh sangat menggemaskan, wajahnya yang putih dan bersih.
“Ini adek nya siapa Ba ??” tanya Adel sambil memperhatikan bayi lucu itu.
“Adek nya kamu sayang !!”
“Berarti jangan panggil aku adek lagi, panggil aku Kakak, iya kan Ba”
“Hehe, iya sayang”
Raja dan Arda juga mendekat, mereka memperhatikan adik bungsu mereka, sesekali mereka saling pandang.
“Ba, adek nya mirip siapa ??” tanya Arda.
“Mirip aku lah Kak” jawab Adel yang masih berada di gendongan Baba nya.
Arda kembali memperhatikan bayi itu.
“Tidak, dia tidak mirip kamu”
“Terus mirip siapa Kak ??” Adel kembali bertanya dengan sang kakak yang hanya berjarak 5 menit darinya waktu lahir.
“Mirip aku lah, ya kan Bang ??” Arda kembali berkomentar sembari bertanya kepada Raja.
“Hei, sudah-sudah” lerai Zaidan yang pusing melihat perdebatan para keponakan nya,“Dia mirip Om Zidan” ucap nya lantang.
“Mana ada mirip kamu, dia mirip Abang lah” jawab Zahran yang tak terima anak nya di bilang mirip dengan Zaidan.
“Iss, ini kenapa Abang malah seperti anak kecil juga ??" batin Zaidan.
__ADS_1
Sedangkan Umi hanya tersenyum sambil memperhatikan mereka, dia begitu sangat bahagia, keluarganya hidup dengan rukun, mempunyai cucu yang banyak adalah kebahagiaan tersendiri buatnya, 1 bulan yang lalu dia juga baru mendapatkan cucu baru lagi, yaitu anak nya Fahri dan Aisyah yang berjenis kelamin laki-laki, yang di beri nama Ibrahim Haikal Arsalaan dan di panggil Ibra.
“Ini dari Ais dek Nia, maaf dia tidak bisa datang, Ibra gak ada yang jaga di rumah” ucap Fahri sambil meletakkan kado.
“Kok repot-repot segala kak Fahri, tapi terima kasih ya, tidak apa-apa Nia mengerti Ibra juga kan baru 1 bulan” jawab Zenia.
Zahran mendekati mereka, tak lupa Zahran juga mengucapkan terima kasih atas apa telah mereka bawah.
“Siapa nama nya By ??” tanya Zenia setelah sang suami duduk di pinggir ranjang tempat Zenia berbaring.
“Zhalfa Azalia putri Arsalaan” ucap Zahran, hingga semua orang menatap ke arah nya.
“Nama yang cantik, secantik orang nya” ucap Abi yang tengah menatap cucu bungsunya.
“Panggilan nya By”
“Zhalfa saja sayang ??”
Zenia tersenyum sembari mengangguk, tentu saja nama-nama yang di pilihkan suaminya adalah nama yang sangat indah.
*
*
“Loh By” ucap Zenia takjub
“Ini usul Zaidan sayang, Byby juga tidak tau”
Bayi yang ada di gendongan Umi menjadi rebutan disana, dia langsung di tidurkan di dalam boks bayi yang di beli oleh Zea, baby Zhalfa di tidurkan di samping Ibra ana nya Fahri.
“Terima kasih ya sayang, sudah memberikan Byby anak-anak yang sangat lucu”
“Sama-sama By”
Tidak lama Gibran dan Ica juga berkunjung kesana , mereka juga membawa kado untuk di berikan kepada si kecil.
“Cantik sekali ya mas ??” ucap Ica sambil memandangi baby Zhalfa.
“Iya sayang, imut” balas Gibran.
Tidak lama Raja mendekat.
__ADS_1
“Ayah, Mama” ucap Raja.
“Eh anak Mama yang ganteng”
Ica kemudian berjongkok untuk memeluk anak dari suaminya yang saat ini juga menjadi anak nya juga.
“Lo mbak Ica kapan datang nya ??” tanya Zenia, dia baru saja habis dari kamarnya.
“Baru saja Nia, selamat ya atas kelahiran anak kamu, baby nya cantik sekali sama seperti kamu”
”Terima kasih mbak”
Gibran pun melakukan hal yang sama, dia juga mengucapkan selamat kepada wanita yang status nya masih menjadi ibu dari anak nya, wanita yang dulu pernah berkorban untuk melahirkan putranya.
Walau masih ada kecanggungan dari keduanya, tapi Gibran dan Zenia ingin berusaha menjadi keluarga, berusaha melupakan apa yang telah terjadi di antara mereka.
Memang kehidupan tidak ada yang tau apa yang akan terjadi kedepannya, begitupun dengan Gibran dan Zenia, mereka yang awalnya menjalin komitmen dalam berumah tangga tak pernah memikirkan mereka akan berpisah, dan Gibran juga masih menyesali kesalahan terbodoh nya hingga dia sekarang berjanji akan terus menjaga kesetiaan nya kepada seorang wanita yang saat ini menjadi istrinya.
Begitupun dengan Zenia, dia juga tak pernah membayangkan akan berpisah dengan Gibran, dulu dia menganggap dunia ini tidak adil kenapa dia harus merasakan semua itu, tapi keikhlasan nya lah yang menemukan dirinya dengan sosok Zahran, yang begitu penyayang dan lemah lembut.
Zahran mendekati istrinya, Zenia langsung menyambut suaminya dengan penuh kasih sayang.
“Tidak ada yang paling aku syukuri selain bisa menghabiskan waktu bersamamu, suamiku tercinta. Aku tidak bisa mengucapkan banyak kata-kata, yang hanya ingin aku sampaikan adalah terima kasih atas semua pemberianmu kepadaku. Tanpa aku sadari, aku telah memiliki semuanya berkat kehadiranmu disisiku. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah terus bersamamu tidak peduli apapun yang akan datang di masa mendatang. Sekali lagi, terima kasih atas segalanya.” (Zenia Shakila).
“Istriku yang salihah, jika aku bisa menjadi apa pun yang aku inginkan, maka aku hanya ingin menjadi seseorang yang kau cintai.” (Zahran).
Gibran terus menatap kebahagiaan dan keromantisan Zahran dan Zenia, kemudian dia menatap sang istri yang tengah bermain bersama Raja.
“Aku pernah melakukan kesalahan, aku pernah menyakiti 2 wanita sekaligus, hingga kesalahan ku tidak bisa di maafkan oleh diriku sendiri, aku kehilangan semuanya, tapi sekarang aku kembali menemukan sosok seorang istri, aku berjanji akan menjaga nya dengan baik, menyayanginya dengan penuh kasih sayang, untuk Zenia Shakila terima kasih karena pernah hadir dalam hidup mas, terima kasih pernah berjuang untuk melahirkan anak mas, dan untuk Zara Anastasya, terima kasih juga telah mengajarkan aku cara berkorban untuk orang tersayang, mas menghargai setiap kasih sayang kamu walau itu dengan cara yang salah, semoga tenang di sana” seru Gibran dalam hati.
“Mas ayo kita foto bersama, ngapain sih ngelamun terus dari tadi ??” tanya Ica sambil menarik suaminya.
“Eh iya sayang” balas Gibran.
Semuanya sudah berbaris disana, untuk menunggu sang fotografer mengambil gambar, berdiri di samping suami masing-masing.
“Ok senyum yah !! 1---2---3”
Cekrek foto di ambil., Bahkan sang Fotografer juga merasakan kebahagiaan disana, senyum ceria selalu tampak disana.
...THE END...
__ADS_1