Suamiku Menjadi Adik Iparku

Suamiku Menjadi Adik Iparku
S2-Part05


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, hari itu adalah hari kamis, sore hari sekitar jam 03 Gibran datang ke sebuah pemakaman, dia keluar dari mobilnya masih mengenakan setelan jas kerja.


اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَإِنَّا إِِنْ شَاءَاللَّهُ بِكُمْ لَا 


حِقُوْ نَ، نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَاوَلَكُمُ الْعَافِيَةَ


"Assalamu'alaikum ahlad-diyaar minal mu'miniina wal muslimiin. Wa inna insyaa alloohu bikum laahiquun. Nasalullooha lanaa walakumul 'aafiyah."


"Semoga kesejahteraan terlimpah kepada kalian, para penghuni kubur, dari kaum Mukminin dan muslimin, dan sesungguhnya kami Insya Allah akan menyusul kalian. Kami memohon keselamatan kepada Allah untuk kami dan kalian". (HR Ibnu Majah).


Setelah mengucapkan salam, Gibran memasuki pemakaman tersebut, dan disinilah dia sekarang berdiri di sebuah makam Zara Anastasya perempuan yang pernah hadir dalam hidup nya.


“Assalamualaikum Zara, Mas datang lagi” ucap Gibran kemudian duduk dan mengelus batu nisan tersebut.


Seperti biasa saat Gibran mengunjungi makam Zara, detak jantung nya terasa lebih cepat, nafas nya terasa sesak. Tangan nya gemetaran. Matanya panas mulai membentuk bulir-bulir air mata yang hampir jatuh.


Terkadang ketika Gibran mengingat nama Zara, hatinya selalu sakit, bagai diterpa beban berat hingga dia tak sanggup untuk bernafas, sesak sekali.


“Ra hari ini mas mau cerita sesuatu sama kamu, seminggu yang lalu Abi menunjukkan foto seorang wanita, sebenarnya itu juga permintaan mas, nama nya Roudhotul Lila, apa kamu setuju Ra kalau Mas menikah lagi ??” ucap Gibran sembari menahan air matanya.


“Kamu tenang saja Ra, walaupun mas nanti sudah menikah lagi Mas akan terus mengunjungimu seperti ini”


Hingga akhirnya pertahanan nya untuk tidak menangis luluh sudah, air bening itu meluncur begitu saja, Gibran mulai terisak.


Setelah cukup lama Gibran pun menghapus air matanya, kemudian dia mengambil buku yasin yang dia letakkan di saku jas nya.


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Gibran mulai membaca surat Yasin dengan khusuk, membaca ayat demi ayat yang terdiri dari 83 ayat tersebut.


Setelah selesai Gibran mendoakan Zara, supaya dia tenang di alam sana, dan mendapatkan tempat yang layak disisi NYA.


“Mas pulang dulu, Minggu depan Mas pasti akan datang lagi” ucap Gibran kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari pemakaman tersebut.


Gibran melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, setelah sampai di rumah seperti biasa dia akan di sambut oleh ibunya.


“Assalamualaikum bu” seru Gibran sembari menyalami tangan ibunya.

__ADS_1


“Walaikumsalam” jawab Susi ibunya Gibran.


“Gib, ibu mau video call sama Raja, ibu kangen Nak sama cucu ibu” ucap Susi kemudian sembari mengikuti langkah kaki anak nya.


Gibran berhenti, dia juga merasakan rindu yang sangat dalam kepada anak nya, dia juga ingin bermain dengan Raja.


“Boleh bu, Gibran juga rindu sama Raja” balas Gibran tersenyum kemudian menuntun ibunya untuk duduk di sofa.


Gibran mulai mengeluarkan ponselnya, mencari nama kontak Zahran setelah di temukan Gibran mulai melakukan sambungan video call.


Sementara di turki waktu menunjukkan pukul 01 siang, selisih waktu indonesa-turki sekitar 4 jam, Indonesia di ketahui waktu lebih cepat di bandingkan negara turki.


Seperti saat ini di indonesia sudah menunjukan pukul 04 sore, jadi di turki masih jam 01 siang.


Ponsel Zahran berbunyi tanda ada panggilan masuk, kebetulan Zahran sedang tidak pergi ke kantor, saat ini dia sedang menemani ketiga anak nya bermain, Zahran melihat nama Gibran tertera di layar hp nya, dengan cepat Zahran menggeser menu hijau ke atas.


“Halo Assalamualaikum mas Zahran” sapa Gibran di seberang sana.


“Wa’alaikumus Salam Warahmatullahi Wabarakatuh, Iya Gib, mau ngobrol sama Raja ya ??” jawab Zahran dan sepertinya sudah tau keinginan nya Gibran.


“Iya Mas” jawab Gibran terkekeh.


Kemudian Zahran menyerahkan ponselnya kepada Raja.


“Raja ini Ayah mau ngobrol” ucap Zahran dengan lembut, Raja tersenyum kemudian dia mengambil ponselnya.


“Halo Ayah, Assalamualaikum” seru Raja saat melihat wajah Ayah nya melalui ponsel Zahran.


“Walaikumsalam, bagaimana keadaan Raja ?? sehat kan ??” tanya Gibran sembari tersenyum.


“Raja sehat Ayah, Ayah sendiri bagaimana kabar nya ??”


“Ayah juga sehat Nak, sekarang Raja ngapain ??”


“Lagi bermain sama Kakak Arda sama Adek Adel” kemudian Raja mengarahkan ponselnya ke arah Arda sama Adel yang saat itu tengah fokus menggambar, Arda dan Adel menoleh kemudian dia melambaikan tangan nya menyapa Gibran tak lupa dengan senyum manis mereka.


“Bagaimana sekolahnya Nak ?? lancar kan?” tanya Gibran lagi setelah ponsel milik Zahra kembali mengarah ke arah Raja.

__ADS_1


“Lancar Ayah, Raja juga udah bisa bernyanyi”


“Oh ya ? coba Ayah mau dengar Raja nyanyi apa ?? tapi yang bahasa indonesia ya sayang, kalau bahasa turki Ayah gak bisa, ini juga ada nenek yang dengerin Raja ngomong” pinta Gibran.


“Boleh ayah, dengerin ya”


Raja mulai mengambil ancang-ancang hendak bernyanyi, ternyata di sana Gibran bersama ibunya sedang menunggu lagu apa yang akan di nyanyikan Raja. Ternyata Raja akan menyanyikan lagu yang berjudul Sayang Semuanya.


Raja pun mulai bernyanyi.


Satu-satu Raja sayang Bunda.


Dua-dua Raja sayang Baba


Tiga-Tiga Sayang adik kakak


Satu, Dua, Tiga sayang semuanya.


Zahran tersenyum, tapi tidak dengan Gibran, harusnya kan lagu itu Dua-dua aku sayang ayah. tapi kenapa Raja rubah menjadi sayang Baba, hati Gibran merasa sesak, apakah anak nya sudah tidak menyayangi dirinya.


Begitupun dengan Susi, dia juga ikut terkejut mendengar lagu yang di nyanyikan oleh cucunya, bukan Ayah yang di sematkan di nada kedua tapi kata Baba yaitu panggilan Raja ke Zahran.


“Bagaimana Ayah bagus kan ??” tanya Raja.


“Iya bagus sayang, anak Ayah pintar” jawab Gibran tersenyum kecut.


Akhirnya Gibran memutuskan untuk mengakhiri acara video call nya, dengan alasan kalau Gibran ingin istirahat.


“Ini Ba, makasih ya” ucap Raja sembari menyerahkan ponselnya.


“Iya sayang, sama-sama” balas Zahran.


Sementara di indonesia, Susi sedang marah-marah.


“Pasti Raja sudah di pengaruhi pikiran nya, untuk tidak menginat kamu, pasti itu yang melakukan Zahran dan Zenia” ucap Susi dengan kesal


“Itu tidak mungkin bu, mas Zahran adalah orang yang baik, dan hal yang wajar kalau Raja lebih menyayangi mas Zahran di banding Gibran, karena selama ini mas Zahran lah yang merawat Raja, menyayangi nya dengan sepenuh hati, harusnya Gibran berterima kasih kepada Mas Zahran yang selalu menjaga Raja dengan baik” jelas Gibran walaupun sebenarnya dia iri pada Zahran yang sangat di sayangi oleh Raja.

__ADS_1


“Tapi ibu tidak terima kalau Raja lebih menyayangi dia di banding kamu Gib, walau bagaimana pun kedudukan kamu lebih dari dia, kamu itu adalah ayah kandung Raja buka dia” bentak Susi.


Dan terjadi lah perdebatan antara Gibran dengan sang ibu.


__ADS_2