Suamiku Menjadi Adik Iparku

Suamiku Menjadi Adik Iparku
S2-Part45


__ADS_3

ZAHRAN POV______


Setelah memarkirkan mobil, aku langsung berlari, menerobos beberapa pengunjung rumah sakit, sesekali aku mengucapkan kata maaf saat diriku tak sengaja menabrak orang-orang disana, hatiku kacau ingin secepatnya aku sampai di mana saat ini istriku berada.


Tadi saat di kantor aku mendapatkan telefon dari Umi kalau istriku kesakitan, mungkin saja dia akan segera melahirkan.


“Umi bagaimana keadaan Nia ?? dia baik-baik saja kan ??” tanya ku pada wanita paruh baya yang telah melahirkan aku ke dunia ini.


“Masuk saja nak !! dari tadi Nia selalu nanyain kamu, sejauh ini kondisi nya baik-baik saja”


Ada sedikit kelegaan dalam hatiku saat mendengar kata-kata Umi, namun kejadian dimasa lalu saat istriku melahirkan si kembar membuat ku sedikit takut.


Setelah berpamitan kepada Umi dan yang lain, aku pun segera masuk kedalam sana, saat aku membuka pintu aku dapat melihat ibu mertuaku sedang menggenggam tangan istriku.


Istriku menoleh ke arah ku, dia tersenyum, segera aku mendekat kemudian mencium kening nya.


“Sayang kuat ya !!! Byby ada disini” bisik ku di telinga nya.


Ku lihat dia hanya tersenyum, genggaman nya di tanganku semakin kuat, mungkin karena efek sakit yang saat ini dia rasa.


“Mama keluar sebentar ya !! tolong titip Nia” ucap mama mertuaku, aku membalasnya dengan anggukan kemudian tersenyum..


“By maaf tadi Nia lepas cadarnya”


Aku memandang wajahnya, bisa-bisa nya dia masih memikirkan aurat saat seperti ini, walau sebenarnya dia hanya membuka cadarnya saja tidak dengan hijabnya.


“Iya sayang Byby ridho”


Kembali aku mendengar suara rintihan yang keluar dari bibirnya, pasti itu sungguh menyakitkan, walau aku tau aku tidak akan bisa merasakan nya tapi melihat istriku seperti itu, aku seperti merasakan apa yang saat ini dia rasakan.


“Hijab nya mau di ganti yang lebih kecil gak ?? ini kayak nya terlalu besar, sayang pasti kepanasan”


“Tidak By, nanti di ruang operasi Nia akan kedinginan”


Benar memang, istri ku akan kembali melahirkan secara sesar nantinya, jarak antara lahiran anak kembar kami dengan yang sekarang sangat dekat, dan aku juga tidak mau mengambil resiko lebih, aku ingin anak dan istriku semuanya selamat.


لا إله إلا الله العظيم الحليم ، لا إله إلا الله رب العرش العظيم ، لا إله إلا الله رب السموات ورب الأرض رب العرش الكريم. يا حي يا قيوم ، برحمتك أستغيث


Latin: Lâ ilâha illallâhul 'azhîmul halîm. Lâ ilâha illallâhu rabbul 'arsyil 'azhîm. Lâ ilâha illallâhu rabbus samâwâti wa rabbul ardhi rabbul 'arsyil karîm. Yâ hayyu, yâ qayyûm, bi rahmatika astaghîts 


Artinya: "Tiada tuhan selain Allah yang maha agung lagi maha santun. Tiada tuhan selain Allah, Tuhan arasy yang megah. Tiada tuhan selain Allah, Tuhan langit, bumi, dan arasy yang mulia. Wahai Tuhan Yang Maha Hidup, lagi Maha Jaga. Hanya kasih-sayang-Mu yang kuharapkan."


Ku bacakan doa untuk membuat dia tenang dalam menjalani kelahiran buah hati kami.

__ADS_1


Setelah menunggu kurang lebih satu jam lebih istriku sudah di masukan kedalam ruangan operasi, awalnya aku hendak ingin menemani nya didalam sana, tapi karena saat proses operasi ternyata ada pasien lain membuat ku tak bisa menemani, namun aku kembali mengingat kata-katanya.


“Byby jangan khawatir !! Nia pasti akan baik-baik saja, Byby doakan Nia ya !!”


Walau tak di minta pun aku pasti akan mendoakan dirinya.


Saat ini aku menunggu bersama kedua orang tuaku dan kedua mertuaku, tak ada sedikitpun aku tenang, ku lihat lampu di depan ruangan operasi itu sudah berubah menjadi warna merah, itu tandanya operasi nya sedang berlangsung.


Kembali aku berzikir, beristighfar, berdoa kepada sang pemilik kehidupan untuk menyelematkan anak dan istriku.


Mama mertuaku dan Umi juga tampak sangat tegang, bahkan papa mertuaku terlihat menghela nafas panjang beberapa kali aku tau dirinya juga sedang merasakan takut sama seperti yang saat ini aku rasakan.


Bunyi dering ponsel Mama mertuaku memecahkan keheningan di antara kami.


“Iya Zan ada apa ??”


Aku hanya mendengarkan suara mama Maya yang sedang menerima telefon entah itu dari siapa, aku tidak peduli yang saat aku pikirkan hanya istriku dan istriku.


Tak lama kemudian Mama Maya memberikan ponselnya kepadaku.


“Dari Fauzan, katanya Adel nangis nyariin Nia”


Aku mengangguk kemudian menerima ponsel tersebut kemudian menempelkan benda pipih itu kedaun telinga ku.


Benar saja suara tangis putriku terdengar disana.


“Coba kasih Hp nya ke Adel” pinta ku pada adik iparku.


Kemudian tidak lama kemudian terdengar suara putriku yang memanggil.


“Baba, adek mau sama Bunda”


“Dek, kan disana ada onty Zee sama Om Fauzan, adek sama mereka dulu ya, nanti soreh Baba bawa Bunda pulang”


“Tidak mau, adek mau sama Bunda, hiks---Hiks---hiks”


“Sabar ya sayang, adek gak boleh gitu, adek kan anak pintar, Abang sama Kakak Ar mana ??”


“Tadi katanya mau beli es krem, Adek di tinggal sendiri, abang sama Kakak gak pulang-pulang”


Aku menghela nafas, pasti ini kerjaan Arda, entah kenapa anak laki-laki ku itu selalu membuat Adel menangis, tapi tumben juga Raja juga ikutan, padahal saat Arda menjahili Adel dia adalah orang terdepan yang akan memarahi Arda.


“Ya sudah Baba telefon Abang sama Kakak dulu biar cepat pulang, Adek jangan nangis lagi ya !!”

__ADS_1


“Iya Ba”


Setelah mengucapkan salam aku memutuskan sambungan telefon, kembali aku menyerahkan ponsel milik mama mertuaku.


“Bagaimana Adel masih nangis Ran ??” tanya Umi.


“Udah enggak sekarang Umi, dia di kerjain sama Arda, di tinggal sendiri, makanya dia nangis”


“Kenapa semakin besar Arda ini semakin jahil sama Adeknya,” sahut Abi


Suasana kembali hening, kembali menunggu kabar dari dalam, berharap semuanya baik-baik saja, sesekali papa Angga berdiri kemudian mengintip kedalam, walau dia tau tidak mungkin bisa melihat apa yang terjadi di dalam.


Hingga tak lama kemudian, samar-samar aku mendengar suara tangis bayi yang sangat kencang, semoga itu suara anak ku.


Tidak berapa lama seorang suster keluar sambil mendorong bok bayi.


“Pak Zahran ini anak bapak, jenis kelamin nya perempuan, keadaan nya sehat tanpa kekurangan”.


“Alhamdulillahirobbil Alamin” balasku tersenyum.


Aku mendekati bayi mungil itu, dia mengerjapkan matanya.


“Assalamualaikum putri Baba, selamat datang di dunia ini sayang”


“Maaf pak saya bersihkan dulu bayinya, nanti saya antarkan lagi setelah ibu Zenia sudah di pindakan”


“Oh ya bagaimana keadaan istriku ??”


“Alhamdulillah, ibu Zenia sehat”


Lega sekali hatiku mendengarnya.


“Terima kasih Ya Allah, atas semua ini” ucap ku dalam hati.


*


*


*


......**LIKE DAN KOMEN......


...ADD FAVORIT...

__ADS_1


...RATE BINTANG LIMA...


...TERIMA KASIH**...


__ADS_2