
Kebahagiaan itu kadang egois, mungkin kita tak akan peduli dengan siapapun yang akan terluka. Yang penting itu kita bahagia dan merasa puas. Tidakkah kita berpikir ada orang lain yang juga ingin bahagia, mengapa harus mereka yang akan jadi korban dalam kebahagiaan kita? Mengapa harus mereka yang terluka?
Mungkin itulah yang Gibran rasakan. Di merasa sedih sekali, ketika harus menerima kenyataan bahwa Zahran akan berkorban untuk kebahagiaan keluarganya terutama ibunya.
Gibran melangkah meninggalkan kantor itu dengan perasaan campur aduk, di sisi lain dia sangat bahagia karena dirinya dan Raja akan terus bersama, tapi dia juga merasa kasihan pada Zahran yang harus bolak-balik mengurus pemindahan nya lagi .
Masih teringat dengan jelas saat Gibran ingin membantu Zahran untuk mengurus kepindahan nya ke indonesia lagi.
“Saya bantu ya mas !!” ucap Gibran
“Tidak usah Gib, insya Allah saya bisa sendiri, jika nanti saya membutuhkan nya saya akan menghubungi kamu” balas Zahran dengan senyumannya.
Gibran sangat bersyukur Raja bisa di rawat oleh Zahran walaupun Raja adalah anak tiri Zahran tap Zahran memperlakukan Raja dengan sangat baik.
*
*
Sore hari Ica baru pulang ke rumahnya, dia membeli sebuah rumah minimalis , di rumah itu Ica tinggal hanya berdua dengan seorang ART yang di kirimkan kedua orang tuanya, Bi Ratih namanya.
“Sore non” sapa Bi Ratih
“Sore juga bi" balas Ica.
“Mau makan malam dengan apa non ?? biar bibi buatkan”
“Apa aja bi" balas Ica tersenyum “Kalau begitu Ica mandi dulu ya Bi” kemudian Ica memasuki kamarnya.
Bi Ratih pun menyiapkan makan malam, dia segera memasak di dapur.
Malam hari setelah melaksanakan sholat mahgrib, Ica turun untuk makan malam.
“Ayo bi kita makan bersama" ajak Ica kemudian.
“Tidak apa-apa non, Bibi makan di dapur saja” jawab bi Ratih tak enak hati.
“Jangan menolak Bi !! atau Ica gak mau makan” ancam nya. Dan dengan segera bi Ratih langsung duduk di samping Ica.
Ica tersenyum karena bi Ratih menuruti keinginan nya.
*
*
Sementara di waktu yang sama Gibran baru pulang dari masjid bersama anak nya, malam itu Raja akan menginap bersama Gibran.
“Nak udah ngantuk belum ??” tanya Gibran dengan sangat lembut.
“Belum Ayah, Raja mau cerita sama Ayah dulu” jawab Raja dengan polosnya.
“Emangnya anak Ayah ini mau cerita apa sih ??”
__ADS_1
“Apa aja ayah”
Gibran menarik tubuh Raja untuk duduk di pangkuan nya, saat ini mereka sedang berada di dalam kamar Gibran, dengan penuh kasih sayang Gibran menciumi kepala sang anak, dia bahagia sekarang karena sudah berkumpul dengan Raja, karena selama ini mereka hanya di pertemukan lewat sambungan telefon.
“Raja sayang sama Ayah, sama Baba juga” kata Raja dengan senyuman.
Sejenak Gibran berpikir, dia ingin mengetes Raja, hingga dia menanyakan kepada sang anak, lebih sayang mana sama Ayah atau sama Baba..
“Ayah boleh tanya gak sama Raja ??" tanya Gibran.
“Boleh dong” jawab Raja menatap sang Ayah.
“Tapi jawab jujur ya !!”
“Ok Ayah”..
“Raja lebih sayang mana ?? Ayah atau Baba Zahran ??” tanya Gibran langsung, entah kenapa dia sangat gugup dengan jawaban sang anak.
“Raja sayang dua-duanya, Ayah sama Baba adalah pahlawan Raja, Raja sayang banget sama Ayah tapi Raja juga sangat menyayangi Baba, Baba itu baik banget sama Raja, dia tidak pernah marah sama Raja, apapun yang Raja minta pasti di turutin sama Baba, setiap malam Baba akan menceritakan tentang perjalanan para Nabi, dan Baba juga selalu berpesan untuk menyayangi Ayah, karena Ayah adalah ayah kandung Raja”
Gibran terdiam, benarkan anak seusia Raja sudah mengerti rasanya menyayangi ?? usia Raja baru saja 5 tahun lebih, tapi Raja sudah memiliki pemikiran seperti orang dewasa, Gibran benar-benar malu karena telah menanyakan semua itu.
“Maafkan Ayah jika selama ini Ayah tidak bisa selalu ada buat Raja” ucap Gibran dengan mata memerah.
“Iya Ayah, Raja sayang Ayah pokonya”
“Cup” Raja mencium pipi Gibran.
“Sekarang kita tidur” ucap Gibran.
“Iya Ayah, nanti kalau Ayah mau sholat tahajud jangan lupa bangunin Raja ya !!”
“Iya sayang”
Raja segera membaca doa sebelum tidur, Gibran sangat bangga kepada sang anak, karena Raja sudah banyak hapal doa-doa pendek, dan bahkan gerakan sholat saja dia sudah tidak pernah salah lagi.
“Terima kasih mas Zahran karena sudah mendidik putraku dengan sangat baik”. batin Gibran.
*
*
Sementara di dalam kamar lain, Zenia sedang bersandar di dada suaminya.
“By” panggil Zenia.
“Iya sayang” jawab Zahran dengan lembut.
“Kita beneran mau pindah lagi ke indonesia ?”
“Iya sayang, emang kenapa ?? sayang tidak setuju ??”..
__ADS_1
“Bukan begitu by, Nia sih setuju aja, tapi Nia kasihan sama Byby karena harus bolak-balik untuk mengurus surat pindah lagi”
“Tidak mengapa, Byby ikhlas melakukan semuanya”
Zenia semakin mengeratkan pelukan nya,.Entah dengan cara apa lagi dia harus mengungkapkan rasa syukurnya karena memiliki suami seperti Zahran.
“Sayang jangan kencang-kencang, byby gak bisa nafas” ucap Zahran.
“Hehe, maaf by” jawab Zenia terkekeh.
“Sayang” panggil Zahran dengan lembut.
“Iya by”
“Boleh tidak ??" tanya Zahran, dan Zenia sudah tau dengan pertanyaan suaminya, yang tak lain adalah meminta hak nya.
Zenia tersenyum sambil memandang wajah suaminya “Boleh By” jawab Zenia...
Dengan sangat bahagia Zahran mencium kening sang istri.
“Tapi pelan-pelan ya by !! kasihan dedek yang di dalem” pinta Zenia dengan lembut
“Insya Allah sayang, tapi kalau kerasa sakit sayang ngomong ya !!”
“Iya by”
Zahran pun mulai membuka satu persatu pakaian sang istri, setelah mereka sama-sama polos, Zahran langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, Zahran tidak pernah melakukan nya tanpa penutup satupun.
“Dari ‘Atabah bin Abdi As-Sulami bahwa apabila kalian mendatangi istrinya (berjima’), maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang seperti dua ekor himar.” (HR Ibnu Majah).
Maksudnya adalah jangan bertelanjang seperti hewan yang kelihatan *********** saat berhubungan. Tapi pakailah selimut sebagai penutup, atau bertelanjang dalam selimut.
“Byby mulai ya !! ingat kalau sakit katakan” pesan Zahran.
“Iya By”
Malam itu mereka melakukan nya dengan sangat nikmat, Zenia selalu merasa terbang ke awan karena perlakukan Zahran selalu membuat nya hilang kendali, Di sela-sela mereka bercinta Zahran akan selalu bertanya “Sakit apa Tidak ??” Karena Zahran ingat kalau saat ini istrinya tengah mengandung, walaupun kandungan Zenia di katakan baik-baik saja, tapi Zahran selalu memperhatikan nya.
Setelah mereka mencapai puncaknya, Zahran memeluk sang istri “Terima kasih sayang!!" ucap Zahran dengan lembut, sembari mencium kening Zenia.
Zenia hanya membalas dengan senyuman.
“Byby angkat ke kamar mandi ya untuk bersih-bersih”
“Iya sayang, terima kasih”
*
*
***Ini kan hari senin jadi kalian yang mempunyai poin banyak boleh lah Vote novel ini..
__ADS_1
Maaf kalau kata-kata di atas amburadul soalnya author gak jago si buat bikin cerita yang seperti itu***.