
Setelah makan siang dan sholat Dzuhur Gibran segera berpamitan kepada Fahri dan Zaidan untuk menghadiri acara yang di beritahukan oleh Fahri.
“Aku berangkat dulu ya Fah, dek Zaidan” pamit Gibran.
“Iya Gib, hati-hati di jalan !!” jawab Fahri.
“Iya Kak Gibran, hati-hati” sahut Zaidan.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Gibran pun melangkahkan kakinya meninggalkan Fahri dan Zaidan..
Sesaat kemudian Gibran sudah sampai di tempat yang Fahri katakan, Gibran keluar dari mobilnya dan memandangi sebuah toko yang sedikit ramai, di depan sana ada nama “Butik Ica”. Sejenak Gibran berpikir apa itu Ica yang waktu itu berkenalan dengan nya yah ??
“Ah mungkin bukan, kan namanya Ica pasaran” batin Gibran.
Kemudian dia melangkahkan kaki nya untuk masuk kesana, di depan butik itu Gibran bertemu dengan Nisa.
“Maaf cari siapa ya ??” tanya Nisa saat Gibran sudah berdiri di depan nya.
“Perkenalkan saya Gibran, saya yang di tugaskan Ustadz Fahri untuk kesini, dia tidak bisa datang karena ingin mengantarkan istrinya ke rumah sakit” jelas Gibran.
Nisa tampak sedikit kecewa, pasalnya dia sangat mengidolakan sosok Fahri, tapi dia juga tidak bisa memaksa dia hanya orang lain buat Fahri dan bukan lah orang terpenting, bahkan Fahri saja belum tentu mengenalnya.
“Silahkan masuk pak !! saya antar ke bos saya yang memiliki butik ini” Nisa pun mempersilahkan Gibran masuk dengan sopan.
“Baiklah, silahkan duluan !! saya akan berjalan di belakang mu” ujar Gibran.
Nisa pun mengangguk, dia berjalan duluan di susul oleh Gibran di belakangnya.
Setelah sampai di dalam Nisa langsung memperkenalkan Gibran kepada Ica, tapi saat itu Ica sedang berdiri membelakanginya sehingga dia tidak tau kalau ada Gibran disana.
“Permisi Bu, saya mau mengatakan kalau Ustadz nya sudah datang" Ucap Nisa kemudian.
Ica langsung menoleh dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok Gibran disana, dan apa kata Nisa tadi Gibran Ustadz ?? Ica seakan tidak percaya akan hal itu.
“Kamu ??” ucap Ica.
Gibran tersenyum simpul, dia tidak tau kalau ternyata butik ini adalah punya Ica yang dia kenal.
Entah kebetulan atau memang ini semua sudah di atur oleh yang maha kuasa, Gibran pun tidak tau akan hal itu.
“Kita beneran jodoh nona Ica, kita bertemu lagi sekarang” ucap Gibran hingga membuat Nisa melongo.
“Ibu kenal sama Ustadz ini ??" tanya Nisa kepada sang atasan.
“I___Iya, ya sudah kamu tolong bantuin yang lain”pinta Ica gugup.
Setelah Nisa pergi, Ica langsung mengajukan pertanyaan kenapa Gibran bisa ada disana.
__ADS_1
“Anda ngikutin saya ?? kok bisa anda disini ??" tanya Ica.
“Ngapain saya ngikutin kamu ?? bukan nya karyawan kamu sendiri yang mengundang saya kesini ??” Gibran malah balik bertanya.
“Apa benar kamu seorang Ustadz ??”
“Bukan, saya hanya di utus Ustadz Fahri untuk mewakilinya kesini”
“Oh baiklah, silahkan duduk dulu ! acaranya sebentar lagi di mulai”
“Baiklah” .
Saat Ica akan beranjak meninggalkan Gibran, dengan segera Gibran memegangi pergelangan tangan Ica, jantung Ica berdegup sangat kencang, ada rasa yang sulit untuk di jelaskan.
“Lepaskan Tuan !! anda telah membatalkan Wudhu saya lagi” ucap Ica tak mau menatap wajah Gibran.
Dengan segera Gibran melepaskan tangan Ica.
“Maaf !! saya tidak sengaja” ucap Gibran merasa bersalah.
“Iya” jawab Ica singkat.
“Sesuai dengan janji saya, jika kita bertemu lagi maka saya akan menikahi kamu” ucap Gibran langsung, membuat Ica terdiam, Ica tak habis pikir kalau Gibran masih mengingat kata-kata nya.
“Anda mau menerima saya menjadi suami kamu kan ??” tanya Gibran lagi.
“Tapi kita ini tidak saling mengenal, bertemu pun baru 3 kali ini”
Belum Ica menjawab, Mama nya mendekat, dia langsung menatap Ica dan Gibran bergantian.
Siapa laki-laki yang saat ini berdiri di depan putrinya ?? pikir mama Ica.
Dengan segera Gibran menyalami tangan wanita paruh baya yang terus memperhatikan nya.
“Kamu siapa Nak ??” tanya Mama Ica.
“Saya Gibran bu, calon Suami nya Ica” jawab Gibran dengan lembut hingga membuat Mama nya Ica menatap wajah Gibran dengan lekat, sedangkan Ica terperanjat kaget mendengar Gibran berkenalan dengan mama nya sebagai calon mantu.
”Benarkah ?? kamu calon suami Ica ?? saya mama nya Ica” ucap wanita itu dengan sangat senang.
“Iya Bu” jawab Gibran.
“Bukan Ma, dia hanya mengada-ngada” sahut Ica yang langsung di tatap oleh Gibran.
“Kamu jangan malu-malu sayang !! mama senang banget dengar kamu akan segera menikah”
“Tapi Ma ----”
“Sudah-sudah, lebih baik kalian ngobrol lagi, mama mau melihat pesanan makanan apa sudah datang”
Sang Mama pun langsung meninggalkan Gibran dan Ica, setelah Mama nya sudah tidak ada disana, dengan segera Ica menatap tajam ke arah Gibran.
__ADS_1
“Maksud kamu apa ?? bicara seperti itu sama mama ku ??” tanya Ica.
“Lebih baik kita bicara di tempat lain !!” ajak Gibran karena tidak mau menjadi pusat perhatian disana.
“Baiklah, kita bicara di luar”
Ica melangkahkan kakinya duluan di ikuti oleh Gibran di belakang nya, mereka mengobrol di luar butik itu.
“Saya hanya ingin menepati janji saya” ucap Gibran langsung.
“Kalau niat kamu hanya seperti itu, maka lupakan saja janji itu, saya juga tidak mempermasalahkan dengan ucapan kamu waktu itu" jawab Ica.
“Tapi saya akan tetap menepati janji saya, jadi saya akan tetap melamar kamu”
“Kalau saya menolak ??”
“Aku butuh alasan kenapa kamu menolak”
Ica terdiam, apa harus dia mengatakan semuanya kepada Gibran, Ica hanya merasa tidak pantas bersanding dengan Gibran.
“Saya bukan wanita yang sempurna” ucap Ica langsung, iya dia harus mengatakan semuanya.
“Saya juga bukan laki-laki sempurna” balas Gibran.
“Saya bukan wanita yang suci lagi, saya sudah ternoda”
“Maksudnya ??" tanya Gibran bingung dengan arah pembicaraan Ica.
“Saya bukan seorang gadis lagi, tidak perlu di jelaskan kamu pasti akan tau kemana arah pembicaraan ku”
Gibran terdiam memandangi Ica.
“Apa kamu sudah pernah menikah ??”
Ica menggeleng “Belum, saya memiliki masalalu yang pahit sehingga saya menjadi wanita yang kotor” jawab Ica.
“Saya akan tetap menerima kamu menjadi istri saya, apapun masalalu kamu itu bukan menjadi masalah buat saya, karena saya pun bukan lah laki-laki yang sempurna, apakah kamu mau menerima saya ??” kali ini Gibran yang mengajukan pertanyaan kepada Ica apakah Ica mau menerima Gibran yang berstatus duda anak satu.
“Maksudnya ??”
“Aku adalah seorang duda, aku sudah pernah menikah dua kali, aku juga memiliki seorang putra, tapi dia ikut mantan istri saya, dia adalah anak bersama mantan istri saya yang pertama” jelas Gibran lagi.
“Terus mantan istri kedua kamu kemana??”
“Dia sudah meninggal 2 tahun yang lalu" ucap Gibran lirih, masih terasa sakitnya saat dia mengingat nama Zara.
Ica kembali berpikir, walaupun masalalu nya dengan Gibran berbeda tapi masih memiliki kesamaan yaitu sama-sama menyakitkan.
“Bagaimana apa kamu mau menerima aku sebagai suami kamu ??" kembali Gibran mengajukan pertanyaan.
Dengan ragu Ica mengangguk membuat Gibran tersenyum “Saya mau”
__ADS_1
“Alhamdulillah, baik saya akan datang malam minggu nanti, untuk melamar kamu”