Suamiku Menjadi Adik Iparku

Suamiku Menjadi Adik Iparku
S2-Part07


__ADS_3

Gibran terbaring santai di atas dipan. Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih, Ada cahaya yang menerangi di sana, cahaya dari lampu yang menerangi di sana.


Malam itu terasa lebih dingin dari malam sebelum nya, dingin menembus kulit menusuk tulang, suara orkestra hewan hampir menembus teras rumah, semilir angin yang tak bisa di hentikan, seperti tengah nyaman singgah di malam hari menemani pohon-pohon, mungkin karena sehabis hujan, walaupun sebentar tapi sangat deras.


Tangan nya menengadah, bergerak menutupi seluruh wajah, dengan helaan nafas panjang, Gibran mencari ketenangan “Astaghfirullah ” ucap nya lirih.


Gibran masih bingung dengan keputusan nya, padahal dia sendiri yang meminta Abi Kyai untuk mencarikan nya seorang istri, tapi saat Abi sudah menemukan Gibran mala di buat kebingungan.


Gibran hanya takut mengecewakan istrinya kelak, Gibran takut kesalahan nya di masa lalu terulang kembali, Gibran takut kalau nantinya dia akan kembali menyakiti istrinya.


Malam semakin larut, hawa dingin semakin menusuk tulang, tapi mata Gibran belum juga terpejam, esok adalah hari dimana dia akan memberikan jawaban nya kepada Abi kyai.


Gibran melirik jam dinding yang menggantung di dinding kamarnya, waktu menunjukan pukul 01 dini hari, akhirnya Gibran memutuskan untuk sholat malam, meminta petunjuk kepada sang Kholiq.


Gibran beranjak dari tempat tidurnya, kemudian melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, setelah selesai Gibran membentangkan sajadah nya untuk menunaikan sholat istikharah.


sholat Istikharah hukumnya adalah sunnah dan sangat dianjurkan, pada semua urusan atau perkara yang mempunyai beberapa pilihan. Hal ini berdasarkan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW, dalam riwayat Jabir Ibn Abdillah ra. Bahwa Rasulullah Saw. bersabda:


اذا هم أحد كم بالأمر فليركع ركعتين ثم ليقل: أللهم... (رواه البخاري)


Artinya: Jika di antara kalian hendak melakukan perkara/urusan, maka rukuklah (sholatlah) dua rakaat, kemudian berdoa...(HR. Bukhori)


Setelah melaksanakan sholat dua rakaat tersebut, Gibran menengadah kan tangan nya untuk berdoa kepada yang maha kuasa, agar di beri petunjuk.


اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْفَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَعَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّىحَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاقْدُرْهُلِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَشَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاصْرِفْهُ عَنِّيْوَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ


artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu, dengan ilmu pengetahuanMu, dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan keMaha KuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya, dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku sukseskanlah untuk ku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untuk ku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku."


Gibran benar-benar khusuk dalam menjalan kan sholat dua rakaatnya begitupun dengan berdoa, setelah melaksanakan sholat tersebut, Gibran beranjak dari tempatnya, melipat sajadahnya dan melepaskan pecinya, setelah selesai Gibran menuju tempat tidur, matanya terasa berat, mungkin karena dia belum tidur sama sekali.


Hingga akhirnya Gibran terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya, Gibran terbangun dari tidurnya setelah telinganya mendengar suara Adzan subuh yang berkumandang, Gibran pun bangun kemudian membaca doa bangun tidur.


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ


Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur


Artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.


“Karena ketiduran aku sampai lupa tidak mengerjakan sholat tahajud, ampuni hamba ya Allah !” desah Gibran.


“Eh tunggu tadi aku mimpi apa ya ?? kenapa aku bermimpi bertemu seorang perempuan dan siapa perempuan itu ??” tanya Gibran pada diri sendiri, dia berpikir sejenak tentang arti mimpi itu, di dalam mimpi itu dia bertemu dengan seorang perempuan yang memakai cadar, dan Gibran yakin kalau perempuan itu bukan lah Lila seorang perempuan yang Abi tunjukan fotonya.


Walaupun Gibran belum pernah bertemu dengan Lila tapi Gibran sudah melihat nya di dalam Foto, dan Lila juga tidak memakai cadar, lalu siapa perempuan yang hadir dalam mimpi Gibran ??


Gibran bangkit dari tempat tidurnya, kemudian dia melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu hendak melaksanakan sholat subuh, Gibran ingin segera menemui Abi dan menceritakan semuanya.


tepat Jam 07 pagi Gibran sudah berada di rumah utama ponpes.


“Walaikumussalam” jawab seorang wanita yang ternyata itu adalah Elia istri nya Zaidan.


“Eh Kak Gibran, mari masuk kak !!” ucap Elia ramah.


“Terima kasih dek Elia" balas Gibran yang tak kalah ramah.


“Abi ada dek ??” tanya Gibran lagi saat sudah berada di ruang tamu.


“Ada kok, bentar ya Elia panggil dulu" jawab Elia kemudian berlalu untuk memanggil Abi kyai.


Tok---Tok----Tok Elia mengetok pintu kamar tersebut, “Maaf Abi, di luar ada Kak Gibran, hendak bertemu dengan Abi” ucap Elia dari luar kamar...

__ADS_1


Ceklek pintu kamar terbuka, tengah berdiri sosok Umi dengan tersenyum “Bilang tunggu sebentar ya !! Abi sedang di kamar mandi” ucap Umi.


“Iya Umi nanti Elia sampaikan”


“Terima kasih Nak”


“Sama-sama Umi”


Elia berlalu dan pergi menemui Gibran lagi, ternyata di sudah ada Zaidan yang menemani Gibran mengobrol.


“Loh Pipi (Panggilan Elia ke Zaidan) sudah pulang ??” tanya Elia menatap sang suami, kemudian menyalami tangan suaminya.


“Iya Mimi (Panggilan Zaidan ke Elia) barusan aja” jawab Zaidan.


“Oh” balas Elia lagi, kemudian beralih ke Gibran ” kak tunggu sebentar ya, Abi sedang di kamar mandi” ucap Elia.


“Iya dek, terima kasih” jawab Gibran.


Elia tersenyum kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan Zaidan dan Gibran minuman...


Gibran sangat kagum kepada Zaidan, walaupun dia menikah karena di jodohkan tapi Zaidan selalu memperlakukan Elia dengan baik, memberikan seluruh perhatian nya kepada Elia.


“Kakak salut sama kamu dek, walaupun kamu dan Elia di jodohkan tapi kamu selalu memberikan perhatian kepada Elia” puji Gibran.


“Kak Gibran bisa aja, Zaidan hanya menjalankan kewajiban Zaidan sebagai seorang suami” balas Zaidan sembari memberikan senyum manisnya.


“Terus istrimu sudah hamil dek ?? ini kan sudah 1 tahun lebih, apa kalian memang sengaja menunda untuk memiliki momongan ??” tanya Gibran.


“Iya Kak Gibran, kami memang sengaja menundanya, karena kami ingin memiliki waktu berdua lebih banyak lagi hehe”


*******

__ADS_1


**LIKE


KOMEN**


__ADS_2