Suamiku Menjadi Adik Iparku

Suamiku Menjadi Adik Iparku
S2-Part34


__ADS_3

Seperti biasa, hari begitu cerah. Awan dengan senangnya berlarian kesana kemari. Langit biru dan matahari, terlihat serasi dengan wajah cerianya. Kicauan burung berdendang ria di telinga para manusia. Hembusan udara segar menelisik ke dalam rongga jiwa.


“Zee” Panggil Maya dari luar kamar.


Entah berapa kali wanita itu memanggil-manggil Zea, namun tak ada jawaban, karena penasaran Maya pun langsung masuk saja.


“Zee Mama masuk ya !!” ucap nya sembari mendorong pintu kamar Zea dari luar.


Maya masuk ke kamar Zea. Saat pintu kamar terbuka, terlihat sesosok tubuh berbalut jubah putih sedang duduk tawaruk, meniti gerak demi gerak untuk menuntaskan shalat dhuhanya. Ya memang, Zea adalah seorang akhwat yang taat, umi Fadillah selalu mengajarkan padanya poin demi poin untuk mendapat ridho-Nya. Wanita itu tersenyum kala mendapati anaknya sedang melakukan shalat.


Akhirnya Maya kembali keluar kamar Zea, tak lupa dia kembali menutup pintu kamar tersebut, Maya melangkah ke ruang tengah dan menyalakan Televisi untuk mencari tontonan yang enak, sembari menunggu Zea selesai sholat.


Beberapa menit kemudian Zea selesai melaksanakan ritualnya. Berdo’a sebentar lalu melepas jubahnya, dan melipatnya dengan rapi.


Kemudian dia merapihkan pakaian nya dan hijab nya, setelah selesai Zea keluar dari kamar untuk menghampiri Mama nya.


“Ma, ada apa ya ?? Maaf tadi sedang sholat” ucap Zea setelah duduk di samping Maya.


Maya tersenyum “Tidak apa-apa Nak, Mama hanya ingin ngobrol saja sama kamu” jawab sang Mama.


“Oh iya Ma, Zee boleh tanya gak ??” tanya Zea.


“Boleh, mau tanya apa sayang ??”


“Hemm, anu ma, itu anak Kak Nia yang pertama apa beda Ayah ya Ma" tanya Zea ragu, sebetulnya dia sudah lama ingin menanyakan itu semua, tapi takut kalau Maya marah.


Maya tampak menghela nafas pelan, sejujurnya dia juga sangat malas untuk membahas masalah itu, kenangan menyakitkan sang anak masih sangat membekas di hatinya, bagaimana Maya mendapati Zenia sudah tergeletak di dalam kamar mandi yang sudah bersimbah dara.


Melihat Maya terdiam, Zea kemudian kembali bicara.


“Ma kalau mama tidak mau menjawab juga gak papa kok ma, Zee hanya bertanya” ujar Zea.


“Iya sayang Kakak kamu menikah 2 kali, Raja anak nya bersama Gibran, tapi 3 tahun pernikahan mereka Gibran mengkhianati Nia” Maya menjedah kata-kata nya.


“Kakak kamu sangat depresi, perasaan nya hancur hingga sudah berapa kali Kakak kamu mencoba untuk bunuh diri, Nia tidak terima dengan perlakukan Gibran, yang membuat Nia sangat sakit Gibran mengkhianati Nia dengan adik nya sendiri yaitu Zara” jelas Maya, air matanya mulai mengalir kala mengingat kenangan buruk itu, sebagai seorang ibu Maya juga merasakan rasa sakit sang anak.


“Astaghfirullah” ucap Zea terkejut, dia dapat membayangkan betapa sakit dan hancurnya perasaan sang Kakak.


“Tapi beruntungnya Kakak kamu bertemu dengan Zahran, dia yang mengubah semuanya, menjadikan kakak mu wanita yang kuat, Mama sangat bersyukur Nia dapat bertemu dengan Zahran, apalagi Zahran menerima Raja seperti anak nya sendiri”

__ADS_1


Zea tampak mengangguk-anggukan kepalanya, akhirnya rasa penasaran nya terjawab sudah.


Maya menyeka air mata nya kemudian melihat ke arah Zea “Sekarang giliran mama yang bertanya” ucap Maya tersenyum.


“Mama mau nanya apa emang nya ??” tanya Zea


“Kapan Fauzan melamar kamu ?? mama sama papa sudah siap punya mantu lagi”


“Mama apaain sih ?? kok nanya gituan ??" ucap Zea malu-malu.


“Mama udah dengar ceritanya dari Umi, katanya kamu sama Fauzan sudah sangat lama Ta'aruf, bahkan Fauzan sudah pernah melamar kamu, tapi kamu menolak karena ingin yang menikahkan kamu adalah ayah kandung kamu, sekarang kan kamu sudah ketemu sama Papa dan Mama jadi tidak apa-apa kalau Fauzan mau melamar kamu lagi” jelas Maya tersenyum.


“Nanti Zee bahas lagi sama mas Fauzan Ma” jawab Zea, sejujurnya dia sudah sangat ingin di lamar kembali oleh Fauzan.


“Tapi ingat kalau kalian sudah menikah ajaka Fauzan tinggal disini !! soalnya mama gak mau rumah ini sepi lagi” pinta Maya.


“Iya ma”


*


*


Saat itu Ica sedang memilih beberapa orang untuk menjadi karyawan nya di butik, ada sekitar 6 orang yang masuk kriteria Ica.


“Baiklah, saya akan mengumumkan siapa saja yang akan menjadi karyawan saya disini” ucap Ica dengan tegas.


Ke 6 wanita itu sangat gugup, mereka berdoa di dalam hati masing-masing semoga dirinyalah yang di terima.


“Nama yang saya sebutkan itu yang saya pilih, Ayu, Nisa, dan Chika” kata Ica lagi.


Bagi namanya yang di sebut, tampak sangat bahagia, sedangkan mereka yang tidak, sedang kecewa dan bersedih, hingga ketiga wanita yang tidak terpilih menjadi karyawan Ica pamit untuk pulang.


Tinggalah Ica dan ketiga karyawan nya, Ica dengan segera menyampaikan peraturan saat bekerja dengan nya, semuanya mendengarkan dengan seksama.


“Apa ini butik baru ya Bu ??” tanya Nisa karyawan Ica.


“Iya kamu benar, jadi kita bekerja sama untuk membuat butik ini jadi ramai pengunjung”


“Baik bu kita bertiga akan bekerja semaksimal mungkin”

__ADS_1


“Terima kasih" kemudian Ica melirik jam tangan nya, waktu sudah menunjukan pukul 12 siang.


“Saya mau makan siang dulu sekalian sholat Dzuhur, kalian semua jangan lupa sholat ya !!" ucap Ica.


“Baik bu”


Setelah mengucapkan salam Ica langsung pamit untuk mencari restoran untuk makan siang nya, kebetulan sekali tidak jauh dari butik nya ada restoran yang tampak sangat ramai pengunjung.


Tidak perlu memakai mobil, Ica berjalan ke sana, perutnya sudah sangat lapar mungkin karena di rumah dia hanya memakan roti saja.


Saat akan memasuki restoran itu.


Bruuukk..


Tiba-tiba ada menabrak dirinya, hingga membuat Ica hampir terjatuh, beruntungnya orang itu langsung menarik tangan nya, sejenak mata mereka saling pandang, hingga akhirnya.


“Kamu” ucap Ica dan dengan segera dia langsung melepaskan tangan Gibran dari tubuhnya.


“Maaf saya tidak sengaja”


“Selalu itu yang kamu ucapkan, waktu itu kamu menyenggol mobil saya dan sekarang malah menabrak saya, besok nya apalagi ??" ucap Ica kesal.


“Maaf saya benar-benar tidak sengaja” ucap Gibran.


Gibran merutuki kebodohan nya, ini akibatnya jika saat sedang berjalan tapi mata fokus ke handphone, makanya tidak tau ada orang di depan nya atau tidak.


“Mudah-mudahan ini pertemuan kita yang terkahir” kata Ica langsung.


“Jangan begitu Nona, jangan bicara seperti itu, bagaimana kalau kita berjodoh” ucap Gibran dengan senyumannya.


“Hiss, siapa juga yang mau berjodoh dengan mu, yang ada saya akan selalu sial” balas Ica dengan sinis.


Gibran hanya tersenyum, entah kenapa dia seperti mengingat pertemuan nya dengan Zenia pertama kali, sama persis dengan Ica yang cuek dan jutek.


“Kenapa anda tersenyum ?? apa ada yang lucu dengan saya ??” tanya Ica sambil memperbaiki Hijab nya serta cadarnya.


“Oh tidak, hanya saja saya ingin mengatakan kalau kamu cantik, dengan aurat tertutup seperti ini”


Ica benar-benar geram dengan Gibran baru 2 kali bertemu Gibran langsung berkata gombal seperti itu.

__ADS_1


“Saya permisi, tapi ingat jika kita bertemu sekali lagi berarti kita jodoh, dan saya akan langsung menikahi kamu, Assalamualaikum” Gibran pun langsung pergi dari hadapan Ica.


“Apa-apaan dia, semoga saja tidak bertemu lagi” ucap Ica kesal, tapi dia tetap menjawab salam Gibran..kemudian dia langsung masuk kedalam restoran itu untuk makan siang, pertemuan nya dengan Gibran membuat makan siangnya tertunda, dan Ica kesal akan hal itu.


__ADS_2