
Keesokan paginya seperti biasa Ica akan bersiap untuk berangkat ke tokonya, dengan berpakaian yang rapih dia melangkahkan kakinya untuk keluar rumah.
“Ica berangkat ya Bi” pamit nya pada seseorang ART yang bekerja disana.
“Iya non, hati-hati di jalan” jawab Bi Ratih.
Ucapan salam lolos dari bibir mungil Ica dan langsung di jawab oleh Bi Ratih.
Ica melangkahkan kaki nya menuju mobilnya yang biasa dia pakai, dia langsung duduk di bangku kemudi untuk segera berangkat ke butik.
Di dalam mobil Ica menyetel lagu sholawat, membuat pikiran nya selalu tenang, benar kata sang Ibu jika dia ikhlas dan mau menerima semua takdir nya, hidupnya akan aman, bukan malah mencari kebahagiaan dengan jalan yang salah.
Kembali dia mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat dia masih mengejar Zahran untuk menerima dirinya, entah setan apa yang merasuki nya hingga mempunyai pemikiran seperti itu.
Gumaman-gumaman kecil keluar dari mulut nya mengikuti lagu yang saat ini dia setel, hingga tak terasa dirinya sudah sampai di depan sebuah ruko yang dia sewa beberapa minggu yang lalu, di depan sana sudah menunggu ketiga karyawan nya yang dia pilih kemaren, Ica keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri mereka.
“Assalamualaikum” sapa nya dengan ramah.
“Waalaikumsalam” jawab ketiga karyawan nya serempak.
“Maaf saya sedikit telat” ucap Ica lagi, kemudian segera mengambil kunci di dalam tas kecilnya untuk segera membuka ruko itu.
Setelah terbuka mereka semua masuk.
“Jam berapa Bu acara peresmian nya ??” tanya sala-satu karyawan nya yang bernama Nisa.
“Abis Dzuhur, pagi ini kita bersih-bersih dulu” jawab Ica.
“Apa Ibu juga mengundang Pak Ustadz untuk memimpin doa ??” kembali Nisa bertanya sedangkan dua teman nya hanya mendengarkan saja.
Sejenak Ica berpikir apa perlu memanggil seorang Ustadz ?? saat acara peresmian butik barunya nanti ??.
“Aku gak ngundang Sih, aku hanya mengundang beberapa teman ku dan kedua orang tuaku, mereka lagi dalam perjalanan kesini” jawab Ica
“Undang aja Bu, buat mimpin doa, kan biar Butik Ibu mendapatkan ridho dari Allah”
__ADS_1
“Baiklah, tapi saya minta tolong kamu yang cari ya, saya kan baru disini jadi saya belum terlalu hapal dengan ustadz-ustadz di sini”
Perempuan yang bernama Nisa pun langsung menyetujui keinginan bos nya, dengan segera dia mencari salah-satu kontak seorang ustadz yang selama ini dia kenal.
Nisa menjauhkan dirinya untuk berbicara dengan orang itu.
Tut Tut Tut.
Dua kali panggilan belum juga terjawab, tapi Nisa tak menyerah, dia pun menghubungi orang itu lagi, dan akhirnya panggilan nya terhubung.
“Yes !! Alhamdulillah, di jawab juga akhirnya" ucapnya girang.
“Halo Assalamualaikum, ini dengan siapa ya ??” ucap seseorang di seberang sana.
“Waalaikumsalam Ustadz Fahri, maaf mengganggu waktunya, tapi saya mau minta tolong bisa tidak Ustadz ??” tanya Nisa ada rasa gugup di hatinya saat berbicara dengan orang itu Nisa sangat mengagumi sosok Fahri yang lemah lembut dalam berbicara, walaupun dia tau kalau Fahri sudah menikah.
“Minta tolong apa ya ??” tanya Fahri lagi.
“Begini Ustadz bos saya kan baru membuka Butik dia ingin membuat pengajian nanti selepas Dzuhur apa Ustadz bisa datang ??” harap-harap cemas Nisa berkata, dia takut kalau Fahri tidak bisa datang.
“Dimana ?? kalau saya tidak sibuk saya akan datang". jawab Fahri lagi.
“Ah udah gak sabar bertemu dengan Ustadz tampan” ucapnya girang. Jika yang lain mengidolakan Zaidan dan Zahran berbeda dengan Nisa dia lebih tertarik kepada Fahri, tapi disini dia hanya sebatas mengagumi ya, para riader jangan berpikir macam-macam !!!
Setelah selesai melaksanakan tugasnya Nisa kembali kedalam untuk mengatakan kepada Ica kalau dia sudah mengundang sala satu Ustadz untuk mendoakan butik barunya.
*
*
Sementara di kantor, Fahri tengah di sibukkan dengan pekerjaan nya, kemudian dia kembali mengingat permintaan wanita yang baru saja menelfon nya, walau Fahri tidak mengenalnya tapi dia tidak enak kalau tidak menepati janjinya.
“Bagaimana aku bisa datang ? sedangkan pekerjaan ku banyak sekali" kata Fahri pelan.
“Oh iya Gibran, mending Gibran saja yang kesana !! mudah-mudahan dia tidak terlalu sibuk seperti aku” ucap nya lagi, dengan segera dia melangkahkan kakinya menuju ruangan Gibran.
__ADS_1
Tok Tok Tok.
Fahri mengetok pintu ruangan Gibran, setelah mendengar suara Gibran yang mengizinkan dia masuk, Fahri pun segera membuka pintu tersebut.
“Permisi Gib, maaf mengganggu” ucap Fahri.
“Pak Fahri, silahkan duduk pak, tidak apa-apa, memangnya ada apa ya pak ??” tanya Gibran sambil mempersilahkan Fahri sang atasan duduk, di kantor itu jabatan Gibran yang paling bawah di antara Fahri dan Zaidan, tapi Gibran tak pernah berkecil hati, bisa bekerja di perusahaan terkenal itu sangat membuat nya bahagia, Zaidan dan Fahri juga tak pernah mempermasalahkan masalah jabatan, karena Abi selalu berpesan kalau semua itu adalah titipan yang maha kuasa.
Fahri pun segera duduk di hadapan Gibran “Begini Gib, saya boleh minta tolong gak ??” tanya Fahri menatap Gibran.
“Minta tolong apa ya Pak ?? insya Allah saya bisa”
“Tadi ada yang menghubungi saya dia meminta tolong untuk menghadiri acara pembukaan butik baru nya, mungkin seperti pengajian lah, jadi saya mau minta tolong kamu yang datang, saya tidak bisa soalnya pekerjaan saya banyak dan abis Dzuhur nanti saya harus kerumah sakit untuk mengantar Aisyah” jelas Fahri, sebenarnya dia merasa tidak enak untuk meminta tolong kepada Gibran tapi bagaimana lagi dia benar-benar tidak bisa datang.
Gibran tampak berpikir, mau menolak rasanya tidak enak, selama ini Fahri telah banyak membantunya “Baiklah, saya akan mewakili pak Fahri kesana, dimana alamatnya pak ??”
Dengan segera Fahri mengatakan alamat yang di berikan oleh sang penelfon.
“Terima kasih ya Fah !! maaf terus merepotkan kamu”
“Sama-sama pak”
Setelah itu Fahri pamit untuk kembali keruangan nya, meninggalkan Gibran sendiri.
“Semoga acara hanya berdoa biasa saja, jangan sampai ada acara tausyiah segala” batin Gibran .
(Lah itu kan hanya acara pembukaan butik baru ngapain pakai acara tausyiah segala ?? si Gibran aneh-aneh saja, lagian itu si Nisa ngapain harus mengundang Ustadz coba ??)
Detik berganti menit, jam terus berputar hingga tak terasa sudah hampir jam 12 siang, Gibran segera membereskan meja kerjanya untuk makan siang dan sholat Dzuhur, dia juga harus bersiap-siap ke tempat acara itu, Gibran pun segera keluar dari ruangan nya kemudian melangkah pergi, di depan sana sudah ada Fahri dan Zaidan yang menunggu.
*
*
...**Like dan komen....
__ADS_1
Maaf kalau gantung lagi author hari ini lagi malas nulis entahlah kenapa 😀**
ayo penasaran kan apa Gibran akan menepati janjinya untuk menikahi Ica lagi, next Episode ya, harap sabar menunggu..