
Keesokan paginya, Zahran dan Zenia sedang bersiap untuk berangkat ke jakarta, karena nanti malam Zea akan lamaran, Zenia tampak antusias untuk menghadiri acara lamaran sang adik, rasanya dia tidak ingin melewatkan hari bahagia Zea.
Saat itu Zahran sedang berbincang dengan Gibran, dia mengucapkan permohonan maaf karena tidak bisa ikut dalam acara lamaran nya, entah kenapa acara lamaran Gibran dan Zea berbarengan.
“Maaf ya Gib, saya tidak bisa ikut mengantar kamu nanti malam, soalnya barengan sama acara lamaran Zee juga”
“Iya tidak apa-apa Mas, Gibran mengerti”
Menepuk bahu Gibran, Zahran memberikan semangat sekaligus mendoakan pria yang berstatus mantan suami istrinya itu.
“Semoga kamu bahagia, dan ini pernikahan mu yang terakhir”
“Aamiin, terima kasih Mas”
Setelah sekian lama menyandang status Duda, akhirnya Gibran melabuhkan pilihan nya kepada sosok Ica, perempuan yang bertemu dengan nya baru 3 kali, tapi entah kenapa ucapan menikah lolos begitu saja di bibir nya, hanya bisa berharap dalam pernikahan nya nanti dia dapat merasakan kebahagiaan sama seperti sang mantan istri.
“Kalau begitu saya pamit ya mas !! titip Raja, maaf kalau dia selalu merepotkan mas, tadi saya udah mengajak nya untuk ikut sekaligus memperkenalkan sama calon istri saya, tapi Raja nya tidak mau”
“Iya !! mungkin belum saat nya Gib, nanti pas nikahan kamu Raja di perkenalkan, semoga saja pas nikah juga tidak barengan sama Zee"
Gibran mengangguk, kemudian setelah mengucapkan salam Gibran pergi dari kediaman Zahran, sementara Zahran setelah kepergian Gibran dia naik ke atas untuk melihat sang istri yang tengah mencoba beberapa baju untuk ia kenakan nanti malam.
Ceklek -------
Pintu kamar di dorong dari luar, tampak Zahran masuk sambil memperhatikan sang istri yang tengah berkaca.
“Sayang belum selesai juga milih bajunya ??”
Zenia hanya melirik dengan tersenyum, dia kembali memilih baju yang lain mengepaskan ke tubuhnya untuk melihat apa baju itu cocok atau tidak dengan nya.
Zahran bingung melihat istrinya terus mencoba beberapa baju, bahkan satu baju pun dia sudah coba beberapa kali, tak ingin ambil pusing Zahran membantu sang istri memilih.
“Yang ini bagus !!” ucap Zahran sambil mengambil sebuah gamis Syar'i berwarna Dusty pink.
“Baju Nia udah banyak yang warna itu" Tolak Zenia dengan baju pilihan sang suami.
“Udah deh, Byby duduk aja gak usah bantu milih” ucap nya lagi.
“Iya tapi sampai kapan kamu milih baju sayang ?? ini udah siang loh, kita kan mau berangkat ke Jakarta, Abi sama Umi pasti udah nungguin di Ponpes”
“Sebentar lagi”
Kembali memilih, dan akhirnya dia pusing sendiri, karena belum ada yang pas di hatinya, sehingga mata nya tertuju pada gamis Syar'i yang di pilihkan suaminya.
“Ah yang ini saja" ucap nya girang.
__ADS_1
Zahran menahan tawanya karena istrinya malah memilih baju yang baru saja ia pilihkan.
“Itu kan yang Byby pilih tadi sayang, Em em em bikin tambah cinta deh” Zahran membatin sambil menggelengkan kepalanya.
“Sudah ??” tanya Zahran.
“Sudah By, ayo berangkat”
“Iya, itu bajunya masukin tas dulu, mau di pakai nanti malam kan ??"
“Iya by”
Zahran membantu sang istri memasukan bajunya kedalam tas dimana perlengkapan nya dan ketiga anak nya ada disana.
“Ayo sayang, kita ke ponpes dulu"
“Ayo By”
🌹
🌹
Sedangkan di rumah Ica, tampak disana sedang sibuk dalam mempersiapkan acara lamarannya nanti malam, sang mama tampak sangat antusias dalam mempersiapkan segalanya, memesan beberapa hidangan untuk menyambut calon menantu dengan sangat baik.
Raut kebahagiaan selalu terpancar di wajah wanita paruh baya itu, bahagia ?? tentu itulah yang dia rasakan sekarang, sudah sangat lama dia menanti sang putri semata wayang nya untuk menikah.
“Tidak perlu sayang !! kamu istirahat saja di kamar”
“Tapi Ica bosan ma, dari tadi tiduran terus di kamar”
Melihat sang anak protes, dia langsung memberikan tatapan tajam, seolah mengatakan nurut saja !!
“Iya iya ma, Ica istirahat”
Seakan tau arti tatapan sang Mama, Ica kembali masuk kedalam kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan perasaan kesal.
“Mama bikin kesel aja, masa dari tadi di suruh tiduran terus” gerutunya sambil mengambil ponselnya di atas meja dekat tempat tidur.
Baru saja dia akan membuka sosial media untuk menghilangkan rasa bosan akibat tidak di suruh apa-apa oleh mama nya, tiba-tiba sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal masuk ke ponselnya.
Buru-buru dia membuka pesan tersebut dan langsung membuat nya tersenyum sendiri.
“Assalamualaikum, sedang apa calon makmum ??”
Sebuah pesan singkat yang berhasil membuat nya berbunga-bunga, dia baru ingat kemaren saat Gibran akan pamit dari butiknya tidak lupa dia meminta nomor ponsel Ica.
__ADS_1
Mengabaikan aplikasi sosial media nya, Ica malah membuka menu pesan, baginya lebih menarik berbalas pesan dengan calon suami dari pada menggeser sosial media dari atas sampai bawah yang isinya hanya itu-itu saja.
“Waalaikumsalam, lagi santai aja”
Ica pun membalas pesan dari Gibran, dan tak lupa dirinya memberikan nama dalam nomor itu sebuah nama “Calon iman” di sematkan disana.
Entah kenapa pertemuan singkat mereka sangat mengundang kebahagiaan di dalam diri mereka masing-masing. Baik Ica maupun Gibran merasakan sesuatu yang sulit untuk di jelaskan, Nyaman ?? itu salah satu yang mereka rasakan.
Inikah buah kesabaran dan keikhlasan dari mereka berdua, belajar menerima masalalu masing-masing.
*
*
*
Sementara di ponpes rombongan keluarga Zahran akan segera berangkat ke jakarta, dengan membawa dua mobil yang satu di bawah oleh Zahran dan yang satu di bawah oleh Zaidan, sementara Fahri akan ikut mengantar Gibran.
“Hati-hati di jalan ya Abi, Umi” ucap Fahri sambil menyalami tangan kedua orang tuanya.
“Iya kamu jaga rumah baik-baik, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Zahran langsung membukakan pintu untuk istri dan anak nya, Raja dan Arda duduk di bangku belakang, sementara Zenia dan Adel duduk di samping Zahran.
“Sayang kalau capek mangku Adel nanti ngomong ya !!”
“Iya By”
Segera Zahran menghidupkan mesin mobilnya dengan membaca doa sebelum berangkat, Zahran menekan gas untuk melajukan mobil mereka.
“Dada om Fahri” ucap Arda dan Raja barengan.
Fahri membalas dengan senyuman juga, setelah mobil Zahran dan Zaidan sudah tidak terlihat Fahri membawa sang istri masuk kedalam.
“Sayang mas keluar sebentar ya !! tidak apa-apa kan di tinggal sebentar ??”
“Iya mas, hati-hati di jalan”
Fahri kemudian mencium kening sang istri dan di lanjut Aisyah mencium punggung tangan suaminya.
*
*
__ADS_1
...**LIKE DAN KOMEN...
...BOLEH MINTA 🌹 KAN KALAU ADA YANG MAU NGASIH.. HEHE**...