
Pagi buta, masih terlihat gelap sunyi dan sepi, menumbuhkan rasa hawa dingin dan sejuk, menakjubkan, menanti indahnya surise. Dini hari itu Gibran, lelaki yang dua tahun lalu baru saja merasakan kehilangan seseorang, mungkin bukan hanya dua tahun lalu tapi juga sampai sekarang.
Gibran duduk bersila di atas sajadahnya, menunggu adzan subuh selesai di kumandangkan, dia mendengarkan sampai lantunan panggilan indah itu usai.
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Gibran membereskan sajadahnya, dan seperti hari-hari sebelum nya dia akan bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
“Gib” suara halus dan lembut itu membuat Gibran menghentikan acara bersiap-siap.
Baru saja Gibran akan membuka pintu, tetapi pintu tersebut sudah di dorong dari luar menampakan sosok wanita paruh baya yang sangat Gibran sayangi.
“Iya bu” ucap Gibran setelah ibunya duduk di atas ranjang tempat tidurnya, Gibran pun mendekat, dia duduk di samping ibunya.
Setelah Gibran memutuskan untuk tinggal di kota D, ke dua orang tua Gibran juga ikut, mereka menjual rumah yang ada di jakarta dan membeli rumah baru yang letak nya tidak jauh dari Ponpes.
“Kapan kamu akan menikah Gib ?? ibu lihat setelah kepergian Zara kamu tidak mau mengenal sosok wanita” ucap sang Ibu dengan sedih.
Gibran diam tidak tau harus menjawab apa, memang kenyataan nya begitu, setelah kepergian Zara, Gibran sulit untuk mencintai seorang wanita lagi, tujuan nya saat ini hanya untuk mencari uang untuk biaya anak nya sekolah kelak.
“Gibran” kembali sang Ibu memanggil, tapi kali ini suara Ibunya sudah sedikit bergetar mungkin karena menahan tangis.
“Mau sampai kapan kamu seperti ini Gib ?? carilah seorang istri, kembalilah bina rumah tangga seperti kamu dan Zenia dulu !! Ibu mohon !!” Kali ini Bu Susi sudah menangis, Gibran pun tak tega melihat ibunya menangis.
“Maafkan Gibran Bu !!” ucap Gibran sembari memeluk Ibunya.
“Ibu tidak butuh kata maaf mu, ibu hanya ingin kamu menikah lagi”
Gibran menghela nafas nya, entah kenapa sulit sekali dia untuk kembali membina rumah tangga, setelah kejadian di masa lalu nya yang menyakiti 2 wanita sekaligus, Zenia dan Zara.
“Pagi ini Gibran akan menemui Pak Kyai bu, Gibran akan meminta tolong pak Kyai untuk mencarikan Gibran seorang istri” jelas Gibran pasrah, karena dia tidak ingin ibunya selalu bersedih.
“Kamu gak bohong kan ??” tanya Susi memastikan, karena Gibran sudah sering bilang seperti itu tapi nyatanya tidak Gibran tepati.
“Gibran gak bohong kali ini bu” jawab Gibran jujur.
Matahari sudah memberikan kehangatan, sinarnya begitu cerah hingga awan-awan di atas sana begitu terlihat biru menawan. Gibran keluar dari rumah nya menuju ponpes, dia akan menemui Pak Kyai Ayah nya Zahran.
“Assalamualaikum pak Kyai” Seru Gibran, kemudian mencium punggung tangan lelaki lansia itu.
“Waalaikumsalam, ada apa Gib ?? tumben pagi-pagi sekali kamu kesini ??” jawab pak Kyai sembari bertanya.
__ADS_1
“Ada yang ingin Gibran bicarakan dengan pak kyai” ucap Gibran dengan raut wajah serius.
“Baik lah, tunggu saja di rumah !! Abi sebentar lagi pulang”
“Baik, kalau begitu Gibran duluan”
Gibran memasuki Rumah utama ponpes, disana dia di sambut oleh Umi dan juga Elia istrinya Zaidan, sementara Fahri dan Aisyah mereka tinggal di rumah Zahran, karena setelah Zahran dan Zenia pindah ke turki rumah itu kosong, jadi Fahri dan Aisyah yang menempati.
“Ada apa Nak Gibran ??” tanya Umi setelah Gibran selesai mencium punggung tangan wanita yang sudah Gibran anggap ibu kedua nya itu.
“Tidak ada apa-apa Umi, Gibran hanya ingin bercerita dengan Abi saja, tadi Gibran sudah bertemu dengan Abi waktu hendak kesini” jawab Gibran tersenyum.
“Oh begitu, ya sudah kamu tunggu saja di dalam, Umi mau lanjut memasak” ucap Umi lagi.
“Iya Umi”
Tidak berapa lama Abi kyai dan Zaidan pulang.
“Loh Kak Gibran sudah disini rupanya ??” tanya Zaidan setelah mengucapkan salam.
“Iya Dan, ada yang ingin Kakak bicarakan sama Abi” jelas Gibran lagi.
Dengan sedikit keraguan Gibran menceritakan masalah nya sekarang, dimana kedua orang tuanya ingin segera Gibran menikah lagi, tapi Gibran merasa sulit untuk kembali jatuh cinta, Abi kyai mendengarkan dengan seksama begitupun dengan Zaidan, setelah Gibran selesai bercerita barulah Abi kyai memberi saran.
“Kalau menurut Abi turuti keinginan ibu kamu, Ibu sudah tua dan lihat usia kamu sudah tidak lagi mudah, ibu mu hanya ingin ada yang menemani masa tua mu kelak, masalah jatuh cinta nanti akan tumbuh sendiri jika sudah sering bertemu, lihat saja sih Zaidan sama Elia bagaimana mereka menikah tanpa di dasari cinta” jelas Abi Kyai.
“Makanya itu Abi, Gibran ingin Abi yang mencarikan”
“Kamu serius ?? nanti pilihan Abi tidak cocok lagi sama kriteria kamu”
“InsyaAllah Gibran serius Abi, Gibran ingin membahagiakan kedua orang tua Gibran terutama Ibu, dan Gibran yakin pilihan Abi adalah yang terbaik”
Abi kyai mengangguk, sembari berpikir tentang keinginan Gibran.
“Baik lah Abi akan membantu mu, tapi kamu harus janji sama Abi, jika kamu nanti sudah menikah dengan wanita pilihan Abi, kamu harus menyayangi nya sepenuh hati kamu, dan jangan ulangi kesalahan yang sama” tegas Abi kyai.
“Iya Abi, Gibran janji”
Setelah mengutarakan keinginan nya, Gibran pamit untuk segera berangkat ke kantor, begitupun dengan Zaidan.
__ADS_1
“Kalau begitu Gibran pamit Abi, mau berangkat ke kantor” ucap Gibran sopan.
“Iya hati-hati di jalan” jawab Abi kyai yang juga ikut berdiri.
“Bareng aja Kak berangkat nya !!” tawar Zaidan.
“Ok kalau begitu, Kakak pulang dulu ambil tas ya, kakak tunggu di rumah” balas Gibran kepada Zaidan..
“Iya Kak”
Gibran pun pamit, sedangkan Zaidan berganti pakaian terlebih dahulu, setelah kepergian Gibran Umi mendekati suaminya yang masih duduk di sofa ruang tamu.
“Abi” panggil Umi.
“Iya Umi, ada apa ??” tanya Abi dengan lembut.
“Tadi Umi mendengar sedikit pembicaraan Abi sama Gibran, benar kalau Gibran ingin di carikan seorang istri sama Abi ??” tanya Umi sembari memandangi suaminya.
“Benar Umi, kenapa memang nya ??” masih dengan nada yang lembut, Abi kembali mengajukan pertanyaan kepada seorang wanita yang telah menemaninya selama ini.
“Tidak mengapa Abi, Umi hanya bersyukur saja kalau Gibran akhirnya mau kembali membina rumah tangga”
“Kita doakan saja semoga nanti Gibran mendapatkan seorang yang akan menjadi jodohnya di dunia dan akhirat” Abi sangat bersungguh-sungguh dalam mengucapkan kata itu.
“Oh iya Umi jadi rindu sama Raja sama twins Abi, bagaimana kabar mereka ya Abi, sudah lama Umi tidak menghubungi Nia” ucap Umi.
“Kalau begitu mari kita telefon, Abi juga sangat merindukan ketiga cucu-cucuku” balas Abi dengan semangat.
*
*
*
**Hai aku balik lagi nih, ada yang senang gak ??
jangan lupa Like + komen nya ya kak !! untuk vote khusus hari senin aja ya !!
Terus author mau mengucapkan terima kasih karena masih setia menunggu kelanjutan novel ini.. seperti biasa ya update nya tiap hari tapi hanya 1 episode.. jangan minta banyak-banyak soalnya author mumet ngarang nya hehehe**...
__ADS_1