Suamiku Menjadi Adik Iparku

Suamiku Menjadi Adik Iparku
Epesode 71


__ADS_3

Siang seperti akan membimbing senja menemui malam. Keelokkan paras senja membuat siang seperti tak ingin lepas darinya. Namun, malam sudah tak sabar ingin menemui senja. Gibran melangkahkan kakinya ketika siang telah utuh sepenuhnya meninggalkan senja.


Gibran segera memasuki kamar dan mengganti baju yang sudah hampir seharian ia gunakan. seperti biasa malam itu dia akan kembali ke rumah sakit, menemani seseorang yang tengah berbaring lemah di atas ranjang ruangan bernuansa putih tersebut.


“Cepatlah sadar Ra !! aku menunggumu, aku janji akan menikahi kamu lagi setelah kamu sadar nanti” desahnya dengan pelan.


Sudah 2 hari Zara di rawat di rumah sakit, akibat tembakan dari Roi yang hampir menembus jantungnya, saat ini wanita cantik itu terbaring lemah, Gibran dengan setianya menemani Zara di rumah sakit, kedua orang tua Gibran juga sedang berada di Kota D, mereka sekarang memberi restu kepada Gibran jika nanti dia dan Zara akan menikah lagi.


Sementara Zenia setelah mendengar kabar adiknya di tembak, dia tak henti-hentinya menangis, ibu dari 3 orang anak itu juga dengan setia menemani sang adik di rumah sakit, tapi dia hanya akan datang siang hari karena dia juga harus mengurus twins, jadi malam nya giliran Gibran yang akan menemani Zara di temani oleh Angga dan Maya selaku kedua orang tua Zara.


Terus bagaimana keadaan Raja, apakah dia baik-baik saja ?? tentu saja tidak semenjak kejadian itu, anak kecil berumur 3 tahun itu sering bermimpi buruk, apalagi dia melihat dengan jelas Tubuh Zara yang bersimbah dara akibat tembakan, Zahran dengan setia menemani anak nya tidur, membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk menenangkan Raja, Zahran dan Zenia berniat untuk membawa anak nya ke Psikiater, tapi Raja tidak mau dia sangat takut dengan yang namanya dokter, pikiran nya jika ada dokter pasti akan ada jarum suntik, dan itu membuat Raja ketakutan.


Setelah berganti pakaian, Gibran keluar dari kamar untuk segera berangkat ke rumah sakit, saat melewati ruang keluarga dia berpapasan dengan Zahran.


“Sudah mau berangkat ??” tanya Zahran.


“Iya mas, entah sampai kapan Zara akan seperti ini” jawab nya dengan sedih.


“Sabar, serahkan semuanya kepada Allah” ucap Zahran sembari menepuk pundak Gibran.


“Oh iya bagaimana keadaan Raja ?? apa dia masih sering bermimpi buruk ??” tanya Gibran, karena memang dia belum pernah menemani anak nya tidur, dia tidak tau mimpi apa yang di alami anak nya, karena saat ini dia tengah sibuk mengurus Zara, Gibran merasa bersalah harusnya dia tidak mengabaikan anak nya.


“Iya Gib, mungkin dia masih di hantui rasa takut” ucap Zahran dengan sedih.


Gibran mendesah prustasi.


“Ya sudah Gibran berangkat dulu ya mas !! titip Raja” ucapnya lagi.


Zahran mengangguk sembari tersenyum.


*


*


*

__ADS_1


Suasana malam di kota D cukup ramai, kendaraan yang lalu lalang, menghiasi setiap sudut kota.


Mata Gibran tertuju pada bangunan putih nan besar, ketika mobil yang di kendarai berhenti tepat di halaman nya. Bangunan bertuliskan “Rumah Sakit Pelita” ya sudah 2 hari ini menjadi tempat istirahatnya yang kedua.


Gibran melangkah, begitu berat. Dia bukan nya tidak tau arah tujuan, tetapi entah kenapa kaki nya sangat berat untuk melangkah ke tempat itu. Tempat yang 2 hari ini menjadi tempat pembaringan orang yang dia cintai. benar memang Cinta bisa datang kapan saja, itu yang saat ini di rasakan oleh Gibran.


Gibran telah sampai di ruangan dimana Zara di rawat, Ruangan VVIP yang di pesan oleh Zahran langsung, dia ingin adik iparnya merasa nyaman, walau bagaimanapun Zahran berhutang nyawa kepada Zara.


“Syukurlah kamu sudah sampai, Papa dan Mama mau pulang dulu sebentar, tolong jaga Zara sebentar, kalau ada apa-apa segera hubungi papa” ucap Angga.


“Iya pa, hati-hati di jalan” jawab Gibran.


Setelah Angga dan Maya pergi dari tempat itu, Gibran duduk di kursi samping ranjang rumah sakit tempat Zara berbaring, Gibran dapat melihat wajah Zara yang memucat, Cairan putih yang menggantung di samping tempat tidurnya sudah banyak yang habis, bahkan Gibran pun tidak ingin menghitungnya.


“Hei, bangunlah !! apa kamu gak capek tidur terus seperti ini ?? ayo bangun !! mari kita menikah” ucap Gibran dengan mulut bergetar menahan tangis.


“Ra maafkan aku !! maafkan atas kesalahan ku selama ini, seandainya dulu aku tidak meninggalkan kamu mungkin kamu tidak akan berurusan dengan ROI, maafkan aku Ra, tolong bangunlah !! beri aku kesempatan untuk memperbaiki semunya” Gibran terus mengajak Zara berbicara, itulah yang dia lakukan selama dua hari ini, walau tak ada respon sama sekali dari Zara.


“Oh iya aku lupa memberi tahu kamu, Ibuku sudah merestui kita, dia mengizinkan aku untuk menikahi kamu lagi, aku mohon bangun Ra !!” lagi-lagi Gibran memohon, Air matanya jatuh, dia tak kuasa melihat Zara terbaring lemah di sana.


*


*


*


“Kamu menangis lagi ??” tanya Susi ketika melihat mata Gibran yang bengkak.


Gibran menatap ibunya lama, kemudian mengangguk, Susi menghela nafas kasar, tak tau harus bagaimana untuk menenangkan putranya.


Gibran juga melihat ke arah Zenia, walaupun saat ini wajahnya di tutupi oleh cadar, tapi Gibran dapat melihat kalau mantan istrinya itu sehabis menangis, dia tau Zenia juga merasa sedih melihat adik nya seperti ini, sudah hari 3 tapi belum ada perubahan pada Zara, beruntungnya garis di monitor itu, masih bergerak naik turun, jangan sampai garis itu menjadi lurus.


“Pulang lah, biarkan kami yang menjaga Zara dulu” pinta Ayahnya Gibran.


“Iya Gib, pulang lah !! istirahat dulu” Zahran pun ikut menimpali.

__ADS_1


“Jangan lupa temuin Raja mas, dia nanyain kamu” ucapan Zenia membuat Gibran terdiam, dia sadar dia salah saat ini, tak seharusnya dia mengabaikan anak semata wayang nya itu.


“Iya, kalau begitu saya permisi, Assalamu'alaikum” pamit Gibran.


“Walaikum salam” jawab Yang ada di ruangan itu serempak.


Gibran pulang, seperti biasa di wajahnya masih tersimpan raut kesedihan.


*


*


*


Pukul 10 pagi Gibran berniat untuk tidur siang, setelah sebelumnya dia menemani anak nya bermain, sementara twins sedang di jaga oleh Maya dan Umi.


Baru saja Gibran merebahkan badan nya di atas kasur mewah itu, tiba-tiba bunyi ponsel nya berbunyi dengan nyaring, membuat Gibran kembali bangun untuk melihat siapa yang menghubunginya.


Terlihat nama Zahran yang sedang menelfon nya, ada perasaan tidak enak di hatinya, buru-buru Gibran menggeser menu hijau untuk menjawab telfon darinya.


“Assalamualaikum mas, ada apa ??” tanya Gibran setelah menempelkan benda pipih itu ketelingahnya.


“Walaikum salam, Gib ke rumah sakit sekarang”


Deegggggg.


Jantung Gibran berdetak dengan kencang, ada apa ini ?? kenapa Zahran meminta Gibran segera datang kerumah sakit, apa yang terjadi kepada Zara, dengan cepat Gibran memutuskan panggilan nya tanpa bertanya lagi, dia melupakan acaranya yang akan tidur siang, yang ada di pikiran nya sekarang hanyalah Zara.


*


*


*


**Like.....

__ADS_1


Komen...


Vote**.....


__ADS_2