
Ke esokan paginya setelah menjalankan sholat subuh berjamaah dengan Zahran, Zenia langsung turun untuk membuat sarapan, menyediakan sarapan pagi untuk suami sudah tak asing lagi bagi Zenia karena dulu waktu dia menjadi istri Gibran sering dia membantu sang Mama membuat sarapan.
30 menit sudah Zenia berkutat dengan peralatan masaknya, semua masakan Zenia sudah tertata rapi di meja makan, Zenia heran kenapa suaminya belum turun juga apa dia belum selesai bersiap, akhirnya Zenia memutuskan untuk kembali ke kamar dan memanggil suaminya agar sarapan bersama.
Cekles (Suara pintu di buka)
Zenia masuk kedalam kamarnya dan dia melihat suaminya memasukan beberapa baju kedalam koper kecil, Mau kemana suaminya itu pikirnya, akankah dia akan meninggalkan Zenia dan memberikan Zenia gelar janda lagi ?? berbagai pikiran negatif menyerak otak nya.
“Kamu mau kemana By ??” akhirnya dari pada penasaran Zenia pun bertanya.
“Byby mau ke turki sayang” jawab Zahran
“Kok dadakan ??” Zenia kembali bertanya, pasalnya semalam Zahran sama sekali tidak membahas masalah keberangkatan nya ke Turki.
“Iya, Byby juga tidak tau, baru tadi pagi Kak Fahri ngabarin Byby katanya ada masalah dengan cabang perusahaan disana,jadi mau tidak mau Byby harus berangkat” jelas Zahran, sembari menghampiri istrinya.
“Ada apa ?? mau ikut ??” tanya Zahran dan berharap Zenia mengatakan iya.
“Enggak papa kok By, hehe nanti ajalah ikut sekarang Nia lagi gak pingin perjalanan jauh” jawaban Zenia sangat membuat Zahran kecewa, sebuah harapan sederhana yang dia inginkan dari sang istri tapi tak juga iya dapatkan.
“Oh ya sudah, kamu hati-hati di rumah !!, sepertinya Byby akan pergi agak lama” ucap Zahran sembari menutupi kekecewaan nya.
“Berapa lama By ??” ada raut kesedihan di mata Zenia saat mendengar kalau suaminya akan pergi agak lama.
“Mungkin sebulan atau bisa jadi 2 bulan, katanya ini masalah serius” jelas Zahran, dia tau istrinya sedih tapi Zahran tak ingin bertanya dia takut itu hanya perasaan nya saja.
“Kenapa lama sekali ??” Zenia kembali berkata dengan suara bergetar, air mata nya lolos begitu saja.
Melihat istrinya menangis Zahran langsung memeluk erat istrinya.
“Ya sudah ikut aja yok!!” ujar Zahran lagi.
Tapi kembali Zenia menggelengkan kepalanya, untuk tidak mau ikut suaminya kesana.
“Kenapa ??” tanya Zahran masih memeluk istrinya.
“Gak papa By, tapi aku benar-benar tidak ingin ikut, Byby disana hati-hati ya !! kalau urusan nya selesai langsung kembali kesini” ucap Zenia.
“Iya sayang” jawab Zahran.
__ADS_1
Zenia mendongakan kepalanya menatap suaminya, pandangan mereka bertemu, Zahran tersenyum sambil membelai pipi istrinya, dia mengecup kening Zenia.
“Terus kamu mau tinggal dimana, pasti tidak mau kan sendiri di rumah ini??” tanya Zahran karena dia juga tidak mungkin meninggalkan istrinya di rumah sendirian..
“Boleh ikut pulang kejakarta ??” pertanyaan Zenia langsung membuat Zahran terdiam, entahlah ada rasa tidak setuju jika harus mengizinkan istrinya untuk tinggal di jakarta, bukan karena Zahran egois karena melarang Zenia tinggal bersama ke dua orang tuanya, tapi disana pasti Istrinya akan sering bertemu dengan Gibran dan itu membuat Zahran cemburu
“Kenapa ??” tanya Zenia saat tak ada jawaban suaminya.
“Kenapa harus pulang kesana ?? kenapa tidak tinggal di Pon_ pes aja ?? disana ada Umi yang akan menemani kamu” ujar Zahran.
“Kalau tinggal di Pon_pes Nia belum banyak mengenal orang By, tapi kan kalau ikut pulang ke jakarta Nia bisa bantu papa mengurus restoran lagi, Nia juga tidak akan terlalu sedih karena jauh dari Byby” jelas Zenia sembari menampilkan wajah unyunya.
Zahran menghela napas kasar, Mau bagaimanapun melarang istrinya pasti Zahran akan kalah, Zahran lupa kalau Zenia adalah orang keras kepala, jadi mau tidak mau Zahran mengizinkan istrinya untuk pulang kejakarta bersama kedua orang tuanya, Zahran dan Fahri juga akan berangkat kejakarta.
“Ya sudah ayok siap-siap, tapi satu mobil dengan Byby ya!!” ucap Zahran.
“Iya dong By, Nia juga akan mengantar Byby ke Bandara” jawab Zenia dan langsung berlalu menuju lemari untuk memasukan pakaian nya kedalam tas.
_
_
_
Kini mereka telah di dalam perjalanan menuju jakarta, setelah tadi mampir sebentar ke rumah nenek, dan ternyata kedua orang tua Zenia dan yang lain nya sudah berangkat duluan.
Di dalam mobil mereka hanya terdiam, Fahri sesekali melirik kekaca spion untuk mengecek keadaan suami istri yang duduk di bangku belakang.
”Ada dengan mereka ?? ”. Batin Fahri.
2 Jam berlalu akhirnya mereka telah sampai di jakarta tapi sebelum kebandara mereka bertiga mampir dulu ke rumah Zenia.
Zenia turun di ikuti Zahran dan Fahri.
“Assalamualaikum Mama” teriak Zenia saat sudah berada di dalam Rumah.
Tidak lama terdengar suara sahutan dari dalam.
“Walaikum salam, loh Nia, kenapa kesini Nak??” tanya Maya sedikit terkejut mendapati anaknya berada di rumah.
__ADS_1
Zahran langsung menyalimi tangan ibu mertuanya di ikuti oleh Fahri.
“Ayo duduk dulu biar mama panggil Bibi buat bikin minuman dulu” ucap Maya..
“Tidak usah Ma, Zahran tidak bisa lama, Zahran kesini untuk menitipkan Nia, soalnya Zahran mau ke turki ada pekerjaan mendadak” jelas Zahran.
“Oh begitu, ya sudah kamu hati-hati di jalan ya Nak" ucap Maya kepada menantunya.
“Iya ma, Zahran titip Nia, Maaf kalau merepotkan” ujar Zahran dengan sopan
“Tidak Nak Zahran, Nia adalah putri kami, mama pasti akan menjaga Istri kamu dengan baik kamu tenang saja” balas Maya .
“Papa Mana Ma ?” tanya Zahran karena sedari tadi dia belum melihat papa mertuanya.
“Papa sudah di restoran Nak” jawab Maya
“Ya sudah Zahran berangkat dulu ya Ma” ucap Zahran.
“Ma Nia anterin Mas Zahran dulu ya” timpal Nia.
“Iya kalian hati-hati” jawab Maya kepada mereka.
Zahran, Fahri dan Zenia berpamitan kepada Maya, mereka segera kembali masuk kedalam mobil.
Di dalam perjalanan menuju bandara, Zenia menyandarkan kepalanya di dada suaminya, Zahran mengelus nya dengan lembut sesekali menciumnya, Zenia memang belum menggunakan Hijab, dan Zahran pun tidak ingin memaksa.
Jarak dari rumah Zenia ke bandara hanya 30 menit, dan sekarang mereka telah sampai di Bandar Udara Internasional Suekarno-Hatta.
Sebelum masuk kedalam Zahran memeluk erat tubuh istrinya, Zenia menangis sesegukan, ada rasa tidak ingin di tinggalkan tapi untuk ikut pun enggan, karena Turki bukan tempat impian Zenia makanya dia sama sekali tak berminat untuk ikut suaminya kesana.
Fahri membiarkan suami istri itu untuk berpelukan, karena sebentar lagi mereka akan berpisah.
Zenia pun melepaskan pelukannya, Zahran menghapus air mata istrinya.
“Selalu jaga kesehatan, kabari aku dalam keadaan apapun” ucap Zahran
“Iya By, segeralah kembali” balas Zenia.
Karena sudah ada pemberitahuan pesawat yang di tumpangi Zahran akan segera berangkat dengan berat hati Zahran meninggalkan istrinya, Zenia menatap langkah kaki suaminya yang semakin menjauh, berharap kalau suaminya membatalkan kepergian nya tapi itu hanya harapan belaka, bahkan Zahran sama sekali tidak menengok kebelakang, tapi tanpa Zenia sadari sepanjang jalan air mata Zahran mengalir deras, dia tidak ingin melihat kebelakang karena dia tidak sanggup melihat istrinya berdiri seorang diri.
__ADS_1
Tidak lama kemudian pesawat yang di tumpangi Zahran benar-benar berangkat, walaupun tak terlihat tapi Zenia malambaikan tangan nya
“Cepatlah kembali sayang” ucap Zenia, kata sayang lolos begitu saja di bibirnya, jika saja itu terdengar oleh Zahran sudah pasti Zahran akan sangat bahagia.