Suamiku Menjadi Adik Iparku

Suamiku Menjadi Adik Iparku
S2-Part09


__ADS_3

1 bulan kemudian, setelah Gibran memutuskan untuk menolak untuk meng-Khitbah Lila, Gibran tak pernah lagi meminta Abi untuk mencarikan nya seorang istri, Gibran merasa sungkan kepada Abi, walaupun kedua orang tuanya tetap menyuruh Gibran terutama sang ibu.


Akhir-akhir ini juga Gibran di sibukkan dengan pekerjaan nya, karena terkadang Zaidan sering meminta Gibran untuk menemaninya meeting di luar kota.


Seperti saat ini Gibran di minta Zaidan untuk pergi ke bandung untuk melihat pembangunan hotel disana, karena Zaidan sedang berhalangan hadir di sebabkan istrinya sedang sakit, sementara Fahri tidak bisa menemani karena Aisyah sedang hamil muda.


“Maaf ya Kak kali ini Kakak pergi nya sendiri” ucap Zaidan tak enak hati.


“Tidak apa-apa dek, kayak sama siapa aja sih” balas Gibran terkekeh.


“Ya sudah kakak hati-hati di jalan, berkas-berkas nya sudah Zaidan taruh di mobil kak”


“Iya dek, kalau begitu kakak pamit Assalamualaikum”


“Walaikumsalam” balas Zaidan.


Gibran pun pamit, dan berjalan untuk berangkat ke bandung, perusahaan mereka memang membangun cabang hotel di kota Bandung.


Gibran menjalankan mobilnya dengan tenang,3 jam kemudian Gibran akhirnya tiba di kota Bandung, Gibran pun segera menuju ke tempat pembangunan hotel.


“Assalamualaikum pak ??” sapa Gibran menjabat tangan pria paruh baya yang di percaya oleh perusahaan dalam mengawasi proses pembangunan hotel tersebut.


“Walaikumsalam pak Gibran” balas bapak itu yang bernama Andi.


“Bagaimana pembangunan nya apa lancar ?? Atau ada masalah ??” tanya Gibran sembari memandangi proses pembangunan yang baru setengah jadi.


“Sampai disini lancar pak, mudah-mudahan sampai selesai”


“Aamiin”


”Mari pak saya antar untuk bertemu dengan klien yang bekerja sama dengan pembangunan hotel ini”


Gibran pun berjalan mengikuti langkah kaki pak Andi, setelah tiba di suatu ruangan tempat dimana meeting di laksanakan ternyata semuanya sudah berkumpul tinggal satu kursi yang belum terisi yaitu tempat duduk nya Gibran.

__ADS_1


......


Tepat jam makan siang, meeting tersebut selesai, tidak ada pembahasan yang sangat penting hanya mencakup tentang pembangunan hotel tersebut.


Saat ini Gibran hendak mampir di salah satu restoran yang terkenal di kota bandung, karena Gibran ingin mengisi perutnya dulu sebelum kembali pulang ke kota D, tapi saat hendak masuk karena Gibran terlalu fokus dengan ponselnya Gibran tak sengaja menabrak seseorang.


BRUUUKKKK..


“Astaghfirullah, maaf Nona saya tidak sengaja ” kata Gibran saat dirinya tak sengaja menabrak seseorang wanita yang memakai gamis berwarna biru langit lengkap dengan jilbab serta cadarnya.


“Tidak apa-apa Tuan” jawab perempuan itu tanpa melihat ke arah Gibran dia menundukkan kepalanya.


“Maaf apa ada yang sakit” kembali Gibran melajukan pertanyaan.


Perempuan itu hanya menggeleng saja, kemudian dia pamit undur diri.


“Tunggu” ucap Gibran dengan sedikit berteriak.. Perempuan itu pun berhenti.


“Ada apa tuan ??” tanya nya dengan sopan, tapi lagi-lagi dia menundukkan kepalanya.


“Nama saya ZEA... Udah ya tuan saya permisi Assalamualaikum ” ucap nya kemudian dia berlalu pergi.


“Walaikumsalam" balas Gibran.


“Namanya seperti nama anak nya Zenia yang perempuan, ZEA" batin Gibran.


Gibran pun masuk kedalam restoran itu, dia memilih duduk di kursi dekat jendela, dia kembali membayangkan pertemuan dengan perempuan yang mengaku bernama Zea tersebut.


“Semoga bertemu lagi” harap Gibran, dan tak lama kemudian pelayan datang dengan membawa pesanan Gibran.


Gibran pun mulai menyantap makan siang nya, setelah selesai Gibran membayar makanan nya kemudian dia berlalu pergi dari restoran tersebut.


Waktu masih menunjukan pukul 01:30 siang, Gibran mulai menjalankan mobilnya untuk kembali ke kota D.

__ADS_1


*****


Sementara di waktu yang sama, seorang perempuan yang tidak sengaja di tabrak Gibran tengah berdiri di sudut kamarnya, dia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.


Suara ketokan pintu membuat dia sadar dari lamunan nya.


“Zee” panggil sang ibu dengan lembut.


Zea menoleh kemudian dia mengembangkan senyum nya, menyambut kedatangan seorang wanita yang telah membesarkan dia selama ini.


“Iya Umi” jawab Zea dengan lembut.


“Kamu sedang apa Nak ?? kamu bahkan belum makan siang ?? apa ada yang mengganggu pikiran kamu ??” tanya Umi beruntun.


“Tidak ada Umi” jawab Zea, karena dia sendiri tidak tau apa yang mengganggu pikiran nya.


“Abi mana Umi ??” lanjut Zea lagi.


“Abi sedang istirahat Nak” jawab nya dengan tersenyum.


“Ya sudah kamu makan siang dulu sana !! setelah itu kamu tidur siang” pinta Umi lagi.


“Baik Umi”


Umi yang bernama Fadilah tersebut keluar, wanita paruh baya yang umurnya hampir setengah abad tapi masih terlihat sangat cantik, dia istri dari Kyai Ahmad siddiq, pemilik pesantren NURUL HUDA, sebetulnya Zea bukan lah anak kandung Umi Fadilah dan Abi Ahmad, 22 tahun yang lalu mereka menemukan Zea di depan gerbang pesantren, Abi Ahmad sudah melapor ke polisi tapi setelah 2 bulan tidak ada tanda-tanda dimana kedua orang tuanya Akhirnya Abi Ahmad dan Umi Fadillah mengadopsi Zea, kebetulan juga umi Fadillah tidak bisa memiliki anak karena setiap Umi Fadillah mengandung pasti keguguran dan terakhir rahim Umi Fadillah di angkat, hingga sudah tak ada harapan lagi untuk Umi bisa mempunyai keturunan, makanya saat Bayi Zea di temukan Umi sangat bahagia.


Kenapa mereka memberikan nama nya Zea ?? karena di samping bayi tersebut tertulis sebuah surat agar memberikan nama bayi itu ZEA SHAKILAH , dan memintanya menjaganya dengan baik, makanya Abi dan Umi tidak mengubah nama tersebut karena mereka meyakini kalau suatu hari nanti Zea bisa bertemu dengan kedua orang tua kandungnya.


Awalnya Zea tidak mengetahui kalau dia bukan lah anak kandung Abi Ahmad dan Umi Fadillah, tapi satu tahun yang lalu Zea tak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya, Zea tidak marah kepada kedua orang tua kandungnya karena Zea yakin mereka pasti memiliki alasan kenapa Zea di buang, dan Zea juga bersyukur bisa bertemu dengan Abi dan Umi yang rela merawat Zea dengan baik.


“Kapan aku di pertemukan dengan kedua orang tua kandung ku ?? apa mereka masih hidup ??” ucap Zea sembari menatap dirinya di cermin.


Zea menjadi perempuan yang solehah, dia baru saja lulus dari kuliah nya yang mengambil jurusan kedokteran.

__ADS_1


“Semoga di segerakan ya Allah” kembali Zea meminta kepada yang maha kuasa agar mengabulkan permintaan nya.


Zea sangat berharap kalau dia bisa segera bertemu dengan kedua orang tua kandungnya, Zea ingin melihat bagaimana wajah mereka berdua, Zea juga penasaran apakah dia memiliki saudara atau tidak, setiap menjalankan sholat Zea selalu mendoakan kedua orang tuanya, baik Umi dan Abi yang selama ini merawatnya ataupun kedua orang tua kandungnya yang belum pernah Zea tau.


__ADS_2