Suamiku Menjadi Adik Iparku

Suamiku Menjadi Adik Iparku
Episode 61


__ADS_3

Di dalam perjalanan ke rumah sakit, Zahran mengabari dokter Tika terlebih dahulu untuk segera menyiapkan ruangan untuk istrinya, tak lupa dia juga mengabari Zaidan untuk segera menyusulnya kerumah sakit.


Zahran sesekali melirik ke arah istrinya, terlihat Zenia masih memegangi dadanya sembari memejamkan mata, Nafas nya juga masih tak beraturan, sementara Raja dia duduk di belakang, anak kecil berumur 3 tahun itu juga terlihat panik, apalagi Zahran dia benar-bebar takut terjadi sesuatu kepada anak dan istrinya.


Akhirnya mobil mereka telah sampai di rumah sakit, Zahran langsung menghentikan mobilnya, ternyata di luar sudah menunggu beberapa orang perawat rumah sakit, mungkin itu perintah dari Dokter Tika.


Zahran turun dan segera membuka pintu mobil untuk istrinya.


“Pak Zahran kami di tugaskan oleh dokter Tika, untuk membawa ibu Zenia ke ruangan nya” salah satu perawat itu buka suara.


“Iya sus” jawab Zahran singkat.


Kemudian dia membungkukan badan nya untuk memberi tahu kepada istrinya kalau saat ini mereka telah sampai di rumah sakit.


“Sayang kita sudah sampai, Byby angkat ya !!” ucap Zahran dengan lembut, sembari mengelus pipi mulus istrinya.


Hening, tak ada jawaban dari istrinya.


Degggg.


Jantung Zahran berdegup sangat kencang, dia tidak sadar kalau istrinya sudah jatuh pingsan.


“Sayang, tolong jangan buat Byby khawatir” dengan segera Zahran mengangkat tubuh istrinya, dan memindahkan nya ke brankar pasien yang telah di sediakan oleh perawat itu.


Setelah memindahkan istrinya, Zahran beralih ke Raja, dia langsung menggendong Raja kemudian berjalan dengan cepat mengikuti langkah perawat membawa istrinya, Ternyata di depan ruangan Zenia sudah menunggu dokter Tika.


“Dok pasien tidak sadarkan diri” ujar salah satu perawat dengan nada khawatir.


“Cepat bawa masuk dan langsung pasang infus dan selang oksigen” Dokter Tika tak kalah panik.


Zahran melihat kepanikan para perawat dan Dokter yang membawa istrinya, hanya bisa tertunduk dengan lesu, dia tidak bisa menahan air matanya, dia duduk di bangku panjang sembari mendekap tubuh Raja.


“Baba” panggil Raja saat melihat Zahran menangis.


Zahran hanya diam saja, tidak lama Zaidan dan Fahri tiba di rumah sakit, Zaidan juga sudah mengabari yang lain untuk segera datang ke rumah sakit, Umi dan Abu kyai yang mendengar kabar kalau Zenia masuk rumah sakit langsung segera pulang dari kampung sebelah.


“Assalamualaikum Bang" ucap Zaidan.


“Walaikum salam” jawab Zahran.


“Sabar bang, InsyaAllah kak Nia tidak akan kenapa-napa” ucap Zaidan lagi.


“Raja sini sama om Fahri, kita nunggu Onty Ra di depan” ajak Fahri, dan beruntung nya Raja langsung mau, Fahri segera membawa Raja ke depan menunggu Zara dan juga istrinya Aisyah.


“Harusnya tadi abang panggil ambulance dek, biar Nia langsung di tangani saat jalan kesini, ini salah Abang kenapa Abang gak peka, bahkan saat Nia sudah tidak sadarkan diri abang tidak tau” Zahran merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada istrinya.

__ADS_1


“Tidak bang, ini bukan salah Abang, coba abang pikir kalau abang mala nunggu ambulance pasti akan sangat lama” balas Zaidan menenangkan.


Tidak lama kemudian dokter Tika keluar, Zaiharan dan Zaidan langsung berdiri menghampiri dokter Tika.


“Bagaimana keadaan istri saya dok ??” tanya Zahran khawatir.


Dokter Tika tampak menghela nafas nya, dia bingung bagaimana cara menyampaikan kondisi istrinya kepada Zahran.


“Istri bapak mengalami gejala Anemia atau rendahnya kadar Zat besi di dalam darah, hingga menyebabkan tubuh istri bapak harus bekerja ekstra untuk menyediakan pasokan oksigen bagi tubuhnya dan janin yang ada di perutnya, apalagi janin itu ada 2” jelas dokter Tika.


“Terus apa yang harus di lakukan dok ??” Zahran benar-benar khawatir.


“Kita harus melakukan operasi caesar untuk segera melahirkan anak-anak bapak, karena jika terus di tahan saya takut mala terjadi sesuatu kepada ibu dan bayi” jawab dokter Tika hingga membuat Zahran tercengang, karena bagaimana mungkin istrinya melahirkan saat ini mengingat usia kandungan istrinya baru 8 bulan.


“Tapi kandungan istri saya baru 8 bulan dok, apa itu tidak bahaya ??” tanya Zahran memastikan.


“InsyaAllah tidak pak, justru kalau kita tetap mempertahankan bayi nya akan mengakibatkan dampak buruk, jika istri bapak sudah melahirkan kami bisa melakukan pertolongan pertama untuk istri bapak tanpa harus cemas kepada janin nya, karena pasti istri bapak membutuhkan obat-obatan, dan disini saya lihat kondisi bayi anda normal, berat badan nya juga sudah cukup untuk di lahirkan tapi tetap saja nanti kita masukan kedalam inkubator karena dia lahir prematur” dokter Tika kembali meyakinkan.


Zahran tampak berpikir lagi, hingga suara suster langsung memecahkan keheningan nya.


“Dok gawat detak jantung pasien tidak beraturan, terus mulut, ujung kaki dan tangan nya nampak kebiruan” ucap Suster itu panik.


Dokter Tika dengan segera masuk kedalam ruangan lagi, sementara Zahran yang ingin masuk juga langsung di tahan oleh Zaidan.


“Lepasain abang dek !! Abang mau lihat keadaan Nia” pinta Zahran sembari mencoba melepaskan diri dari Zaidan.


“Astaghfirullah” ucap Zahran beritighfar.


Setelah Zahran sedikit tenang, Zaidan kembali membawa nya untuk duduk di bangku tunggu pasien, tidak lama kemudian Fahri kembali bersama Zara dan juga Aisyah, di susul kemudian ke dua nenek dan kakek Zenia.


“Bagaimana keadaan kak Nia mas ??” tanya Zara.


Zahran hanya menggeleng dengan lesu, bibir nya seakan terkunci untuk menjelaskan kondisi istrinya.


Akhirnya Zaidan yang menjelaskan karena bagaimanapun mereka berhak tau tentang kondisi Zenia.


“Ya Allah cucuku” nenek Zenia langsung menangis histeris.


“Nek” Zara memeluk sang nenek, dia pun sama tak kalah sedihnya setelah mengetahui kondisi kakak nya.


Tidak lama suster keluar.


“Dengan bapak Zahran” panggil nya.


Mendengar namanya di panggil Zahran segera bangkit untuk menghampiri suster itu.

__ADS_1


“Saya sus, ada apa ya ?? bagaimana keadaan istri saya ??” tanya Zahran beruntun.


“Ibu Zenia ingin bertemu dengan bapak, mari silahkan masuk” jawab suster itu, sembari menyuruh Zahran untuk masuk.


Zahran segera masuk, dia melihat tubuh istrinya terbaring lemah, wajahnya yang pucat, dan kaki dan tangan nya tampak kebiruan, Zahran mendekat, menggenggam tangan istrinya, sebisa mungkin dia untuk tidak menangis karena dia harus kuat di depan istrinya.


“Sayang” panggil Zahran pelan di telingah sang istri.


“By” ucap Zenia dengan susah payah karena dia masih merasakan sesak nafas.


“Sudah tidak perlu bicara, byby sayang banget sama kamu, sayang harus kuat ya !! demi aku dan demi anak-anak kita” pinta Zahran.


Zenia membalas dengan senyuman tapi air mata nya mengalir begitu saja, Zahran menyeka air mata istrinya.


“By ma,,. maafkan Nia !! kkkalau selama ini Nia belum bisa jadi iiiistri yang baik buay byby” ucap Zenia terbata-bata.


“Tidak sayang, kamu sudah menjadi istri yang baik buat Byby, selama ini byby sangat bersyukur punya kamu” balas Zahran, hingga air mata yang sedari tadi dia tahan sekarang tumpah ruah.


Zenia tersenyum, tangan nya di angkat untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi suaminya, Zahran meraih tangan istrinya kemudian mencium nya.


“By sini Nia pingin cium pipi Byby” pinta Zenia.


Zahran mendekatkan wajah nya, hingga dia merasa bibir mungil istrinya menyentuh pipinya, Zahran membalas mencium istrinya dari kening, kelopak mata, hidung dan kedua pipinya.


“Jaga anak-anak dengan baik By” kalimat terakhir yang keluar dari bibir Zenia sebelum nafas Zenia kembali tak beraturan


Zahran panik, dokter Tika yang melihat itu langsung segera mendekat karena memang dia tidak keluar dari ruangan itu.


“Bagaimana dok ??” tanya Zahran.


“Kita harus segera melakukan tindakan operasi” jawab dokter Tika


“Lakukanlah dok !! selamat kan istri dan anak saya !!” Zahran pasrah baginya tidak mengapa anak-anak nya di lahirkan sekarang yang terpenting mereka semua selamat.


Dokter Tika bersama tim nya segera mempersiapkan operasi, sebentar lagi Zenia akan segera di pindahkan, Zahran keluar ternyata disana sudah ada Abi dan Uminya, tinggal kedua orang tua Zenia yang belum hadir karena masih dalam perjalanan.


Zahran segera memeluk Umi, menumpahkan segala kesedihan nya, Umi mengelus punggung anak nya memberikan kekuatan supaya anak nya tabah menjalaninya.


*


*


**Like.


komen.

__ADS_1


vote ya**..


__ADS_2