Suamiku Menjadi Adik Iparku

Suamiku Menjadi Adik Iparku
S2-Part17


__ADS_3

“Maksud Papa Apa ??” tanya Maya.


Angga hanya menggeleng kan kepalanya.


“Pa” panggil sang istri dengan nada lembut.


“Tidak apa-apa Ma, Papa hanya memikirkan sesuatu kemaren Papa bertemu dengan seseorang dia namanya Zea, waktu itu sedang hujan deras terus dia berdiri di depan restoran kita, makanya papa ajak masuk” jelas Angga kemudian.


“Bagaimana ciri-ciri nya Pak Angga ??” sahut Abi Ahmad sembari bertanya.


“Dia memakai cadar Pak Kyai, orang nya sangat sopan, lemah lembut dalam berbicara” jawab Angga sambil membayangkan pertemuan nya dengan Zea..


“Seperti Zea ya Bi” kata Umi menatap suaminya, karena dia begitu hapal dengan Zea..


“Kalau begitu kita pulang sekarang Pa !! ayo kita temui Zee di jakarta” ajak Maya antusias.


“Tidak usah pulang Pak, bu, saya akan menyuruh Zee pulang sekarang !! walau kalian adalah kedua orang tua kandung nya Zee, tapi Zee tidak akan langsung begitu percaya, jadi biarkan saya yang akan menjelaskan” ucap Abi Ahmad.


Angga tampak berpikir betul memang apa yang di katakan oleh Kyai Ahmad, tidak akan mudah menjelaskan semuanya kepada Zea.


“Baiklah kalau begitu kami akan menunggu di sini” Angga melirik sang istri, kemudian Maya mengangguk tanda setuju.


*****


Sementara itu Zea baru selesai mendatangi rumah sakit yang di rekomundasikan oleh kampusnya, dia mendapat tawaran bekerja di sebuah rumah sakit yang sangat terkenal di kota jakarta.


Zea berdiri di kamar apartemen nya, memandang keluar jendela kamarnya, disana Zea dapat melihat keindahan kota Jakarta.


Tidak lama kemudian ponsel nya berbunyi, tanda ada pesan masuk.


Zea mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan yang membuat nya langsung tersenyum, pesan dari seseorang yang sangat Zea rindukan, iya dia adalah FAUZAN ABDULLAH, seorang pria yang sangat tampan dan soleh, Zea dan Fauzan sudah menjalani Ta'aruf selama 2 tahun, tahun kemaren Fauzan melamar Zea tapi Zea belum bisa menerimanya dia ingin bertemu dengan kedua orang tua kandung nya dulu, karena Zea ingin di nikahkan oleh ayah nya langsung.


“Assalamualaikum” isi pesan tersebut, sangat singkat bukan tapi sungguh membuat Zea bahagia.


“Walaikumsalam, Ustadz Fauzan" balas Zea sambil terkekeh.


“Haha, jangan panggil Ustadz lah, panggil saja seperti biasanya dek”


Zea terus tersenyum membaca pesan demi pesan yang di kirim Fauzan, sungguh dia sangat merasa nyaman dengan pria itu, andai saja Zea sudah bertemu dengan kedua orang tua kandung nya maka dia akan segera menerima lamaran Fauzan.

__ADS_1


*


*


*


Sementara Gibran dia kembali memikirkan Zea, pertemuan singkat mereka menjadi cerita terindah bagi Gibran.


“Kapan aku bertemu lagi dengan nya" kata Gibran pelan.


Dia sedang duduk di depan rumah nya.


“Gibran” panggil ayah nya, kemudian duduk di kursi sebelah Gibran.


“Iya Yah, ada apa ??" tanya Gibran menatap sang Ayah.


“Apa yang kamu pikirkan, Ayah lihat kamu sangat gelisah ??”


“Tidak ada Ayah, Gibran hanya sedang rindu pada Raja”


“Kalau begitu cepat bawa Raja pulang” tiba-tiba Susi menyahut pembicaraan Gibran dan suaminya.


“Bu jangan buat Gibran marah !!" pinta Gibran


“Bu” Hartono memanggil istrinya.


“Kenapa sih Ibu selalu saja bahas itu ?? apa gak capek dan bosan setiap hari yang ibu bahas itu terus” tanya Gibran menatap ibunya.


“Ibu tidak akan capek sampai kamu bawa Raja pulang”


“Sudah-sudah jangan ribut disini !! malu kalau di dengar tetangga” kata Hartono melerai pertengkaran istri dan anal nya.


Gibran kemudian meninggalkan kedua orang tuanya, dia langsung mengambil kunci mobil dan pergi dari sana.


Di dalam perjalanan Emosi Gibran sangat tinggi, berulang kali dia memukul stri mobil dengan kasar.


“Kenapa kalian gak ada yang mengerti posisi aku ??” ucap Gibran marah.


Gibran terus melajukan mobilnya, tidak tau kemana tujuan nya sekarang, tapi dia mengingat kata Fahri untuk menceritakan semuanya kepada Zahran, mungkin saja Zahran punya solusinya.

__ADS_1


Gibran kemudian menepikan mobilnya di pinggiran taman, dia menelfon Zahran di dalam mobil tersebut.


“Halo Assalamualaikum Mas Zahran” ucap Gibran saat panggilan telefon nya sudah di jawab oleh Zahran.


“Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullahi wabarakatuh” Jawab Zahran di seberang sana.


“Ada apa Gib ?? mau berbicara dengan Raja ya ?? nanti soreh telefon lagi saya sedang di kantor sekarang ??" sambung Zahran lagi.


“Oh tidak-tidak mas, Gibran ingin bicara dengan mas Zahran” jawab Gibran.


“Oh seperti itu, baiklah tunggu sebentar ya !!”


Kemudian Gibran menunggu Zahran, dia seperti sedang berbicara kepada seseorang menggunakan bahasa turki, dan Gibran pun tak tau apa yang mereka bicarakan.


“Halo Gib, bagaimana ?? saya siap mendengarkan kamu" ucap Zahran lagi setelah selesai bicara dengan seseorang.


“Begini mas, Gibran lagi pusing, setiap hari ibu selalu membuat Gibran marah, Ibu ingin aku membawa Raja pulang, katanya dia rindu” jelas Gibran apa adanya.


Zahran terdiam “Nanti akan saya bicarakan dengan Nia, sebenarnya kami ingin pulang ke indo tahun ini, tapi masih menunggu Raja libur sekolah dulu” jawab Zahran.


“Bukan hanya itu mas, ibuku ingin mengambil hak asuh Raja”


Mendengar itu Zahran sangat terkejut, ada apa dengan ibunya Gibran, Pikir Zahran.


“Kenapa seperti itu ?? bukan kah selama ini ibu kamu tidak pernah membahas itu ??” tanya Zahran lagi.


“Saya juga tidak tau Mas,tapi mungkin karena ibu saya sudah tua dan dia sangat menginginkan bersama dengan cucunya” /Gibran.


“Tapi kalau mau mengambil hak asuh Raja itu tidak akan bisa Gib, karena saat kamu bercerai dengan Nia disana di nyatakan hak asuk Raja jatuh kepada Nia sampai Raja berumur 15 tahun, kenapa kamu tidak jelaskan semua itu kepada ibu kamu ??" /Zahran.


“Maaf mas, nanti akan saya jelaskan lagi, saya juga tidak ingin mengambil hak asuk Raja karena pasti akan menyakiti Nia lagi” /Gibran


“Bagus !! memang benar jika kamu berbuat seperti itu kamu akan menyakiti istri saya lagi, dan saya tidak akan tinggal diam jika melihat istri saya tersakiti, saya akan melakukan apapun demi kebahagiaan istri saya” /Zahran.


Mendengar nada bicara Zahran seperti itu membuat Gibran sedikit takut, karena Gibran selama ini belum pernah melihat Marahnya Zahran, apalagi Gibran sadar kalau dia bekerja di perusahaan Zahran.


“Maafkan ibu ku Mas, dan Maafkan saya juga” /Gibran.


“Tidak mengapa, kalau begitu sampai disini dulu ya, Assalamualaikum” /Zahran.

__ADS_1


“Walaikumsalam" balas Gibran..


Setelah sambungan telefon pun terputus Gibran semakin tidak ingin membawa Raja pulang, biarkan saja ibunya marah-marah terus, nanti jika dirinya menikah dan mempunyai anak pasti ibunya akan diam dan tidak menuntut hak asuh Raja lagi.


__ADS_2