Suamiku Menjadi Adik Iparku

Suamiku Menjadi Adik Iparku
Episode 72


__ADS_3

Mobil Gibran pun melesat, melewati pengendara lain nya, dia terus berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa.


Kini dia tiba di rumah sakit, Gibran mempercepat langkah nya untuk segera sampai di ruangan rawat Zara.


Keheningan di rumah sakit itu seketika menghilang, ketika Gibran tiba di depan kamar Zara, suara tangisan pecah di ruangan itu, Gibran segera masuk ke dalam, dia dapat melihat Zenia tengah memeluk tubuh adiknya, tapi ada yang salah, saat ini selang infus itu sudah di lepas di tangan Zara, mata Zara masih sama seperti tadi saat Gibran tinggalkan, masih terpejam, Gibran melihat garis monitor itu sudah bergerak lurus, seketika Gibran sadar.


“Zara” ucap Gibran pelan.


Semua menoleh ke arah Gibran, Zahran pun mendekat.


“Sabar Gib, ikhlaskan Zara !! Dia sudah tenang disana” ucapan Zahran berhasil membuat air mata Gibran mengalir dengan deras.


“Tidak, ini tidak mungkin ??” kata Gibran tak terima.


Gibran mendekat.


“Ra bangun !! Aku mohon bangun Ra !! Aku janji akan menikahi kamu” ucap Gibran dengan nada bergetar.


“Sabar Nak, ikhlaskan Zara !!” ucap Susi ibunya Gibran dengan sedih.


Tidak lama kemudian kedua orang tua Zenia bersama Kedua orang tua Zahran sampai, sedangkan Fahri beserta istrinya di rumah untuk mengurus twins, begitupun dengan Zaidan dia saat ini sedang bermain bersama Raja.


“Anak mama” teriak Maya saat melihat Zara sudah tak bernyawa lagi.


Iya hari ini, detik ini, Zara sudah pergi untuk selamanya, setelah 3 hari bertahan karena tembakan yang hampir mengenai jantungnya, Akhirnya merenggut nyawanya, sekarang ia telah tiada, meninggalkan semuanya tanpa sepatah kata pun, Zenia dan Maya tak kuasa menahan tangisnya, mereka menangis dengan histeris, walau Zara bukanlah anak kandung Maya tapi tetap saja Maya lah yang mengurusnya dari bayi, bahkan Air susu nya mengalir di tubuh Zara, Angga pun juga menitikan air matanya.


Sementara Gibran, dia tertunduk tak tau harus berbuat apa, sekarang Zara benar-benar telah pergi. Pergi untuk selamanya.


Kini mereka melangkah keluar, Tubuh tak bernyawa itu di dorong menuju mobil ambulance, Zenia masih terus menangis mengiringi langkah kaki beberapa orang perawat.


“Istighfar sayang, ikhlaskan Zara, Allah lebih sayang padanya” Zahran terus menyemangati istrinya.


“Zara By, dia ninggalin Nia, Hiks__Hiks__Hiks”


*


*


*


Kini mereka telah sampai di rumah utama Ponpes, karena itu adalah usul dari Abi dan semuanya menyetujui.

__ADS_1


Isak tangis membanjiri rumah itu, kepergian Zara tidak hanya mengundang tangis kedua orang tuanya, tetapi Umi dan Abi kyai pun merasakan kesedihan yang amat dalam, karena merekalah yang merawat Zara beberapa bulan terakhir ini.


Zenia duduk di samping adik nya, begitupun dengan Maya sesekali kedua orang itu menciumi pipi Zara yang kini sudah semakin pucat, Zahran dengan setia mendampingi istrinya, memberikan kekuatan kepada istrinya.


Kini jam sudah menunjukan pukul 02 siang, tubuh Zara sudah terbungkus rapih dengan kain putih, setelah di sholat kan maka Zara akan segera di bawah ke tempat peristirahatan terakhirnya.


“ LÂ ILÂHA ILLALLÂH”


Suara itu menggema mengikuti langkah kaki orang yang membawa keranda jenazah Zara.


“Sayang kamu tidak usah ikut ya !! biar Byby saja” pinta Zahran kepada sang istri.


“Aku mau ikut by” jawab Zenia.


“Sayang dengerin aku !! tolong kamu jangan ikut, lagian kamu juga sudah mengabaikan anak kita, tadi Fahri Nelfon Byby katanya Adel sudah menangis terus dia pasti lapar, tolong mengertilah !! Byby tau kamu sedih, tapi kamu juga harus mikirin anak-anak kita” jelas Zahran dengan lembut berharap istrinya dapat mengerti kondisi saat ini.


Zahran tau istrinya sangat merasa kehilangan, tapi dia juga tidak boleh lupa kalau saat ini ada anak-anak nya yang sedang membutuhkan dirinya, apalagi Adel menyusu dengan nya, pastinya anak itu sudah menangis ingin menyusu, karena Zenia sudah meninggalkan dirinya sejak pagi, walaupun Zenia sudah menyediakan stok Asi tapi tetap saja mereka butuh Zenia saat ini.


“Maaf by, Nia terlalu sedih di tinggalkan Zara, Nia gak bermaksud melupakan anak kita” ucap Zenia menunduk dia tak berani menatap suaminya.


“Tidak mengapa sayang, kalau begitu sayang pulang ya, nanti Zaidan yang akan menjemput” ucap Zahran lagi.


“Iya by”


“Iya by”


“Assalamualaikum”.


“Walaikum salam”.


Setelah mencium kening sang istri Zahran pergi menyusul ke pemakaman.


*


*


*


Kini pemakaman Zara sudah selesai, tapi Isak tangis di sana masih terdengar, di atas gundukan tanah yang masih merah dengan di taburi bunga yang masih segar, Gibran duduk sembari mengelus batu nisan yang kini tertulis indah nama “ZARA ANASTASYA” Gibran kembali menitikkan air mata.


“Kenapa secepat ini kamu pergi Ra, bahkan aku belum sempat meminta maaf padamu” ucap Gibran sembari menunduk, sesekali tangan nya menghapus air matanya.

__ADS_1


“Maafkan aku Ra, maaf karena aku pernah menyakiti kamu”


Zahran yang melihat Gibran menangis pun mendekat ke arah nya, dia menepuk pundak Gibran untuk memberikan kekuatan.


“Sabar Gib, mungkin Zara bukan jodohmu !!” ucap Zahran.


Gibran menoleh ke arah Zahran.


“Padahal aku ingin menikahi nya Mas, tapi kenapa dia malah pergi” Gibran kembali menitikkan air mata nya.


Zahran juga tak bisa membalas ucapan Gibran, dia tak tau harus berbuat apa, Zara telah pergi untuk selamanya.


“Harusnya Zara tidak usah menghalangi aku, biarkan aku yang mengalami tembakan itu” ucapan Zahran membuat semua orang menoleh ke arah nya kecuali Gibran, karena dia sudah tau kalau Zara tertembak karena menyelamatkan Zahran.


“Apa maksud kamu nak ??” tanya Abi kyai.


“Nanti Zahran jelaskan Abi” jawab Zahran, karena tidak mungkin Zahran menjelaskan semuanya di depan makam Zara.


“Ayo kita pulang, ini sudah sore nanti malam Abi akan menggelar pengajian untuk mendoakan Almarhum Zara” ajak Abi.


Semuanya mengangguk, mereka berdiri untuk segera pulang.


Tapi Gibran dia masih betah duduk di samping gundukan tanah merah itu, dia masih sangat berat untuk meninggalkan Zara sendiri.


“Ra, sekali lagi maafkan aku !!” hanya kata itu yang terus Gibran ulangi.


“Aku pulang dulu, nanti aku kesini lagi, bahagia ya di sana !!” akhirnya Gibran bangkit, meninggalkan Makam Zara, keluarganya sudah duluan pulang, Dengan langkah berat Gibran pun menyusul.


Kematian seseorang memang sangat menyakitkan apalagi orang itu adalah orang yang sangat kita sayangi, tapi kita di dunia ini pasti akan mengalami hal yang sama, tidak ada yang abadi di dunia ini maupun yang lain nya.


Gibran terus melangkah meninggalkan area pemakaman, sesekali dia menoleh menatap gundukan tanah yang masih baru itu.


*


*


*


**Like.... komen.... vote...


Besok Episode terakhir ya**...

__ADS_1


__ADS_2