
Zara menceritakan semua kehidupan nya kepada Zenia tak ada satupun yang ia tutupi, Zenia tercengang mendengarnya, begitupun dengan Gibran, bagaimana mungkin Zara bisa menjual dirinya kepada laki-laki hidung belang, sedangkan Zahran dia berulang kali beristighfar.
“Ya Allah Ra !! kenapa kamu sampai melakukan itu ??” air mata Zenia mengalir begitu deras nya.
“Ampuni aku kak !! maafkan semua kesalahan Zara !!” hanya itu yang keluar dari mulutnya, sama dengan Zenia dia juga menangis tak ada henti.
Kemudian dia beralih ke kakak iparnya yaitu Zahran.
“Mas Zahran apa Allah akan mengampuni Zara yang sudah kotor ini ??” tanya Zara.
“Ra dosa sebesar apapun pasti akan di ampuni oleh Allah SWT asalkan kamu benar-benar bertaubat, yaitu meninggalkan dosa karena takut pada Allâh, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya. ” jawab Zahran
“Tapi Zara takut Allah tidak akan menerima taubat ku Mas, Zara ini sudah sangat kotor begitu banyak dosa yang telah Zara perbuat hiks, hiks, hiks”. ucap Zara lagi, dia menunduk sembari mengingat semua kelakuan nya selama ini, menghalalkan berbagai cara supaya keinginan nya dapat tercapai.
“Ra kamu harus tau.
Allah lebih senang pada tobatnya seorang hamba yang bertobat melebihi senangnya orang haus yang menemukan air, atau orang mandul yang memiliki anak, atau senangnya orang yang kehilangan barang lalu menemukannya. Maka, barang siapa yang bertobat kepada Allah dengan tobat nasuha, Allah akan membuat lupa para malaikat yang menjaganya, anggota tubuhnya, serta bumi yang dipijaknya atas dosa dan kesalahan yang telah dia lakukan."
Dalam surat at-Tahrim ayat ke-8, Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat nasuha (taubat yang semurni-murninya)."
Lantas, apa yang dimaksud dengan tobat nasuha? Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan, tobat nasuha, yaitu tobat yang jujur, yang didasari atas tekad yang kuat, yang menghapus kejelekan-kejelekan di masa silam, yang menghimpun dan mengentaskan pelakunya dari kehinaan.
Dalam kitab Riyadh as-Shalihin dijelaskan, jika kemaksiatan itu menyangkut urusan seorang hamba dengan Allah saja, tidak ada hubungannya dengan hak manusia, tobatnya harus memenuhi tiga syarat. Pertama, hendaklah berhenti melakukan maksiat.
Kedua, menyesal karena telah melakukan kemaksiatan. Ketiga, berniat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selama-lamanya. Apabila tobatnya berkenaan dengan hubungan sesama manusia, tiga syarat tersebut ditambah satu lagi. Orang yang bertobat itu harus meminta kehalalan dari orang yang diambil hak-haknya atau dizalimi.
Rasulullah mengajarkan kita mengiringi keburukan dengan kebaikan, niscaya dengan kebaikan itu akan gugur tiap-tiap keburukan. Karena, seperti sabda Nabi dari Abdullah bin Umar, "Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba selama ruhnya belum sampai di kerongkongan." Manusia tak akan pernah bisa lepas dari cahaya Allah, segelap apa pun lakon hidupnya. Dalam bahasa Chairil Anwar, dia terlafaz, Tuhanku/di pintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling.
Zahran menjelaskan dengan sangat lembut, Baik Zara maupun Gibran menjadi sangat tenang.
“Bantu aku Kak Nia, Mas Zahran untuk memperbaiki semuanya !!” pinta Zara.
“Insya Allah, kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di pesantren, tinggal bersama Umi dan Abi mereka pasti akan senang hati menerima kamu” ujar Zahran.
“Iya Ra kakak akan sangat bahagia jika kamu mau” sahut Zenia.
Siapa sangkah Zara dengan semangat menyetujuinya.
“Aku mau kak, Mas, tapi apa tidak merepotkan ??” tanya Zara, dia merasa tidak enak.
__ADS_1
“Tidak Ra, kita ini adalah keluarga” jawab Zahran tersenyum.
Setelah lama berbincang, Zenia mengantar Zara ke kamar nya, begitupun dengan Zahran dia juga mengantar Gibran ke kamar Raja karena Gibran ingin tidur dengan Raja.
“Ini kamar nya Raja” ucap Zahran setelah membuka pintu kamar “silahkan istirahat dulu, nanti Abis sholat Dzuhur Raja pasti sudah pulang” sambung Zahran lagi.
“Terima kasih mas, maaf kalau merepotkan” ucap Gibran.
“Tidak Gib,kalau begitu saya tinggal dulu ya, Assalamualaikum” ucap Zahran.
“Walaikum salam” jawab Gibran.
Betapa terharu nya dia dengan perlakuan suami mantan istrinya, kalau laki-laki lain belum tentu dia mau menerima kehadiran Gibran yang notabe nya adalah mantan suami Zenia, tapi tidak dengan Zahran dia bahkan menerima Gibran dengan baik, memperlakukan Gibran layak nya keluarga.
“Kamu sangat beruntung mendapatkan suami seperti dia” gumam Gibran kemudian melangkah ke kamar mandi.
*
*
Sementara di jakarta, kedua orang tua Zenia langsung siap-siap untuk ke kota D karena mendapatkan kabar dari Zenia kalau saat ini Zara tinggal bersama nya.
“Sudah pa, Ayo !!” ajak Maya
Mereka berdua langsung keluar rumah, tapi tak lupa mereka menitipkan rumah kepada pembatu mereka.
*
*
Sedangkan kedua orang tua Gibran tampak sangat khawatir karena mendapatkan kabar dari Nara kalau Gibran di culik, Nara menemukan mobil Gibran di pinggir jalan, tas dan Hanphone nya masih berada di dalam mobil, memang handphone Gibran tinggal disana beruntung nya dompet nya masih melekat di saku celana nya.
“Gimana ini yah ?? ibu takut terjadi sesuatu dengan Gibran” ucap Desi khawatir.
Sama seperti Desi, kalau Hartono ayah Gibran juga sangat mengkhawatirkan kondisi anak nya, karena sampai sekarang belum ada kabar dari Nara.
“Kita tunggu sampai nanti malam bu !! kalau Gibran juga belum di temukan kita susulin kesana” ucap Hartono.
*
__ADS_1
*
Kembali ke kota D.
Tidak lama kemudian azan Dzuhur berkumandang, Zahran dan Zenia bergegas untuk bersiap malaksanakan sholat berjamaah.
Tapi saat baru memakai mukena nya terdengar suara ketokan pintu dari luar.
Tok, tok, tok.
Zahran segera membuka pintu, ternyata itu adalah Zara.
“Maaf mas boleh Zara ikut sholat ??” tanya Zara langsung, tapi dia menunduk tak berani menatap Zahran.
“Masya Allah, boleh dong !!” jawab nya kemudian beralih kepada Zenia “Sayang kita sholat di musholah kecil aja ya, Zara mau ikut sholat soalnya” pinta Zahran
“Baik By” jawab Zenia, dia sangat bahagia melihat adik nya mau sholat lagi.
Mereka menuju mushola kecil yang Zahran masuk, yaitu terletak di lantai bawah, memang itu sering di pakai kalau lagi ada keluarga menginap dan ingin melakukan sholat berjamaah, Zahran tak lupa memanggil Gibran juga.
Mereka semua sholat dengan Zahran yang menjadi imam,.Zara bukan tidak bisa sholat dia bisa sama seperti Zenia karena dari kecil Angga dan Maya sudah mengajarkan mereka berdua sholat dan mengaji, jadi Zara Sudah hapal dengan gerakan dan bacaan nya.
Setelah selesai Zahran memimpin doa, Zara sangat menghayati doa yang di bacakan Zahran.
Selesai sholat Zenia langsung mencium tangan suaminya, Saat Gibran ingin bersalaman juga dengan Zara langsung di tahan oleh Zahran.
“Bukan muhrim Gib” ujar Zahran karena memang Gibran dan Zara bukanlah pasangan suami istri.
“Hehe maaf mas” jawab Gibran malu.
*
*
**Like.
Komen.
Vote**.
__ADS_1