
"Sial! Wajar saja mereka tahu kalau aku di dalam mobilmu, ternyata dia yang sudah memberi tahunya! Dasar teman sialan! Berapa uang yang kau dapatkan hingga kau berani mengkhianati ku!" hardik Yuse sangat kesal, ia benar-benar murka.
Dandi tidak menjawabnya dan ia masih terduduk di aspal tersebut sambil menatap Yuse.
"He-he-he, akhirnya keluar kamu juga ya, ayo kita habisi dia, beraninya kau menyakiti perasaan Monika, jika kau tidak suka ya sudah, tidak perlu mengambil kalungnya, kau cowok atau tidak," ucap pria selingkuhan mantan pacar Yuse.
"Wajar saja aku ambil, dari awal itu memang milik ku, kalung itu berharga bagi ku dari pada wanita tukang selingkuh sepertinya, aku bela-belain uang kerja paruh waktu ku membelikan kalung yang ia inginkan, tapi dia malah berselingkuh dengan mu, kau dan si dia sama-sama nggak tau diri! Sungguh tidak pantas di sebut manusia, karena manusia punya hati, sedangkan kalian tidak," ucap Yuse meluapkan amarahnya.
"Kurang ajar! Beraninya kau memaki ku juga, mati saj aku sana!" teriak pria itu mengangkat tinjunya ingin meninju Yuse. Yuse sudah bersiap-siap untuk menerima tinjuan dari pria itu, akan tetapi Ferzo datang dan menahan tinju pria tersebut.
"Kau pikir dia sendirian ya, apa kalian melupakan ku?" tanya Ferzo tersenyum sinis. Ferzo pun memegang tinju pria itu dan memutarnya kebelakang.
"Aduh sakit-sakit!" teriak pria itu.
__ADS_1
"Kalau mau bertarung ayo ke lapangan sana," ajak Ferzo menunjuk sebuah lapangan yang tidak terlalu besar, tapi di sana juga termasuk ada semak-semaknya juga.
"Baiklah," ucap mereka setuju.
"Yuse, kamu tetap di sini dan selesaikan masalah kamu dan teman mu itu," ucap Ferzo.
"Tapi bagaimana dengan kamu?" tanya Yuse khawatir.
Mereka semua pun menuju lapangan yang agak semak itu. Teman-teman pria itu berdiri dan ingin melihat pertandingan seru.
"Kalian yakin mau one by one?" tanya Ferzo.
"Why not? ini adalah pertandingan seru, biarkan kami bermain dengan mu yang sok jago ini, hanya dengan diri sendiri saja kamu ingin melawan kami semua, kamu pikir diri kamu siapa," ucap pria itu.
__ADS_1
"Baiklah jika kalian ingin seperti ini, tenaga ku juga tidak akan terkuras banyak," ucap Ferzo.
Mereka pun mulai menyerang Ferzo satu persatu sambil memvideokan.
"Kau … kenapa melakukan ini?" tanya Yuse sangat sedih, teman masa kecilnya link malah menjadi musuh.
Dandi tetap diam dan tidak menjawabnya, ia menundukkan kepala, entah apa yang ia pikirkan, entah dia merasa bersalah atau tidak.
Syahila keluar dari mobil dan berdiri di samping Yuse.
"Kok ada ya, orang yang nggak tahu diri banget, merelakan persahabatan demi sesuatu, tidak tahu kau dapat apa dari mereka sampai mau mengkhianati sahabatmu sendiri," ucap Syahila menimbuhkan.
"Katakan ada apa? Jika kau diam seribu bahasa bagaimana aku bisa tahu kau punya masalah apa! Kau lihat Ferzo yang bukan siapa-siapa aku, sekarang dia sedang bertarung melawan mereka dan itu dengan dirinya sendiri, sempat jika dia terluka ini semua gara kamu! Sampai mati pun aku tidak akan memaafkan mu, dan … aku tidak ingin menganggap orang tua kamu seperti orang tua ku lagi yang seperti kita janjikan dulu," ucap Yuse dengan berat hati.
__ADS_1