
"Maaf Nona, Tuan di nyatakan korupsi uang negara," jawab pengawal itu.
Mama Yun terduduk lemas di lantai. Yun langsung menghampiri mamanya.
"Mama, mama baik-baik saja kan?" tanya Yun khawatir. Mama Yun hampir saja pingsan karena syok.
"Papa mu … Papa mu di mana?" tanya mamanya dengan suara lemas.
"Di mana Papa?" tanya Yun kepada pengawalnya.
"Tadi ada kabar jika Tuan di rumah sakit karena kakinya tertembak, sekarang mungkin sedang di obati," jawab pengawalnya.
Yun melihat mereka yang terus memeriksa rumahnya dan memeriksa kantor papanya dengan membawa banyak berkas dengan mata berkaca-kaca, rasanya kejadian ini sangat mendadak. Rasanya tidak percaya jika papanya melakukan ini karena selama ini papanya sangat baik dan perhatian.
Tidak mungkin papanya melakukan ini, tapi inilah kenyataannya yang ada di depan mata.
Yun memeluk mamanya dengan perasaan sedih yang menyayatkan hati.
__ADS_1
"Jadi bagaimana dengan suami saya? Apa dia akan di penjara?" tanya mama Yun kepada orang yang sedang bertugas memeriksa rumahnya.
"Jika dia terbukti bersalah maka dia tidak bisa lepas dari hukuman," ucap petugas itu.
Mendengar itu mama Yun menangis dan mendekatkan wajahnya ke dada Yun dengan sesenggukan.
"Yun … Yun … kenapa kita jadi seperti ini? Apa salah kita … apa benar kesalahan ini di buat oleh Papamu," ucap Mama Yun menangis tersedu-sedu.
'Apa benar yang di katakan Ferzo? Apa ini karma?' batin Yun.
Tak lama kemudian, Papa Yun sampai di rumah dengan kaki yang di perban dan menggunakan kursi roda.
"Papa … apa benar Papa melakukan ini? Kenapa jadi seperti ini Pa?" tanya mama Yun sambil menangis tersedu-sedu. Yun juga datang mendekat dan berlutut di samping kursi roda papanya.
"Ini … kita lihat saja nanti ya, doakan semoga Papa bisa lolos dalam ujian ini," ucap papanya bersedih hati.
"Tidak akan bisa meloloskan diri Yusen. Aku juga mendapat laporan dari pengawal mu yang lain jika kau menyekap beberapa orang," ucap petugas di sana.
__ADS_1
"Papa," ucap Yun melihat ke arah papanya dan Mama Yun kembali menangis.
"Pa! Apa lagi yang Papa lakukan? Demi apa semua ini? Apa maksudnya dengan menyekap orang? Apa yang sudah Papa lakukan!" teriak mama Yun sesenggukan.
"Pa, jangan bilang Papa menculik Syahila dan yang lain gara-gara Ferzo ya?" tebak Yun.
"Iya." angguk papanya mengakuinya.
"Kurang ajar memang dia, aku tidak akan membiarkannya," ucap Yun mengengam erat tangannya dan geram. Ia pun pergi keluar rumah.
"Yun! Mau ke mana Nak!" panggil mamanya. Akan tetapi ia tak peduli. Ia mengambil motor miliknya dari garasi dan melaju di jalanan.
"Kenapa! Kenapa hidup kami berubah dalam semalam saja?" tanya Yun dengan mata berkaca-kaca.
Setelah selesai mandi, Ferzo pun merebahkan tubuhnya di kasur.
"Kau kenapa belum tidur?" tanya Ferzo kepada Yuse yang duduk memperhatikan lukisan Desa di depannya.
__ADS_1
"Tidak tahu kenapa saat melihat lukisan ini dan aku merasa masuk ke dalamnya, apa yang spesial dari lukisan ini?" Yuse balik bertanya.
"Hm? Aku tidak pernah menyadari jika ada sesuatu dalam lukisan ini, karena aku tidak terlalu memperhatikannya. Coba aku lihat dan merasakan apa yang kau rasakan," ucap Ferzo berjalan mendekati lukisan itu dan memperhatikannya.